- Dilantik di Tengah Pasar, Bupati Egi Ingatkan Pejabat soal Realitas Pengabdian
- Siswa SMK PGRI 1 Semaka Tampilkan Tari Kreasi Adat Lampung di Musrenbang
- BPRS Diminta Tingkatkan Inovasi Program
- Laksanakan Musrenbang Hybrid, Bupati Tegaskan Akses Menuju Lokasi Pendidikan jadi Skala Perioritas
- Pemprov Lampung Tegaskan Jembatan Way Bungur akan Dibangun Ulang
- Hadiri Rakornas 2026, Bupati–Wakil Bupati Lambar Tegaskan Siap Jalankan Arahan Presiden
- Sekda Lampung Barat Tegaskan SPPG Harus Sajikan Makanan Layak Konsumsi
- Pemkab Lamteng Evaluasi Belanja Produk Dalam Negeri Tahun 2025
- Pemkab Bahas Kesepakatan PBJT Tenaga Listrik dengan PT PLN (Persero)
- Bupati dan Wakil Bupati Tanggamus Hadiri Rapat Koordinasi Nasional di Bogor
Wagub Jihan Nilai Lampung Berpotensi sebagai Kiblat Pengembangan Produk Halal Dunia

BANDARLAMPUNG, MFH,-- Wakil
Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menjadi keynote speaker pada acara Talkshow
Kawasan Industri Halal bertema “Akselerasi Kawasan Industri Halal: Mewujudkan
Lampung sebagai Pusat Produksi Halal Berkualitas”, yang digelar di Gedung
Pusiban, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Jumat (30/1/2026).
Dalam sambutannya, Jihan Nurlela
menyampaikan bahwa kesadaran masyarakat Muslim terhadap konsumsi produk halal
terus meningkat, seiring dengan besarnya populasi Muslim dunia yang mencapai
sekitar 2,1 miliar jiwa atau lebih dari 28 persen populasi global. Di Indonesia
sendiri, jumlah penduduk Muslim mencapai sekitar 250 juta jiwa atau sekitar 11
persen dari populasi Muslim dunia.
“Ini merupakan peluang besar bagi
Indonesia, termasuk Provinsi Lampung, untuk menjadi kiblat pengembangan produk
halal dunia,” ujarnya.
Baca Lainnya :
- Kunjungi Lampung, Komisi V DPR RI Tinjau Progres Kota Baru dan Rencana Transportasi Massal0
- Komisi V DPR RI Laksanakan Kunker Spesifik Peninjauan Jalan Tol dan Infrastruktur 0
- Ramah Tamah Ketua MA RI di Lampung, Gubernur Mirza Tegaskan Penguatan Kolaborasi Lembaga0
- Pemprov Lampung Perkuat Sinergi Bersama Dunia Usaha, Dorong Hilirisasi dan Ekonomi Inklusif0
- Polda Lampung Ungkap Pelaku Curanmor Beraksi di Delapan TKP0
Ia menjelaskan, Provinsi Lampung
memiliki karakteristik yang sangat potensial karena lebih dari 93 persen
penduduknya beragama Islam. Kondisi tersebut menjadikan Lampung bukan hanya
pasar yang besar, tetapi juga memiliki peluang besar untuk naik kelas sebagai
produsen utama industri halal nasional bahkan global.
“Pertanyaannya sederhana, apakah
kita ingin selamanya hanya menjadi pasar, atau naik kelas menjadi produsen
utama?” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini
industri halal di Indonesia masih didominasi oleh sektor makanan dan minuman.
Namun, hal tersebut justru menjadi pintu masuk terbesar dalam pengembangan
industri halal karena sektor pangan memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.
Lanjut, Wagub Jihan juga menyoroti
pentingnya sertifikasi halal sebagai salah satu kunci utama ekosistem halal.
“Sertifikasi halal bukan ancaman bagi UMKM, melainkan peluang besar untuk
meningkatkan daya saing dan kepercayaan pasar,” katanya.
Pemerintah Provinsi Lampung juga
menyambut baik kehadiran Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPJPH di Lampung sebagai
langkah strategis dalam mempercepat penguatan ekosistem halal di daerah.
Ia mengajak seluruh pemangku
kepentingan untuk mengubah pola pikir dari sekadar pasar besar menjadi produsen
besar, dari penonton menjadi pemain utama, dan dari pengikut menjadi penentu
arah.
“Jika fondasi ini kita bangun
bersama dengan serius dan berintegritas, insya Allah Lampung tidak hanya
dikenal sebagai lumbung pangan, tetapi juga sebagai pusat produksi halal
berkualitas yang membanggakan Indonesia di mata dunia,” pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala
Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) RI, Ahmad Haikal Hasan,
menyampaikan pandangan strategis mengenai peran halal sebagai mesin pertumbuhan
ekonomi nasional.
Haikal Hasan menegaskan bahwa halal
tidak boleh dipandang semata sebagai isu keagamaan, melainkan sebagai instrumen
ekonomi modern yang bersifat universal.
“Halal adalah growth economic
engine. Negara-negara besar yang hari ini menjadi produsen halal dunia tumbuh
karena mereka masuk ke industri halal lebih dulu,” tegasnya.
Haikal Hasan juga menyoroti kontribusi
industri halal terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan berbagai riset,
sektor halal berkontribusi sekitar 26 persen terhadap Produk Domestik Bruto
(PDB) Indonesia, mencakup makanan dan minuman, obat-obatan, kosmetik, barang
gunaan, hingga fesyen.
“Nilai ekonomi industri halal
sangat besar. Mulai dari pangan, farmasi, kosmetik, hingga tekstil dan fesyen,”
ujarnya.
Ia menekankan bahwa sertifikasi
halal harus dipandang sebagai sarana peningkatan kualitas, kebersihan,
kesehatan, dan kepercayaan konsumen, bukan sebagai beban bagi pelaku usaha,
khususnya UMKM.
“Halal itu bukan hanya soal
kepatuhan, tapi juga soal customer satisfaction dan customer loyalty. Halal
adalah simbol kebersihan, kualitas, dan kenyamanan,” jelasnya.
Haikal juga mengapresiasi komitmen
Pemerintah Provinsi Lampung dalam memperkuat ekosistem halal, termasuk dengan
hadirnya Unit Pelaksana Teknis BPJPH di daerah sebagai percepatan layanan
sertifikasi halal.
“Halal adalah peradaban modern dan
gaya hidup global. Kalau kita mau Indonesia berdaulat secara ekonomi, halal
harus menjadi bagian dari strategi utama pembangunan,” tegasnya. [MFH/Adpim]











3.jpg)