- Operasi Pasar Minyakita Digelar Serentak pada 15 Kabupaten/Kota di Lampung
- Pesawaran Tampilkan Produk Unggulan UP2K Dalam Kunjungan Kerja TP PKK Pusat di Lampung
- Bupati Pringsewu Audiensi dengan Ombudsman Lampung Bahas Pelayanan Publik
- Lamtim Canangkan Sensus Ekonomi 2026, Bupati Ela: Pertumbuhan Daerah Ada di Tangan Pelaku Usaha
- Rakor DWP Lamteng Tekankan Pelaksanaan Program Kerja dan E-Reporting
- TP PKK Provinsi Lampung Dorong Pemberdayaan Lansia dan Ketahanan Keluarga
- TP-PKK Lampung Utara Turut Berpartisipasi Dalam Bulan Bhakti Ikatan Bidan Indonesia
- TP-PKK Lampura Turut Perkuat Pengendalian Inflasi Serta Jaga Daya Beli Masyarakat
- Sampah Capai 127 Ton Per Hari, Bupati Parosil Jemput Dukungan ke Kementerian Lingkungan Hidup
- Wakil Bupati Pesisir Barat Buka Pelayanan KB Gratis Dalam Rangka HUT ke-75 IBI di Krui Selatan
Pemprov Lampung Dorong Desa jadi Motor Penggerak Pertumbuhan Ekonomi

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Pemerintah Provinsi
Lampung menegaskan arah pembangunan daerah lima tahun ke depan akan difokuskan
pada penguatan ekonomi desa, hilirisasi sektor pertanian, dan optimalisasi
program nasional agar manfaat ekonominya tidak hanya terpusat di perkotaan. Hal
itu disampaikan Gubernur Lampung melalui Kepala Dinas Komunikasi, Informatika,
dan Statistik Provinsi Lampung Ganjar Jationo dalam Sarasehan bertema
"Lampung Mau Dibawa ke Mana?" di Hotel Radisson Bandar Lampung, Senin
(11/5/2026).
"Concern Pak Gubernur dengan Desaku Maju
ini membuat program pusat tetap inline, tetapi nilai tambahnya harus bertahan
di wilayah kita, khususnya di desa. Uangnya jangan lari ke kota," ucap
Ganjar saat menyampaikan sambutan mewakili Gubernur Lampung.
Sarasehan tersebut digelar oleh Serikat Media
Siber Indonesia (SMSI), Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), dan Asosiasi
Media Siber Indonesia (AMSI) Lampung. Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber
dari unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga Satgas Makan Bergizi Gratis
(MBG) Provinsi Lampung untuk membahas arah pembangunan daerah periode
2025-2030.
Baca Lainnya :
- Pornas Korpri 2027, Peluang Dongkrak UMKM dan Pariwisata Lampung0
- Lampung Siap jadi Kekuatan Pangan Nasional, Gubernur Libatkan ISPI Perkuat Sektor Peternakan0
- Pemprov Lampung Perkuat SPMB, Wujudkan Pendidikan Inklusif dan Berkualitas0
- Pemprov Lampung Dukung Program Strategis Nasional0
- Polda Lampung Musnahkan Barang Bukti Narkoba dari Tujuh Kasus, Selamatkan 216 Ribu Jiwa0
Dalam paparannya, Ganjar mengatakan visi
pembangunan Lampung telah diselaraskan dengan arah pembangunan nasional menuju
Indonesia Emas 2045. Pemerintah provinsi, menurutnya, menempatkan sektor
pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan sebagai tulang punggung
pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut Ganjar, Lampung tidak memiliki sumber
daya tambang besar seperti sejumlah provinsi lain. Karena itu, strategi pembangunan
diarahkan pada peningkatan nilai tambah komoditas pertanian melalui program
hilirisasi.
Ia menyebutkan sejumlah indikator makro Lampung
menunjukkan tren positif. Tingkat kemiskinan berada di kisaran 9,66 persen pada
2025 atau sudah berada di bawah dua digit, sementara inflasi tetap terkendali
di rentang target pemerintah.
Selain itu, tingkat pengangguran terbuka di
Lampung juga masih berada di bawah rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi
Lampung tercatat mencapai 5,58 persen atau menjadi salah satu yang tertinggi di
Sumatera setelah Riau.
Meski demikian, Ganjar mengakui masih terdapat
pekerjaan rumah besar, terutama pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) dan penguatan nilai tukar petani. Pemerintah daerah, kata dia,
membutuhkan langkah jangka panjang untuk memperbaiki kualitas sumber daya
manusia.
Pemprov Lampung kemudian merumuskan tujuh
program unggulan daerah yang diselaraskan dengan program prioritas nasional.
Program tersebut antara lain dukungan terhadap MBG, penguatan Lampung sebagai
lumbung pangan nasional, pengembangan energi terbarukan, optimalisasi ekonomi
desa, pemerataan pendidikan, stabilisasi harga, dan peningkatan kemantapan
jalan.
Ganjar menjelaskan program Desaku Maju menjadi
instrumen utama Pemprov Lampung dalam memaksimalkan perputaran ekonomi di
tingkat desa. Program itu dirancang agar kebutuhan rantai pasok MBG dapat
dipenuhi langsung oleh petani, peternak, dan pelaku usaha lokal.
Menurut Ganjar, tantangan terbesar saat ini
bukan hanya produksi, tetapi skala ekonomi dan kontinuitas pasokan. Banyak
petani dan pelaku usaha kecil di desa belum memiliki Nomor Induk Berusaha
(NIB), sehingga belum mampu masuk ke sistem distribusi program nasional.
Ganjar juga menyoroti pentingnya pembangunan
infrastruktur ekonomi di sentra produksi pertanian. Salah satunya melalui
penyediaan fasilitas pengering gabah atau dryer di berbagai wilayah sentra
pertanian untuk memangkas biaya distribusi petani.
"Kalau dryer disediakan di berbagai sentra
komoditas, maka biaya produksi dan biaya angkut bisa ditekan. Margin keuntungan
bisa berputar di desa," ujarnya.
Selain sektor pertanian, Pemprov Lampung juga
mulai mendorong pengembangan energi baru terbarukan berbasis biomassa dan
bioetanol. Potensi limbah pertanian seperti daun tebu dan singkong dinilai
dapat menjadi sumber energi alternatif di masa depan.
Dalam forum yang sama, Kepala Bapenda Lampung
sekaligus Kepala Satgas MBG Provinsi Lampung Saipul memaparkan perkembangan
pelaksanaan program MBG di Lampung. Ia menyebut Lampung kini menjadi daerah
dengan capaian pembentukan dapur MBG tertinggi secara nasional.
Menurut Saipul, jumlah dapur MBG yang telah
beroperasi di Lampung mencapai lebih dari 1.150 unit dengan penerima manfaat
sekitar 2,3 juta orang. Ia mengatakan capaian tersebut merupakan hasil
percepatan yang dilakukan sejak awal 2025 atas arahan langsung Gubernur
Lampung.
Namun, Saipul mengakui masih terdapat sejumlah
persoalan di lapangan, mulai dari standar dapur, sertifikasi higiene sanitasi,
hingga kasus keracunan makanan. Hingga saat ini, sebanyak 84,6 persen dapur MBG
di Lampung disebut telah memenuhi persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi
(SLHS).
Ia menilai sebagian persoalan muncul akibat
distribusi makanan yang tidak sesuai standar operasional prosedur. Beberapa
kasus keracunan terjadi karena makanan melewati batas waktu distribusi atau
proses pengolahan yang tidak sesuai ketentuan.
Sementara itu, Asintel Kasdam II/Sriwijaya
Kolonel Inf Erwin Agung T Wiyono mengatakan TNI turut mendukung program
prioritas nasional melalui pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,
MBG, dan pembangunan jembatan di daerah.
Ia menyebut Lampung menjadi salah satu daerah
dengan progres pembangunan Koperasi Desa Merah Putih tercepat di luar Pulau
Jawa. TNI juga mendapat target pembangunan 30 jembatan perintis yang ditujukan
memperkuat konektivitas wilayah.
Di sisi lain, Polda Lampung menegaskan
pentingnya menjaga keamanan sebagai prasyarat pembangunan daerah. Kasubbid PID
Bidang Humas Polda Lampung Kompol Andri Yulianto mengatakan iklim investasi dan
aktivitas ekonomi hanya dapat berjalan baik apabila situasi keamanan tetap
kondusif.
Polda Lampung, kata Andri, juga memperkuat
patroli siber untuk menekan penyebaran hoaks dan menjaga ruang digital tetap
sehat. Menurut dia, media memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas
informasi publik sekaligus membangun optimisme masyarakat.
Ketua AMSI Lampung Hendri Setiadi dalam
kesempatan itu mengingatkan agar program MBG tidak hanya dipandang sebagai
program makan gratis semata, tetapi juga momentum membangun ekosistem ekonomi
lokal di Lampung. Ia menilai dana MBG yang sangat tinggi harus mampu
menggerakkan ekonomi masyarakat desa.
Sarasehan kemudian dilanjutkan dengan diskusi
panel yang melibatkan mahasiswa, tokoh adat, pegiat media, birokrasi, hingga
aktivis masyarakat sipil. Berbagai persoalan pembangunan daerah, mulai dari
pengelolaan MBG, keamanan, ekonomi desa, hingga pengawasan program pemerintah
dibahas secara terbuka. Diskusi dipandu oleh moderator Fajar Arifin,S.H (CEO
Media Senator.ID Grup)
Melalui forum tersebut, Pemprov Lampung berharap
sinergi pemerintah, aparat keamanan, media, dan masyarakat dapat memperkuat
arah pembangunan daerah. Pemerintah menilai penguatan ekonomi desa, hilirisasi
pertanian, dan optimalisasi program nasional akan menjadi kunci untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung secara lebih merata. [MFH/Dinas
Kominfotik Provinsi Lampung]











3.jpg)