- Polsek Limau Evakuasi dan Identifikasi Korban Tenggelam di Pantai Beringin Saka
- Polsek Wonosobo Tangkap 3 Penadah Motor Curian
- Polsek Cukuh Balak, Tagana dan Warga Padamkan Kebakaran 1 HA Lahan di Putih Doh
- Kapolres AKBP AH Hudi Arif Terima Kunjungan Kemenhaj Tanggamus
- Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Hilirisasi Kakao dan Kemandirian Petani Pesawaran
- Pemkab Lamtim dan IPB Perkuat Sinergi Tridarma Perguruan Tinggi untuk Pembangunan Daerah
- Wali Kota Metro Hadiri Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan
- Gubermur Lantik Satu Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama dan Dua Pejabat Fungsional
- Gubernur Lampung Dorong Hilirisasi Kakao dari Desa
- Kunjungan Kerja Danrem 043/Gatam di Kodim 0421/Lampung Selatan
Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Hilirisasi Kakao dan Kemandirian Petani Pesawaran

PESAWARAN, MFH,-- Penguatan hilirisasi kakao di
Kabupaten Pesawaran terus didorong melalui kolaborasi pemerintah, sektor
swasta, dan lembaga jasa keuangan untuk meningkatkan nilai tambah hasil
perkebunan sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan
pemberdayaan desa wisata, pelatihan, penyerahan bantuan alat pengering tenaga
surya (solar dryer), serta akselerasi pengembangan ekonomi daerah berbasis
komoditas kakao di Pekon Ampai, Kecamatan Marga Punduh, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan ini dihadiri Bupati Pesawaran Hj.
Nanda Indira B., S.E., M.M., Wakil Bupati Antonius Muhammad Ali, S.H., dan
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Kegiatan tersebut juga dirangkaikan
dengan agenda kunjungan Gubernur Lampung bersama para Tokoh Adat
Pekon Ampai yang dikenal ssbagai Desa Wisata Budaya.
Baca Lainnya :
- Gubernur Lampung Dorong Hilirisasi Kakao dari Desa 0
- Kejari dan Pemkab Pesawaran Perkuat Pencegahan Korupsi 0
- Desa Sukadadi Wakili Lampung Pada Penilaian Kampung Pancasila KASAD Award 20260
- Lomba Video Konten Literasi 2026 Dorong Kreativitas Generasi Muda Pesawaran0
- Pemkab Pesawaran Studi Komparasi ke Pemkab Gunung Kidul0
Pada kesempatan tersebut Gubernur Mirza
menyampaikan bahwa pengembangan kakao menjadi salah satu peluang strategis bagi
Pesawaran, mengingat potensi perkebunan yang dimiliki daerah ini. Namun,
peningkatan produksi perlu diiringi dengan penguatan proses pascapanen dan
pengolahan agar hasil perkebunan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah,
tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Salah satu tantangan yang dihadapi petani
adalah keterbatasan fasilitas pengeringan, terutama ketika masa panen
berlangsung pada musim hujan. Gubernur menyebut, kondisi ini kerap membuat
petani menjual kakao dalam keadaan basah karena tidak memiliki sarana
pengeringan yang memadai, sehingga harga jual yang diterima belum optimal.
Oleh karena itu, bantuan solar dryer dari
PT Permodalan Nasional Madani (PNM) ini dinilai menjadi salah satu solusi untuk
mengatasi persoalan tersebut. Teknologi pengering tenaga surya ini diharapkan
membantu petani menghasilkan kakao kering dengan kualitas yang lebih konsisten
sepanjang tahun.
Gubernur menjelaskan, harga kakao basah dalam
kondisi tertentu berada pada kisaran Rp20.000 hingga Rp30.000 per kilogram.
Setelah melalui proses pengeringan, harga kakao dapat mencapai sekitar Rp70.000
hingga Rp80.000 per kilogram. Perbedaan harga tersebut menunjukkan bahwa proses
pascapanen memiliki peran penting dalam meningkatkan nilai jual komoditas
kakao.
Menurut Gubernur, potensi tersebut perlu
dimanfaatkan melalui pengembangan industri pengolahan yang lebih dekat dengan
sentra produksi. Dengan begitu, masyarakat di daerah penghasil tidak hanya
berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam
proses penciptaan nilai tambah.
"Saya berharap Pekon Ampai dapat
berkembang menjadi pusat pengembangan sekaligus produksi solar dryer yang
dapat direplikasi dan didistribusikan ke sentra-sentra kakao lainnya di
sepanjang pesisir Lampung. Langkah ini diharapkan memperluas pemanfaatan
teknologi tepat guna sekaligus mendorong hilirisasi kakao dimulai dari tingkat
desa," kata Gubernur Mirza.
Sejalan dengan upaya tersebut, Bupati Pesawaran
Hj. Nanda Indira B., S.E., M.M., menyambut baik dukungan yang diberikan melalui
kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, bantuan solar dryer merupakan
bentuk nyata tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social
Responsibility/CSR) yang menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus membuka
peluang pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal.
“Ini merupakan momentum yang sangat luar biasa
bagi kita semua, khususnya bagi pergerakan ekonomi masyarakat di Kecamatan
Marga Punduh. Bantuan solar dryer ini merupakan wujud nyata tanggung
jawab sosial perusahaan yang langsung menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat
kita,” ujar Bupati Nanda.
Ia mengingatkan masyarakat dan pelaku UMKM
penerima manfaat agar menjaga serta merawat fasilitas tersebut secara
bersama-sama sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang dan memberikan
manfaat berkelanjutan bagi produktivitas usaha.
Bupati juga berharap bantuan ini menjadi
langkah awal bagi hadirnya dukungan produktif lainnya untuk mempercepat
kemandirian ekonomi masyarakat. Bupati menilai pembangunan daerah membutuhkan
keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga
masyarakat sebagai pelaku utama kegiatan ekonomi.
“Kami sangat menghargai komitmen Pemerintah
Provinsi Lampung yang terus berupaya mendekatkan masyarakat dengan pihak
perusahaan. Sinergi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat
seperti inilah yang menjadi kunci dalam memperkuat perekonomian daerah agar
masyarakat semakin mandiri dan sejahtera,” tambahnya.
Bantuan solar dryer dari PT PNM
disalurkan untuk mendukung pengembangan potensi kakao di tiga desa, yakni Desa
Sidodadi, Pekon Ampai, dan Desa Maja. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan
dapat membantu petani mengatasi kendala pengeringan, menjaga kualitas hasil
panen, serta membuka peluang pengembangan usaha pengolahan kakao di tingkat
lokal.
Dari sisi potensi komoditas, Pelaksana Harian
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung Ety Eliati menyampaikan
bahwa Kabupaten Pesawaran memiliki luas lahan kakao sekitar 25.000,8 hektare
dengan produksi sekitar 21.000 ton per tahun. Potensi tersebut perlu didukung
oleh ekosistem usaha yang terintegrasi, mulai dari kegiatan budidaya dan
pascapanen hingga pembiayaan, pengolahan, dan pemasaran.
OJK mendorong pengembangan kakao melalui
skema closed-loop, yaitu ekosistem usaha yang menghubungkan sektor hulu
dan hilir. Skema ini mencakup akses pembiayaan bagi petani, mitigasi risiko
melalui lembaga penjamin, kepastian pasar dan harga melalui pembeli atau offtaker serta
industri pengolahan, hingga pendampingan dari pemerintah daerah dan akademisi.
Dukungan pembiayaan juga disiapkan PT PNM.
Pemimpin Regional 1 PNM, Endang Nurjani, yang mewakili Direktur Utama PT PNM, menyampaikan
bahwa perusahaan akan merealisasikan pembiayaan sebesar Rp318 juta kepada 50
debitur pelaku usaha tani kakao.
Pembiayaan tersebut diharapkan dapat
meningkatkan kapasitas usaha sekaligus mendorong peningkatan pendapatan petani.
Di Provinsi Lampung, PNM tercatat memiliki sekitar 490.000 nasabah dengan
outstanding pembiayaan mencapai sekitar Rp2 triliun hingga September 2026.
Sementara itu, penyaluran pembiayaan sepanjang 2026 telah mencapai Rp2,04
triliun.
Khusus di Kabupaten Pesawaran, jumlah nasabah
PNM Mekaar tercatat sebanyak 29.383 orang dengan outstanding pembiayaan sekitar
Rp125,86 miliar. PNM juga didukung oleh 11 cabang, 148 pendamping, dan 1.940
kelompok nasabah di wilayah tersebut.
Melalui penguatan fasilitas
pascapanen, akses pembiayaan, dan kemitraan usaha, pengembangan kakao di
Pesawaran diharapkan mampu bergerak dari peningkatan produksi menuju pengolahan
yang memberikan nilai tambah lebih besar. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi
bagian dari upaya membangun ekosistem kakao yang lebih kuat, sehingga potensi
perkebunan daerah dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi petani, pelaku
UMKM, dan perekonomian masyarakat. [MFH/Diskominfotiksan]











