- Polsek Cukuh Balak, Tagana dan Warga Padamkan Kebakaran 1 HA Lahan di Putih Doh
- Kapolres AKBP AH Hudi Arif Terima Kunjungan Kemenhaj Tanggamus
- Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Hilirisasi Kakao dan Kemandirian Petani Pesawaran
- Pemkab Lamtim dan IPB Perkuat Sinergi Tridarma Perguruan Tinggi untuk Pembangunan Daerah
- Wali Kota Metro Hadiri Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan
- Gubermur Lantik Satu Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama dan Dua Pejabat Fungsional
- Gubernur Lampung Dorong Hilirisasi Kakao dari Desa
- Kunjungan Kerja Danrem 043/Gatam di Kodim 0421/Lampung Selatan
- Pemprov Lampung dan DPRD Perkuat Sinergi Awasi Distribusi BBM Bersubsidi
- Pemprov Lampung Dorong CSR Jadi Investasi Sosial dan Kekuatan Bersama Pembangunan
Gubernur Lampung Dorong Hilirisasi Kakao dari Desa
Solar Dryer Jadi Pengungkit Nilai Tambah Petani

PESAWARAN,MFH,-- Gubernur Lampung, Rahmat
Mirzani Djausal mendorong hilirisasi komoditas kakao dimulai dari tingkat desa
agar nilai tambah hasil perkebunan dapat dinikmati langsung oleh petani.
Menurut Gubernur, keterbatasan fasilitas pengering selama ini membuat petani
hanya dapat menjual kakao dengan harga tinggi pada musim kemarau.
"Strategi Provinsi Lampung ke depan adalah
mendesain struktur ekonomi agar pertumbuhannya inklusif, ikut memakmurkan dan
mengentaskan kemiskinan. Bagaimana caranya? Hilirisasi, nilai tambah harus
dilakukan dari sumber bahan baku, yaitu ada di desa-desa," ucap Gubernur
Mirza saat kegiatan pemberdayaan desa wisata melalui pelatihan, penyerahan
solar dryer, dan akselerasi pengembangan ekonomi daerah komoditas kakao di
Pekon Ampai, Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran, Kamis (8/10/2026).
Menurut Gubernur Mirza, solar dryer yang
diserahkan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi salah satu solusi untuk
mengatasi persoalan pengeringan kakao di tingkat petani. Teknologi tersebut
dinilai sederhana, tetapi dapat membuka kesempatan bagi petani untuk
menghasilkan kakao kering secara lebih konsisten sepanjang tahun.
Baca Lainnya :
- Kejari dan Pemkab Pesawaran Perkuat Pencegahan Korupsi 0
- Desa Sukadadi Wakili Lampung Pada Penilaian Kampung Pancasila KASAD Award 20260
- Lomba Video Konten Literasi 2026 Dorong Kreativitas Generasi Muda Pesawaran0
- Pemkab Pesawaran Studi Komparasi ke Pemkab Gunung Kidul0
- Bupati Terima Penghargaan Nasional Desa Sidodadi Sebagai Desa Cantik Terbaik 20260
Selama ini petani menghadapi persoalan ketika
panen berlangsung pada musim hujan. Kakao yang belum kering harus segera dijual
sehingga petani menerima harga lebih rendah karena tidak memiliki fasilitas
pengering yang memadai.
Gubernur Mirza menyebut harga kakao basah dalam
kondisi tertentu berada di kisaran Rp20.000-Rp30.000 per kilogram. Setelah
dikeringkan, harganya dapat meningkat menjadi sekitar Rp70.000-Rp80.000 per
kilogram, sehingga proses pengeringan menjadi titik penting dalam meningkatkan
pendapatan petani.
"Cokelat mahal kalau kering. Benar mahal
kalau jualnya sepanjang tahun bisa mahal. Tapi mereka hanya bisa jual tiga atau
empat bulan secara mahal," ujar Gubernur Mirza. Kondisi itu membuat
pendapatan petani sangat bergantung pada cuaca dan musim panen.
Pemprov Lampung, lanjut Gubernur, tengah
mendorong agar nilai tambah komoditas tidak berhenti pada penjualan bahan
mentah. Dari total komoditas Lampung yang menurut Gubernur bernilai sekitar
Rp150 triliun dalam struktur PDRB, baru sekitar Rp40 triliun yang mengalami
hilirisasi atau tidak lebih dari 30 persen.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan masih
besarnya ruang untuk memperkuat industri pengolahan berbasis komoditas lokal.
Selama ini, sebagian besar nilai tambah justru dinikmati industri berskala
besar, sementara bahan baku berasal dari desa-desa sentra produksi.
Karena itu, Gubernut Mirza berharap Pekon Ampai
tidak hanya menjadi tempat pengeringan kakao, tetapi juga dapat menjadi pusat
pengembangan dan produksi solar dryer. Alat tersebut diharapkan dapat ditiru,
dikembangkan, kemudian didistribusikan ke sentra-sentra kakao di sepanjang
pesisir Lampung.
"Yang saya harapkan nanti di Pekon Ampai
bukan hanya bisa suplai, bukan hanya bisa mengeringkan, tapi bisa mencontoh,
membuat pengering seperti ini, dan mendistribusikan, menjual
pengering-pengering solar dryer ini di sepanjang pesisir Lampung," kata
Gubernur Mirza.
Potensi kakao di wilayah tersebut cukup besar.
Dalam sambutannya, Gubernur Mirza menyebut produksi kakao Pesawaran termasuk
yang terbesar di Indonesia dan menjadi yang tertinggi di Lampung, khususnya di
wilayah pesisir.
Data yang disampaikan Pelaksana Harian Kepala
OJK Provinsi Lampung Eti Eliati memperkuat gambaran tersebut. Pesawaran disebut
memiliki luas lahan kakao sekitar 25.000,8 hektar dengan produksi sekitar
21.000 ton per tahun.
OJK mendorong pengembangan kakao melalui
ekosistem closed-loop yang menghubungkan sektor hulu dan hilir. Skema tersebut
mencakup akses pembiayaan petani, mitigasi risiko oleh lembaga penjamin,
kepastian pasar dan harga melalui offtaker serta industri pengolahan, hingga
pendampingan pemerintah daerah dan akademisi.
Dalam kegiatan tersebut, PNM juga akan
merealisasikan pembiayaan sebesar Rp318 juta kepada 50 debitur pelaku usaha
tani kakao. Pembiayaan itu diharapkan meningkatkan volume usaha sekaligus
pendapatan petani.
Selain bantuan solar dryer, penguatan ekonomi
masyarakat dilakukan melalui pengembangan UMKM berbasis kakao. Pada kegiatan
tersebut Gubernur meninjau sejumlah usaha UMKM milik warga dan mendorong agar
semakin banyak pelaku usaha lokal mampu meningkatkan skala bisnisnya.
Dari sisi pembiayaan ultra mikro, PNM
melaporkan telah memiliki sekitar 490.000 nasabah di Lampung. Hingga September
2026, outstanding pembiayaan mencapai sekitar Rp2 triliun, sedangkan penyaluran
sepanjang 2026 telah mencapai Rp2,04 triliun.
Khusus di Pesawaran, jumlah nasabah PNM Mekaar
tercatat 29.383 orang dengan outstanding sekitar Rp125,86 miliar. PNM juga
memiliki 11 cabang, 148 pendamping, dan 1.940 kelompok nasabah di wilayah
tersebut.
Gubernur juga mengaitkan pengembangan kakao
dengan penguatan Desa Wisata Budaya Pekon Ampai. Pekon tersebut merupakan salah
satu kawasan yang disebut sebagai Kampung Tua berdasarkan Peraturan Daerah
Kabupaten Pesawaran Nomor 6 Tahun 2019, sekaligus memiliki potensi agroforestri
kakao melalui perhutanan sosial.
Menurut Gubernur Mirza, posisi Pekon Ampai
strategis karena berada di antara sejumlah destinasi wisata seperti Gigi Hiu,
Kiluan, Pulau Wayang, Pahawang, Legundi, dan kawasan wisata lainnya. Karena
itu, ia meminta masyarakat bersama pemerintah daerah menyiapkan Pekon Ampai
sebagai tujuan wisata budaya sekaligus menjadi tuan rumah yang baik bagi
wisatawan.
"Pekon Ampai harus bisa memanfaatkan letak
yang strategis ini. Saya berharap kalau kita bisa memajukan budaya,
melestarikan budaya, membuat Pekon Ampai menjadi destinasi wisata budaya yang
baik, maka semua orang akan datang ke Pekon Ampai untuk melihat indahnya budaya
Lampung," ujar Gubernur.
Pemprov Lampung, Pemkab Pesawaran, PNM, BUMN,
dan pemangku kepentingan lainnya akan didorong berkolaborasi mengembangkan
Pekon Ampai sebagai kawasan wisata budaya sekaligus sentra ekonomi masyarakat.
Gubernur Mirza juga menyebut akses menuju kawasan tersebut telah diperbaiki
sebagai bagian dari dukungan terhadap pengembangan potensi wisata.
Bupati Pesawaran Nanda Indira Bastian menyambut
bantuan solar dryer tersebut sebagai bentuk kepedulian dunia usaha terhadap
masyarakat. Dari 10 desa yang diusulkan, bantuan diberikan kepada tiga desa,
yakni Sidodadi, Maja, dan Pekon Ampai.
Nanda meminta masyarakat dan pelaku UMKM
penerima manfaat memaksimalkan sekaligus merawat fasilitas tersebut secara
gotong royong. Dengan demikian, alat pengering dapat memiliki usia pakai
panjang dan terus mendukung produktivitas pengolahan hasil bumi.
Pengembangan kakao juga diarahkan untuk
meningkatkan kualitas hasil melalui pengolahan dan fermentasi. OJK menilai
peningkatan kapasitas petani, peremajaan tanaman, pencegahan alih fungsi hutan,
serta pengolahan dari biji mentah menjadi produk bernilai lebih tinggi menjadi
bagian penting dari hilirisasi kakao Pesawaran.
Dalam kesempatan itu, OJK juga mengingatkan
masyarakat agar berhati-hati dalam menggunakan produk jasa keuangan. Masyarakat
diminta menerapkan prinsip 'legal dan logis", yakni memastikan lembaga
jasa keuangan berizin dan diawasi OJK serta tidak mudah tergiur tawaran
keuntungan yang tidak masuk akal.
Selain penguatan ekonomi, kegiatan tersebut
dirangkai dengan pelestarian budaya Lampung. Gubernur mengunjungi Rumah Adat
Sai Batin Marga Punduh untuk mengikuti prosesi adat dan berdialog dengan tetua
adat, sekaligus menyerahkan penghargaan kepada Masyarakat Adat Marga Punduh
atas upaya perlindungan, pelestarian, pemanfaatan, dan pengembangan kebudayaan
di Provinsi Lampung. Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan Keputusan
Gubernur Lampung Nomor G/400.3.1/3524/V.01/HK/2026.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis itu juga
sejalan dengan kebijakan Hari Kamis Beradat di Lampung. Instruksi Gubernur
Lampung Nomor 4 Tahun 2025 memang mengatur penggunaan bahasa Lampung dan
pemakaian batik khas Lampung setiap Kamis sebagai bagian dari upaya pelestarian
bahasa dan budaya daerah.
Bagi Pemprov Lampung, pengembangan Pekon Ampai
tidak berhenti pada pemberian bantuan alat. Integrasi antara pengeringan kakao,
pembiayaan usaha, peningkatan kapasitas petani, pengembangan UMKM, pelestarian
budaya, dan pariwisata diharapkan membentuk ekosistem ekonomi desa yang mampu
menciptakan nilai tambah di daerah asalnya.
Dengan pengeringan yang
lebih baik, petani memiliki peluang menjual kakao berkualitas dengan harga
lebih tinggi dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada musim kemarau. Dalam
jangka lebih panjang, hilirisasi di tingkat desa diharapkan memperluas sumber
pendapatan masyarakat, membuka peluang usaha baru, memperkuat UMKM, serta
membuat pertumbuhan ekonomi Lampung semakin dirasakan langsung oleh masyarakat
di tingkat desa. [MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]










