- Polsek Limau Evakuasi dan Identifikasi Korban Tenggelam di Pantai Beringin Saka
- Polsek Wonosobo Tangkap 3 Penadah Motor Curian
- Polsek Cukuh Balak, Tagana dan Warga Padamkan Kebakaran 1 HA Lahan di Putih Doh
- Kapolres AKBP AH Hudi Arif Terima Kunjungan Kemenhaj Tanggamus
- Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Hilirisasi Kakao dan Kemandirian Petani Pesawaran
- Pemkab Lamtim dan IPB Perkuat Sinergi Tridarma Perguruan Tinggi untuk Pembangunan Daerah
- Wali Kota Metro Hadiri Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan
- Gubermur Lantik Satu Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama dan Dua Pejabat Fungsional
- Gubernur Lampung Dorong Hilirisasi Kakao dari Desa
- Kunjungan Kerja Danrem 043/Gatam di Kodim 0421/Lampung Selatan
Gubernur Paparkan Strategi Penguatan Ekonomi Masyarakat dan Ketahanan Pangan

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Gubernur Lampung Rahmat
Mirzani Djausal memaparkan strategi Pemerintah Provinsi Lampung dalam
memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus membangun ketahanan pangan berbasis
desa kepada peserta didik Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri
Dikreg ke-36 Tahun 2026.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Mirza dalam
Focus Group Discussion (FGD) bersama peserta didik Sespimti Polri dengan tema
“Kebijakan Daerah dalam Rangka Penguatan Ekonomi Masyarakat dan Sumber
Ketahanan Pangan di Provinsi Lampung” yang berlangsung di Ruang Rapat Utama,
Rabu (7/10/2026).
Dalam paparannya, Gubernur Mirza menjelaskan
bahwa sektor pertanian menjadi kekuatan utama perekonomian Lampung.
Baca Lainnya :
- Pemprov Lampung Kawal Percepatan Pengembangan PLTP Rajabasa0
- Inflasi Lampung Terendah di Sumatera, Gubernur Mirza Tegaskan Harga Dijaga0
- Pemprov Dorong Penguatan Kepemimpinan dan Keterwakilan Perempuan dalam Politik0
- Pemprov Lampung Lantik Dua Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama0
- Pemprov Lampung Gelar Nobar Final FIFA ASEAN Cup 20260
Dengan luas daratan sekitar 3,3 juta hektare,
sekitar 1,7 juta hektare dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan, sementara
sekitar 1 juta hektare merupakan kawasan hutan.
Ia menyebut sekitar 1,7 juta masyarakat Lampung
bekerja sebagai petani dan pekebun. Kondisi tersebut menjadikan sektor
pertanian sangat menentukan pergerakan ekonomi daerah.
“Kalau 60 persennya penduduk ini adalah petani,
maka yang paling menyebabkan naik-turunnya perekonomian suatu daerah kami ini
adalah pertanian sebenarnya,” ujarnya.
Gubernur Mirza menyampaikan bahwa Lampung
memiliki berbagai komoditas unggulan pangan, antara lain padi, jagung, ubi
kayu, nanas, dan pisang.
Produksi padi Lampung mencapai sekitar 3,2 juta
ton, jagung sekitar 1,7 juta ton, sementara ubi kayu menempatkan Lampung
sebagai daerah penghasil terbesar di Indonesia.
Namun, menurutnya, besaran produksi pangan
belum secara otomatis menjamin kesejahteraan petani dimana selama ini, sebagian
besar hasil pertanian masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai
tambah dan keuntungan lebih banyak dinikmati pada rantai pasok setelah petani.
“Pangan yang di Provinsi Lampung ini selama ini
belum bisa memakmurkan masyarakat Lampung. Petani kita selama ini menjual bahan
mentah. Yang kedua, daya tawar petani ini lemah,” jelasnya.
Karena itu, Pemprov Lampung mengembangkan
kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga
memperkuat hilirisasi dan ekosistem ekonomi di tingkat desa.
Gubernur Mirza menjelaskan bahwa arah kebijakan
tersebut diwujudkan melalui program Desaku Maju, yang menempatkan desa sebagai
pusat produksi sekaligus pengolahan pangan.
“Ketahanan pangan kita mulai dari desa, bukan
dari nation saja. Maka kami buat program namanya Desaku Maju,” katanya.
Melalui program tersebut, Pemprov Lampung
antara lain mengembangkan penyediaan Pupuk Hayati Cair (PHC) di desa.
Fasilitas tersebut memanfaatkan limbah sebagai
bahan baku dan ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus
menekan biaya produksi petani.
Pada 2025, program PHC telah dilaksanakan di
500 desa dan pada 2026 diperluas hingga 2.000 desa. Setiap fasilitas
ditargetkan mampu mendukung kebutuhan sekitar 400 hektare lahan pertanian.
Selain pupuk, Pemprov Lampung juga
mengembangkan penyediaan mesin bed dryer atau pengering hasil pertanian di
desa.
Kebijakan ini dilakukan untuk mengurangi biaya
logistik dan meningkatkan nilai jual komoditas yang selama ini dijual dalam
kondisi basah.
“Kita selalu menjual bahan mentahnya basah.
Padi dijual basah, jagung dijual basah, singkong dijual basah. Maka kami buat
program di setiap desa, di 400 desa mesin bed dryer. Keluar dari desa itu sudah
kering, harganya naik, lebih efisien,” ujarnya.
Penguatan ekonomi desa juga dilakukan melalui
pelatihan vokasi bagi pemuda usia produktif, penguatan BUMDes dan koperasi,
serta pengembangan mesin-mesin industri sederhana untuk mengolah hasil
pertanian menjadi produk bernilai tambah.
Gubernur Mirza mencontohkan komoditas padi yang
tidak lagi hanya dijual sebagai gabah, tetapi diolah menjadi beras di wilayah
produksi. Demikian pula jagung yang diarahkan untuk dapat diolah menjadi pakan
ternak di desa, sehingga tercipta ekosistem peternakan dan perikanan yang lebih
efisien.
“Intinya kami mempersiapkan desa kami bukan
hanya memproduksi pangan, tapi juga memproduksi barang jadi,” tegasnya.
Upaya tersebut juga diintegrasikan dengan
program pemerintah pusat, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Makan
Bergizi Gratis (MBG), Bulog, gapoktan, dan berbagai kelembagaan ekonomi
masyarakat.
Gubernur Mirza mencontohkan pemanfaatan KDMP
untuk memotong mata rantai perdagangan gabah. Gabah yang sebelumnya dikirim
keluar Lampung untuk diolah kemudian dibeli kembali dalam bentuk beras, kini
diarahkan untuk diserap koperasi dan dikirim ke penggilingan terdekat.
“Kalau KDMP ini bisa bekerja dengan masif di
Provinsi Lampung, maka kami tidak mengirim gabah lagi ke luar Lampung, kami
mengirim beras,” ujarnya.
Gubernur Mirz berpendapat bahwa pola tersebut
tidak hanya memberikan efisiensi harga, tetapi juga menjaga agar nilai tambah
komoditas tetap berada di Lampung dan manfaat ekonominya dapat dirasakan
petani.
Ia menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi
Lampung kini berada di atas rata-rata nasional dan menjadi yang tertinggi kedua
di Sumatera.
Ia juga memaparkan sejumlah indikator
peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat, di antaranya penjualan kendaraan yang
meningkat, khususnya kendaraan yang banyak digunakan di wilayah pertanian,
peningkatan pengiriman barang ke kabupaten dan desa, kenaikan penjualan semen
ritel, serta meningkatnya pembelian alat dan mesin pertanian.
Gubernur Mirza menegaskan bahaa penguatan
ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan memastikan ketersediaan produksi.
Masyarakat, khususnya petani sebagai produsen
pangan, juga harus memiliki akses terhadap pangan bergizi dengan harga yang
terjangkau.
Ia menyoroti pentingnya membangun ekosistem
pangan dari hulu hingga hilir di wilayah desa. Petani padi harus dapat
memperoleh beras dengan harga yang baik, petani jagung memperoleh pakan dengan
harga terjangkau, dan peternak dapat memperoleh pakan yang murah sehingga harga
protein hewani juga lebih terjangkau masyarakat.
“Ketika itu dijalankan, itulah namanya bagi
saya itu adalah ketahanan pangan,” katanya.
Untuk menjalankan kebijakan tersebut, Pemprov
Lampung mengedepankan kolaborasi dengan berbagai unsur, termasuk TNI, Polri,
kejaksaan, kementerian/lembaga, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
Gubernur menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut
antara lain terlihat dalam pengawalan produksi dan harga komoditas pangan.
Polri membantu penguatan sektor jagung, TNI mendukung sektor padi dan
hilirisasi, sementara berbagai UMKM juga dilibatkan dalam pengembangan
pengolahan hasil pertanian.
“Ini kolaborasi saya dengan Forkopimda
semuanya. Di sini kami sepakat dalam Forkopimda kita majukan pangan, konsepnya
seperti ini, kita jalan sama-sama,” ungkapnya.
Sementara itu, Pimpinan Rombongan Sespimti
Polri Brigjen Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto menyampaikan apresiasi atas
dukungan Pemerintah Provinsi Lampung terhadap pelaksanaan kegiatan Pendidikan
Kerja Dalam Negeri (PKDN) Sespimti Polri Dikreg ke-36 Tahun 2026.
Menurutnya, kegiatan PKDN memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk mengintegrasikan teori dan konsep yang diperoleh
selama pendidikan dengan kondisi nyata di lapangan, termasuk memahami
karakteristik wilayah dan merumuskan solusi berdasarkan fakta serta data.
Ia menyebut tema PKDN tahun ini sangat relevan
dengan tantangan pembangunan nasional, khususnya terkait kedaulatan pangan,
energi, dan pertumbuhan ekonomi yang produktif serta inklusif.
“Seorang pemimpin tingkat
tinggi dituntut tidak hanya mampu mengelola organisasi internal, tetapi juga
harus memiliki kemampuan membaca perubahan dengan strategis, membangun
kolaborasi lintas sektoral, serta mengambil keputusan yang memberikan dampak
positif bagi masyarakat,” pungkasnya. [MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]











