- APIK Dorong Transformasi Kakao Lampung Timur Berbasis Petani dan Kolaborasi
- Pertama di Indonesia, Lamtim Resmi Integrasikan MRC ke MPP
- Kota Metro Raih Juara I TPID Sumatera, Bukti Pengendalian Inflasi Berbasis Kerja Kolaboratif
- Program H2M KWT Seroja Rejomulyo Dorong Lingkungan Hijau, dan Ketahanan Pangan
- Plt I Komang Koheri Ikuti Apel Pembukaan Kemah Bakti Satya Linmas
- Plt. Bupati Hadiri Sosialisasi Survei Seismik 2D Gerbera Tingkat Kabupaten
- Wakil Bupati Pesisir Barat Hadiri HUT ke-35 Kabupaten Lampung Barat
- Bupati Dedi Irawan Gelar Doa Bersama Masyarakat
- Polsek Talang Padang Tindak Lanjuti Aduan Warga soal Dugaan Prostitusi di Sinar Petir
- Gubernur: Rasa Aman Jadi Fondasi Pembangunan, Satlinmas Diminta Perkuat Kesiapsiagaan
APIK Dorong Transformasi Kakao Lampung Timur Berbasis Petani dan Kolaborasi

SUKADANA, MFH,-- Penguatan sektor kakao di
Kabupaten Lampung Timur membutuhkan langkah bersama yang tidak hanya
berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga menyentuh kualitas,
pengolahan, kelembagaan, hingga akses pasar. Hal tersebut mengemuka dalam
Workshop Akselerasi Transformasi Kakao Lampung Timur Berbasis Petani dan
Kolaborasi Multi Pihak yang Inklusif, yang digelar Asosiasi Petani Kakao (APIK)
Lampung Timur, Senin (24/9/2026), di Aula Utama Pemerintah Daerah Kabupaten
Lampung Timur.
Workshop tersebut menjadi ruang bersama bagi
petani, pemerintah, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan untuk
mengidentifikasi persoalan di lapangan, bertukar pengalaman, sekaligus menyusun
langkah kolaboratif dalam membangun ekosistem kakao Lampung Timur yang lebih
kuat dan berkelanjutan.
Kegiatan yang berlangsung selama satu hari itu
diisi dengan diskusi dan penyusunan bentuk kolaborasi pengembangan kakao. Forum
diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi mampu melahirkan
langkah konkret mulai dari budidaya, peningkatan mutu, pascapanen, pengolahan,
hingga pemasaran dan pengembangan nilai tambah.
Baca Lainnya :
- Pertama di Indonesia, Lamtim Resmi Integrasikan MRC ke MPP0
- Bupati Ela Siti Nuryamah Hadiri Kerja Sama Replikasi Sistem Peta Pajak dan Pertanahan0
- Pemprov Lampung Dorong Keseimbangan Konservasi Gajah dan Aktivitas Masyarakat0
- Raperda Perubahan APBD 2026 Disetujui, Bupati Dorong Percepatan Program dan Pelayanan Publik0
- HUT ke-81 PMI, Azwar Hadi Ajak Masyarakat Perkuat Kepedulian dan Gerakan Kemanusiaan0
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lampung
Timur, Eko, dalam laporannya menyampaikan bahwa pengembangan kakao harus
berangkat dari kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi petani.
Menurutnya, tantangan sektor kakao tidak dapat
diselesaikan oleh satu pihak. Diperlukan keterlibatan pemerintah, petani, dunia
usaha, lembaga pendamping, serta pemangku kepentingan lainnya agar intervensi
yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Sementara itu, dalam sambutan Bupati Lampung
Timur Ela Siti Nuryamah yang disampaikan Asisten III, Saka, ditegaskan bahwa
pengembangan kakao di Lampung Timur masih menghadapi sejumlah tantangan.
“Produktivitas yang belum optimal, tanaman yang
sudah tua, serangan hama dan penyakit, keterbatasan penerapan praktik budidaya
yang baik, kelembagaan petani yang masih perlu diperkuat, serta keterbatasan
akses terhadap sarana produksi, pembiayaan dan pasar merupakan persoalan yang
harus kita hadapi secara bersama-sama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, transformasi kakao harus dipahami
sebagai proses perubahan yang terencana, menyeluruh, dan berkelanjutan. Karena
itu, pengembangan kakao tidak cukup hanya dengan meningkatkan luas maupun
produksi, tetapi harus dilakukan dari hulu hingga hilir.
Langkah tersebut antara lain melalui peremajaan
tanaman, penggunaan bahan tanam unggul dan bersertifikat, penerapan praktik
budidaya yang baik, pengendalian hama dan penyakit, peningkatan kapasitas
petani, perbaikan penanganan pascapanen, peningkatan mutu biji kakao, penguatan
kelembagaan, hingga perluasan akses pasar dan pengembangan produk bernilai
tambah.
“Seluruh mata rantai tersebut harus diperkuat
secara bersama-sama agar kakao Lampung Timur mampu berkembang secara
berkelanjutan,” lanjutnya.
Penguatan kelembagaan petani juga menjadi bagian
penting dalam transformasi tersebut. Kelompok tani diharapkan tidak hanya
menjadi wadah berkumpul, tetapi mampu berkembang menjadi kelembagaan ekonomi
yang dapat melakukan agregasi produksi, pengadaan sarana produksi, pengelolaan
hasil, pengolahan, pemasaran, hingga negosiasi dengan pembeli.
“Semua kekuatan tersebut harus dipertemukan.
Kita tidak ingin setiap pihak berjalan sendiri-sendiri. Kita ingin membangun
satu ekosistem kakao Lampung Timur yang saling terhubung,” ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Lampung Timur juga
menekankan agar workshop tersebut menghasilkan tindak lanjut yang jelas. Forum
ini diharapkan dapat memetakan persoalan secara lebih konkret, menentukan
prioritas intervensi yang terukur, sekaligus memperjelas pembagian peran
masing-masing pihak dalam pengembangan kakao.
Kakao dinilai memiliki potensi untuk menjadi
salah satu komoditas yang mendukung perekonomian masyarakat Lampung Timur.
Karena itu, pengembangannya diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi,
tetapi juga pada peningkatan kualitas dan nilai tambah sehingga manfaat ekonomi
yang diterima petani dapat semakin besar.
Melalui workshop yang diinisiasi APIK tersebut,
Pemkab Lampung Timur mengapresiasi terbentuknya ruang kolaborasi antara petani
dan berbagai pihak. Pemerintah daerah membuka ruang seluas-luasnya bagi
penguatan kemitraan dan kerja bersama dalam membangun ekosistem kakao yang
produktif, kuat, inklusif, dan berkelanjutan.
Dengan kolaborasi yang semakin terarah,
transformasi kakao diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih nyata bagi
petani, memperkuat rantai usaha dari hulu hingga hilir, serta ikut menggerakkan
perekonomian daerah Lampung Timur. [MFH/Komdigi]











