- Polsek Pulau Panggung Tangkap Pencuri Kopi di Jemuran Ulu Belu
- 50 Perahu Hias Meriahkan Launching Seafood Muara Indah
- Klarifikasi Video Beredar, Agus Munada Minta Publik Tak Terburu-buru Menghakimi
- Cegah Kejahatan Keuangan Digital, Pemkab Pesawaran Perkuat Literasi Keuangan Masyarakat
- Semarakkan HUT ke-81 RI, Pemkab Gelar Lomba Senam Lampung Timur Makmur
- Bupati Ela Siti Nuryamah Tinjau Saluran Irigasi di Desa Tegal Ombo
- SLB Insan Madani Metro Lepas Sembilan Peserta Didik, Dorong Lulusan Mandiri dan Berdaya
- Disporapar dan Ekraf Kota Metro Dorong Kalender Event 2027 untuk Dongkrak PAD
- Pemkab Lamteng Perkuat Pemahaman Hukum Camat dan Kepala Kampung
- Pemkab Lamteng Perkuat Penanganan Anak Tidak Sekolah melalui FGD Wajar 13 Tahun
Thomas Amirico: Kepala Sekolah Pun Ada yang Terpapar LGBT

Bandar
Lampung, MFH,-- Enam tokoh yang hadir adalah Dr. H. Firmansyah,
Habib Umar Asegaf, K.H. Ansori, S.P., K.H. Ahmad Sulaiman, H. Sukri Baihaki,
M.H., dan Khadafi, S.P., M.M. Mereka menyampaikan keresahan masyarakat atas
penyebaran perilaku LGBT yang dinilai semakin terbuka, khususnya di media
sosial.
“Kami datang membawa kegelisahan masyarakat. Wabah LGBT ini
sudah merambah ke lingkungan sekolah. Bukan hanya siswa, tapi juga guru,” ujar
K.H. Ahmad Sulaiman yang menjadi juru bicara dalam pertemuan tersebut.
Dr. H. Firmansyah menambahkan, grup-grup LGBT di media
sosial kini bahkan beranggotakan belasan ribu orang. Ia menekankan pentingnya
peran institusi pendidikan dalam melakukan mitigasi serta perlindungan terhadap
generasi muda.
Baca Lainnya :
- Grand Final Puteri Tionghoa Indonesia 2025 Singing Competition Sukses Digelar0
- Redaktur Eksecutif Media Faktual Hukum Resmi Rengkuh Gelar Doktor0
- Unila Selenggarakan Ujian Simanila Mandiri 20250
- SPMB Jalur Domisili 2025, SMPN 10 Bandar Lampung Prioritaskan Warga Terdekat0
- Kadisdikbud Ajak Guru Bandar Lampung Dukung Keberhasilan Pembelajaran0
“Ini bukan lagi isu yang tersembunyi. Dunia pendidikan harus
menjadi garda depan untuk membendung penyimpangan ini,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Thomas menyatakan dukungan atas
aspirasi para tokoh dan menegaskan sistem pendidikan Indonesia memiliki
landasan yang kuat dalam konstitusi.
“Konstitusi kita, UUD 1945, sudah jelas menyatakan tujuan
pendidikan adalah meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Segala
hal yang bertentangan dengan nilai itu harus dieliminasi,” tegasnya.
Thomas juga mengungkapkan pihaknya telah menerima sejumlah
laporan terkait penyebaran perilaku LGBT di lingkungan Aparatur Sipil Negara
(ASN), bahkan hingga di tingkat kepala sekolah.
“Saya tahu ada kepala sekolah yang terpapar,” ungkapnya.
Sebagai langkah konkret, Thomas berencana mengeluarkan surat
edaran kepada seluruh satuan pendidikan di bawah naungan Dinas Pendidikan
Provinsi Lampung. Surat itu akan memuat panduan mitigasi perilaku menyimpang
serta rencana edukasi kepada siswa mengenai bahaya LGBT.
“Kami akan bergerak secara terukur dan sesuai kewenangan.
Edukasi adalah kunci, dan peran sekolah sangat strategis,” tutupnya.
Pertemuan tersebut menjadi sinyal bahwa Dinas Pendidikan
Provinsi Lampung tak tinggal diam terhadap isu LGBT. Dukungan dari para tokoh
agama dan masyarakat dinilai penting untuk menjaga nilai-nilai moral dan budaya
sesuai jati diri bangsa. [MFH rils]











3.jpg)