- Kakanwil Kemenag Tekankan Penguatan Pelayanan Umat Saat Kunjungan ke KUA Gisting Tanggamus
- Petani Cabai Lamsel Keluhkan Biaya Produksi Melonjak, Harga Jual Justru Anjlok Saat Panen Raya
- PTPN I Polisikan Lansia 72 Tahun Kasus Pencurian Getah Karet
- Rekam Jejak Polwan Pertama jadi Kapolsek di Polres Tanggamus, dari Reskrim Hingga Humas
- SDN 1 Tekad Raih Juara 1 Tari Kreasi dan jadi Juara Umum FLS3N Kecamatan Pulau Panggung
- Kabidkeu dan Kabid Dokkes Polda Lampung Pimpin Apel Pamatwil Polres Tanggamus
- Diduga Lakukan Kekerasan Verbal terhadap Anak, Oknum Collector OTO Finance Resmi Dilaporkan
- Operasi Pasar Minyakita Digelar Serentak pada 15 Kabupaten/Kota di Lampung
- Pesawaran Tampilkan Produk Unggulan UP2K Dalam Kunjungan Kerja TP PKK Pusat di Lampung
- Bupati Pringsewu Audiensi dengan Ombudsman Lampung Bahas Pelayanan Publik
Petani Cabai Lamsel Keluhkan Biaya Produksi Melonjak, Harga Jual Justru Anjlok Saat Panen Raya

LAMPUNG SELATAN, MFH,-- Para petani cabai di
Kabupaten Lampung Selatan tengah menghadapi situasi yang sulit dan penuh
tekanan. Di satu sisi, biaya produksi pertanian membengkak tajam akibat
kenaikan harga sarana produksi, namun di sisi lain harga jual hasil panen di
tingkat petani justru sering kali merosot drastis, terutama saat musim panen
raya tiba.
Keluhan ini disampaikan langsung oleh
Suryanata, seorang petani cabai yang berdomisili di Dusun Sumbersari, Desa
Karangsari, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, Ia menjelaskan bahwa
lonjakan harga input pertanian membuat ongkos budidaya menjadi sangat mahal.
Menurut Suryanata, kenaikan harga terjadi di
hampir semua kebutuhan pokok. Plastik mulsa yang dulunya dibeli seharga
Rp600.000 per gulung, kini harganya melonjak hingga mencapai Rp1.000.000 per
gulung. Begitu juga dengan pupuk, yang semula di kisaran Rp700.000 per sak,
kini naik menjadi Rp900.000 per sak. Tidak ketinggalan harga obat-obatan
pertanian yang naik dari Rp200.000 menjadi Rp250.000 per botol.
Baca Lainnya :
- PTPN I Polisikan Lansia 72 Tahun Kasus Pencurian Getah Karet0
- Diduga Lakukan Kekerasan Verbal terhadap Anak, Oknum Collector OTO Finance Resmi Dilaporkan0
- Aktivis dan Pers Murka! Dugaan Penagihan Tak beretika Oknum Kolektor Oto Finance Diminta Diusut0
- Pemprov Lampung Perkuat Perlindungan Anak, TPPO jadi Perhatian Serius0
- Warga Tebar Ikan Lele di Jalan Rusak Rejomulyo–Bali Agung, Camat Palas Turun Beri Jawaban0
Kondisi ini memaksa banyak petani mengambil
langkah terpaksa, yaitu mengurangi takaran atau frekuensi penggunaan pupuk
serta obat-obatan. Hal ini dikhawatirkan akan berdampak buruk pada kualitas
maupun kuantitas hasil panen yang diperoleh nantinya.
Masalah semakin pelik ketika masa panen tiba.
Melimpahnya pasokan di pasar membuat harga cabai di tingkat petani sering kali
anjlok. Akibatnya, margin keuntungan petani menjadi sangat tipis, bahkan banyak
yang kesulitan sekadar untuk menutup modal produksi hingga berisiko mengalami
kerugian besar.
“Saat harga input naik terus, tapi saat panen
harga malah jatuh, kami yang jadi korban. Kadang hasil jual tidak cukup untuk
bayar modal beli pupuk dan obat,” ungkap Suryanata, Kamis, (14/5/2026).
Menyikapi hal ini, para petani sangat berharap
pemerintah daerah dan pihak terkait dapat turun tangan. Mereka meminta agar
harga sarana produksi dapat distabilkan dan diawasi, serta adanya jaminan atau
intervensi harga cabai di tingkat petani agar tetap menguntungkan dan layak
bagi para pelaku usaha tani saat masa panen berlangsung. [MFH/Sriw]










3.jpg)