- Bupati Saleh Asnawi Tegaskan Zona Integritas Harus Berdampak Nyata, Sekda Bacakan Pakta Integritas
- Gubernur Lampung Minta Penanganan Karhutla Dipercepat, Mitigasi Diperkuat hingga Desa
- Bupati Nanda Perkuat Kemitraan Kakao Pesawaran
- Bupati Buka Pembinaan dan Konsolidasi FKUB Kecamatan se-Kabupaten Pringsewu
- Wabup Pringsewu Harapkan HIMPAUDI Berperan Aktif Tingkatkan Kompetensi Pendidik PAUD
- Bupati Pringsewu Resmikan Jembatan Gantung Podosari - Sukoharjo IV
- Sekda Lampung Timur Lantik 90 ASN, Dorong Peningkatan Pelayanan Publik dan Inovasi Daerah
- Wakil Wali Kota Metro Tekankan Integritas Digital Keamanan Data dan Akurasi Kebijakan
- Perkuat Sinergi, Wakil Bupati Pesisir Barat Hadiri Pisah Sambut Kapolda Lampung
- Jelang MTQ Tingkat Lampung, Bupati Dedi Irawan Pacu Semangat Kafilah Pesisir Barat
Gubernur Lampung Minta Penanganan Karhutla Dipercepat, Mitigasi Diperkuat hingga Desa

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Gubernur Lampung Rahmat
Mirzani Djausal meminta seluruh unsur penanganan bencana mempercepat pemadaman
kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memperkuat mitigasi hingga tingkat
desa. Langkah ini penting untuk mencegah munculnya titik api baru, melindungi
keselamatan masyarakat, dan mengantisipasi kondisi cuaca kering yang
diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
"Penanganan bencana tidak akan bisa
dilakukan oleh pemerintah sendiri. Semangat kolaborasi itu harus kita dorong,
dengan koordinasi yang baik bersama TNI, Polri, relawan, serta masyarakat di
desa, kabupaten, kota, dan kecamatan," ucap Gubernur Mirza dalam konferensi
pers di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Senin
(19/10/2026).
Gubernur Mirza menekankan, penanganan karhutla
tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman setelah kebakaran terjadi.
Pemerintah daerah perlu memetakan wilayah yang berulang kali terdeteksi
memiliki titik panas (hotspot), kemudian meningkatkan sosialisasi dan
pencegahan pembakaran sampah maupun lahan selama kondisi cuaca masih kering.
Baca Lainnya :
- Wagub Jihan Lepas THLC Wakili Lampung di Kompetisi Paduan Suara Internasional0
- Udara Bandar Lampung Aman, Warga Diimbau Tetap Jaga Kesehatan dan Lingkungan0
- Pemprov Lampung Dorong Inovasi Kampus dan Penguatan UMKM0
- Wagub Jihan Dorong APINDO Perkuat Ekosistem Usaha dan Pemberdayaan UMKM di Lampung0
- Komoditas Unggulan Lampung Tampil di Panggung Global0
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi
menjelaskan, pemantauan titik panas dilakukan melalui citra satelit, aplikasi
Pusdalops, serta laporan masyarakat dan BPBD kabupaten/kota. Data satelit
diperbarui dua kali sehari, sekitar pukul 08.00 dan 20.00 WIB, dengan rata-rata
30–60 titik panas pada hasil pemantauan malam yang dirilis pagi hari dan 80–100
titik pada hasil pemantauan siang yang dirilis malam hari. Namun, titik panas
tidak selalu menunjukkan kebakaran karena dapat pula berasal dari suhu panas
atau aktivitas pembakaran terkendali.
Karena itu, Gubernur Mirza meminta data titik
panas tidak hanya digunakan untuk menemukan indikasi kebakaran, tetapi juga
sebagai dasar mitigasi. BPBD diminta menyusun pola persebaran titik panas dan
menyampaikan hasilnya kepada pemerintah kabupaten/kota agar kepala desa dapat
mengidentifikasi kebiasaan pembakaran di wilayah masing-masing. Pemerintah
daerah diharapkan meningkatkan sosialisasi dan mencegah aktivitas pembakaran
yang berpotensi memicu kebakaran selama musim kering.
Salah satu fokus penanganan adalah kebakaran di
kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, yang telah berlangsung
selama 24 hari sejak 25 September 2026. Hingga laporan penanganan 18 Oktober,
pemadaman dari darat telah menjangkau sekitar 192 hektare, sementara operasi
water bombing atau pengeboman air telah dilakukan sedikitnya 923 kali dengan
estimasi area yang terkena siraman sekitar 124 hektare.
Pemantauan menggunakan drone pada pukul 17.00
WIB sehari sebelumnya masih mengindikasikan sekitar 30 hektare area terbakar
atau berasap. Area tersebut tersebar di titik B sekitar 3 hektare, titik C
sekitar 13 hektare, dan titik D sekitar 14 hektare. Operasi darat dilakukan
oleh empat tim melalui pemantauan drone, pemadaman di Rawa Gelam dan titik B,
serta pembukaan jalur sekitar 6 kilometer menuju titik D.
Petugas menghadapi sejumlah kendala, antara
lain vegetasi yang rapat, keterbatasan peralatan dan logistik, serta jarak
sumber air dari Sungai Way Pegadungan ke titik api yang mencapai sekitar 1,5
kilometer. Untuk memperkuat operasi, BNPB memberikan dukungan peralatan
pemadaman yang direncanakan didistribusikan kepada sekitar 350 personel satgas
darat. Pemerintah Provinsi Lampung juga berharap adanya tambahan helikopter
untuk memperkuat pemadaman dari udara.
Selain pemadaman darat dan udara, BPBD Lampung
bersama BNPB dan BMKG sebelumnya melaksanakan operasi modifikasi cuaca pada
11–13 Oktober dengan tiga sorti penerbangan selama total 6 jam 16 menit dan
penggunaan 3.000 kilogram natrium klorida (NaCl) sebagai bahan semai. Operasi
modifikasi cuaca dihentikan pada 18 Oktober karena tidak ditemukan awan
potensial untuk penyemaian. Berdasarkan perkiraan BMKG yang disampaikan dalam
konferensi pers, kondisi cuaca diperkirakan masih sangat kering dan panas
sehingga kewaspadaan terhadap kebakaran perlu dipertahankan.
Pemerintah juga menangani kebakaran di sekitar
ruas gerbang tol Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, serta tempat pembuangan
sampah di sekitar kilometer 132B Tol Lampung Tengah, tepatnya di Bandar Jaya
Timur, Kecamatan Terbanggi Besar. Kebakaran di Menggala yang terjadi pada 16
Oktober telah terkendali pada malam hari dan dilanjutkan dengan pendinginan
untuk mencegah api menyala kembali. Sementara itu, kebakaran di lokasi
pembuangan sampah berdampak pada area sekitar 1,5 hektare, tanpa laporan korban
jiwa maupun bangunan terdampak.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela
mengoordinasikan dukungan personel dan armada pemadam dari sejumlah daerah
untuk menangani kebakaran di Lampung Tengah. Bantuan yang dikerahkan mencakup
dua unit mobil pemadam dari Bandar Lampung serta masing-masing satu unit dari
Metro, Lampung Selatan, dan Pesawaran, ditambah dukungan ekskavator. Penggunaan
ekskavator diperlukan untuk mengurai dan membolak-balik tumpukan sampah agar
api yang masih membara di bagian dalam dapat dipadamkan secara menyeluruh.
Dalam konferensi pers tersebut, Kepala Dinas
Lingkungan Hidup Provinsi Lampung Riski Sofyan melaporkan bahwa hasil
pengukuran kualitas udara di Bandar Lampung dan sekitarnya masih berada di
bawah ambang batas baku mutu udara berdasarkan tujuh parameter Indeks Standar
Pencemar Udara (ISPU) yang diperiksa. Berdasarkan pembaruan pukul 09.00 WIB
pada 19 Oktober 2026, kualitas udara dinyatakan masih dapat diterima untuk
kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan. Meski demikian, masyarakat tetap
diimbau menjaga lingkungan dan menerapkan langkah perlindungan kesehatan,
terutama bagi kelompok sensitif.
Terkait Gunung Anak Krakatau, Kepala BPBD
Provinsi Lampung Aswarodi melaporkan empat erupsi berdurasi pendek pada 18
Oktober 2026. Berdasarkan koordinasi dengan pos pengamatan dan relawan di Pulau
Sebesi serta Pulau Tejang, abu vulkanik dilaporkan belum mencapai pulau-pulau
terdekat dan kondisi gelombang masih normal. Pemerintah tetap melakukan
pemantauan perkembangan aktivitas gunung tersebut dan mengimbau masyarakat
mengikuti informasi serta rekomendasi resmi dari otoritas terkait.
Gubernur Mirza meminta seluruh unsur
pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat tetap siaga sampai musim hujan
tiba. Ia juga menekankan pentingnya penyampaian informasi bencana secara
berkala agar masyarakat memperoleh perkembangan yang akurat, sekaligus
memastikan setiap kejadian ditangani secepat mungkin dengan mengutamakan
keselamatan jiwa.
Melalui percepatan pemadaman, pemetaan titik
panas, patroli kawasan hutan, dan penguatan koordinasi lintas daerah,
Pemerintah Provinsi Lampung berharap kebakaran dapat dikendalikan lebih cepat
dan kejadian berulang dapat ditekan. Upaya tersebut diharapkan melindungi
masyarakat dari dampak kebakaran dan asap, menjaga keselamatan pengguna jalan,
serta mengurangi kerusakan lingkungan di Lampung. [MFH/Pemerintah Provinsi
Lampung]










