- Musrenbang 2026 jadi Momentum Perkuat Ekonomi Rakyat dan Pemerataan Pembangunan Lampung
- Inflasi Terkendali, Pemprov Lampung Perkuat Sinergi Pusat-Daerah dan Program Perumahan
- Babak Final UMKM Award Kategori Pemula 2026 Digelar, Ajang Lahirkan Wirausaha Muda Lampung Timur
- Wabup Lambar Hadiri Pengajian Akbar dan Zikir Manakib Pondok Pesantren Daruth Tholibin
- Muscab PKB Perkuat Konsolidasi Politik dan Sinergi Pembangunan Daerah
- Bupati Lampura Hadiri Rapat Koordinasi Pengelolaan Sampah di Kantor Gubernur
- Bupati Dedi Irawan Tutup Turnamen Pelita Jaya Cup Ke-XIV Tahun 2026 di Pesisir Barat
- Wagub Jihan Nurlela Pimpin Apel di RSUD Bandar Negara Husada
- Korve PKOR Way Halim Jadi Momentum Pembenahan Kawasan dan Ruang Publik
- Imausah Nakhodai LSM GMBI Distrik Lampung Utara
Musrenbang 2026 jadi Momentum Perkuat Ekonomi Rakyat dan Pemerataan Pembangunan Lampung

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Gubernur Lampung, Rahmat
Mirzani Djausal membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang)
Provinsi Lampung Tahun 2026 dalam rangka penyusunan RKPD Tahun 2027 di Balai
Keratun, Kantor Gubernur Lampung, Senin (13/4/2026).
Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong
sebagai simbol dimulainya forum perencanaan pembangunan daerah tersebut.
Kegiatan ini dihadiri perwakilan pemerintah pusat, forkopimda, serta kepala
daerah se-Lampung.
Dalam arahannya, Gubernur menegaskan bahwa
pembangunan Lampung harus bertumpu pada penguatan sektor pertanian sebagai
tulang punggung ekonomi daerah. Ia menyebut sebagian besar masyarakat Lampung
masih bergantung pada sektor tersebut.
Baca Lainnya :
- Inflasi Terkendali, Pemprov Lampung Perkuat Sinergi Pusat-Daerah dan Program Perumahan0
- Korve PKOR Way Halim Jadi Momentum Pembenahan Kawasan dan Ruang Publik0
- Kunker Komisi VI DPR RI di Lampung, Gubernur Tekankan Pemerataan Ekonomi Berbasis Digital0
- Birokrat Purnabakti Utama Provinsi Lampung Gelar Halal Bihalal 0
- Komunitas Biker dan Pemerintah Bersinergi, Gubernur Ungkap Penguatan Ekonomi Lampung0
"Sekitar sepertiga PDRB Lampung ditopang
sektor pertanian, dengan jutaan masyarakat menggantungkan hidup di
dalamnya," ujar Gubernur.
Ia menjelaskan, luas lahan pertanian di Lampung
mencapai sekitar 1,8 juta hektar dari total wilayah, dengan komoditas utama
seperti padi, jagung, dan singkong mendominasi produksi.
Namun, selama puluhan tahun, sistem ekonomi
pertanian dinilai belum berpihak kepada petani. Harga komoditas yang fluktuatif
serta rantai pasok yang panjang menyebabkan keuntungan petani relatif kecil.
Gubernur mencontohkan, sebelum adanya
intervensi kebijakan harga, pendapatan petani padi hanya berkisar Rp1,5 juta
hingga Rp1,8 juta per bulan.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas
jagung dan singkong yang menjadi andalan Lampung. Bahkan, petani singkong
sebelumnya hanya memperoleh pendapatan rata-rata sekitar Rp1 juta per bulan.
Situasi ini berdampak pada tingginya tingkat
kemiskinan di pedesaan serta rendahnya kemampuan fiskal daerah. Pendapatan asli
daerah (PAD) menjadi terbatas karena bergantung pada daya beli masyarakat.
Gubernur menyebut, rasio PAD di sejumlah daerah
bahkan hanya berkisar 3 hingga 10 persen dari APBD. Hal ini turut memengaruhi
kualitas pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur.
Menurut Gubernur, ketimpangan ekonomi antara
desa dan kota juga semakin terlihat, di mana sebagian besar uang berputar di
wilayah perkotaan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah
pusat melalui kebijakan harga komoditas dinilai telah memberikan dampak
signifikan. Harga gabah dan jagung kini dijaga pada level yang lebih
menguntungkan petani.
Gubernur mengungkapkan, kenaikan harga gabah
hingga Rp6.500 per kilogram mampu meningkatkan pendapatan petani padi menjadi
Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan.
Selain itu, ketersediaan pupuk yang lebih baik
turut mendorong peningkatan produksi pertanian hingga sekitar 14 persen.
Dampak positif tersebut terlihat dari
meningkatnya aktivitas ekonomi di daerah, termasuk penjualan kendaraan yang
naik hingga 20 persen dalam beberapa bulan terakhir.
Pemerintah Provinsi Lampung juga menyusun
berbagai program turunan untuk memperkuat kebijakan nasional tersebut. Salah
satunya melalui program pupuk organik cair di tingkat desa.
Program ini ditargetkan menjangkau seluruh desa
pada 2027, dengan harapan mampu meningkatkan produktivitas pertanian hingga 15
persen.
Selain itu, pemerintah juga mendorong
hilirisasi komoditas melalui penyediaan fasilitas pengering (dryer) di
desa-desa.
Gubernur menyebut, kebutuhan dryer di Lampung
mencapai sekitar 500 unit untuk mengurangi distribusi bahan mentah dan
meningkatkan nilai tambah di tingkat petani.
Dengan adanya fasilitas tersebut, komoditas
seperti jagung tidak lagi dijual dalam kondisi basah, sehingga harga jual dapat
meningkat signifikan.
Program ini juga diharapkan mampu menekan biaya
logistik serta mengurangi kerusakan infrastruktur akibat distribusi yang tidak
efisien.
Di sisi lain, pemerintah daerah turut
memperkuat pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan vokasi dan mobil
training unit di desa-desa.
Program tersebut bertujuan menciptakan tenaga
kerja terampil yang mampu mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai
tambah.
Pemerintah juga membuka peluang kerja luar
negeri melalui program vokasi migran, dengan target pengiriman ribuan tenaga
kerja ke Jepang dalam beberapa tahun ke depan.
Seluruh kebijakan ini dirancang untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi daerah hingga mencapai target 8 persen sesuai arah
pembangunan nasional.
Gubernur menegaskan bahwa peningkatan
kesejahteraan masyarakat desa menjadi kunci utama dalam memperkuat ekonomi
daerah secara berkelanjutan.
Melalui berbagai program tersebut, pemerintah
berharap terjadi peningkatan pendapatan masyarakat, pengurangan kemiskinan,
serta pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Lampung.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Bina
Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Restuardy Daud, menekankan
pentingnya peran Musrenbang sebagai forum strategis dalam menyelaraskan
kebijakan pusat dan daerah.
Ia menyatakan Musrenbang tidak hanya menjadi
agenda tahunan, tetapi juga momentum evaluasi capaian pembangunan dan penajaman
kebijakan tahun ketiga RPJMD.
Restuardy juga mengingatkan pemerintah daerah
untuk memastikan keterpaduan perencanaan dan pendanaan agar memberikan dampak
nyata bagi masyarakat.
Selain itu, ia menegaskan delapan klaster
prioritas nasional harus menjadi rujukan dalam penyusunan RKPD 2027.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri PPN/Bappenas
Kurniawan Ariadi menyoroti pentingnya akselerasi pertumbuhan ekonomi di tengah
tantangan global.
Ia menyebut target pertumbuhan ekonomi nasional
diarahkan mencapai 6,3 hingga 7,5 persen pada 2027 sebagai langkah menuju
target 8 persen pada 2029.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut harus
berkualitas dengan didukung peningkatan produktivitas, investasi, dan penguatan
industri.
Kurniawan juga menekankan pentingnya
sinkronisasi perencanaan pusat dan daerah agar mampu menjawab tantangan seperti
krisis pangan, energi, dan perubahan global.
Di sisi legislatif, Ketua DPRD Lampung Ahmad
Giri Akbar menyampaikan terdapat 483 usulan masyarakat yang dihimpun sebagai
pokok-pokok pikiran DPRD.
Ia mengapresiasi sinergi perencanaan antara
pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, namun menekankan perlunya pembahasan
lebih intensif untuk menggali potensi daerah.
Giri juga menyoroti pentingnya penyelesaian
proyek strategis nasional, khususnya terkait irigasi Bendungan Way Sekampung
dan Margatiga yang berdampak langsung pada produktivitas pertanian.
Menurutnya, persoalan irigasi masih menjadi
kendala utama yang menyebabkan ketimpangan produksi, seperti banjir di musim
hujan dan kekeringan saat kemarau.
Ia berharap pemerintah pusat melalui Bappenas
dapat memberi perhatian khusus terhadap penyelesaian infrastruktur tersebut.
Secara keseluruhan, Musrenbang ini menjadi
forum strategis untuk menyatukan arah pembangunan antara pusat, daerah, dan
legislatif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung.
Dengan sinergi tersebut, diharapkan kebijakan
yang dirumuskan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat ekonomi
desa, serta mendorong pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Lampung. [MFH/Dinas
Kominfotik Provinsi Lampung]










3.jpg)