- Panen Raya Lumbung Pangan Baznas Pesawaran Dorong Zakat Produktif dan Kemandirian Petani
- Bupati Resmikan Demplot Mangrove 2 Hektare di Muara Gading Mas
- Komisi IV DPR RI Kunjungi TN Way Kambas, Dorong Penguatan Konservasi dan Pencegahan Karhutla
- KPK RI Perkuat Pengawasan Pencegahan Korupsi di Kota Metro
- BPK Evaluasi Tata Kelola RSUD Ahmad Yani Metro
- Pemkab Lampung Tengah Tegaskan Kesiapan Dukung Pemeriksaan BPK RI
- Ketua Umum IKWT Lampung Tengah Pimpin Rakor
- Plt. Ketua TP PKK Hadiri Gerak Pangan TPID, Dukung Pengendalian Inflasi di Lampung Tengah
- Sekdaprov Marindo Lantik Pejabat Administrator dan Pengawas
- Kepala Kemenag Ajak Masyarakat Manfaatkan Gerai Kementerian Agama di MPP Bandar Lampung
Komisi IV DPR RI Kunjungi TN Way Kambas, Dorong Penguatan Konservasi dan Pencegahan Karhutla

LAMPUNG TIMUR, MFH,-- Pemerintah Kabupaten
Lampung Timur bersama Pemerintah Provinsi Lampung menerima kunjungan kerja
Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) ke Taman Nasional
Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Kamis (3/9/2026).
Kunjungan tersebut menjadi momentum penting
untuk memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat
keamanan, pengelola kawasan konservasi, serta masyarakat dalam menjaga
kelestarian Taman Nasional Way Kambas, sekaligus membahas penanganan kebakaran
hutan dan lahan (karhutla) serta mitigasi interaksi negatif manusia dengan
gajah Sumatera.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur
Lampung dr. Jihan Nurlela, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, Wakil Ketua
Tim Komisi IV DPR RI Dr. H. Abdul Kharis Almasyhari, Wakil Ketua Komisi IV DPR
RI Ir. Hanan A. Rozak, Direktur Jenderal KSDA Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko,
Direktur Konservasi Kawasan Sapto Aji Prabowo, Direktur Penindakan Pidana
Kehutanan Ditjen Gakkum Kehutanan Rudianto Saragih, Ketua Komite Gabungan
Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera di TNWK Brigjen TNI
Sriyanto, Plt. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung Dr. Drs. M. Sulpakar,
Kepala Balai TNWK MHD Zaidi, serta jajaran Komisi IV DPR RI dan pihak terkait
lainnya.
Baca Lainnya :
- Bupati Lampung Timur Lantik Lima Kepala Desa PAW0
- Setelah 27 Tahun, Aset Tanah Pemkab Lamtim Berhasil Diselamatkan dan Mulai Disertifikasi0
- Gubernur Dorong Pendamping PKH Pastikan Keluarga Miskin Mendapat Perlindungan Sosial0
- Pemprov Lampung dan TNI-Polri Perkuat Mitigasi TNWK, Lindungi Gajah dan Warga0
- Kadis Kominfo Tekankan Pentingnya Transformasi Digital di Pemkab Lamtim0
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Lampung Timur
Ela Siti Nuryamah menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat dan
Komisi IV DPR RI terhadap kondisi kawasan TN Way Kambas, khususnya dalam
penanganan karhutla yang terjadi beberapa waktu terakhir.
Menurut Ela, dalam sepuluh hari terakhir
Pemerintah Kabupaten Lampung Timur bersama Kementerian Kehutanan, Pemerintah
Provinsi Lampung, TNI, Polri dan berbagai unsur lainnya bergerak bersama
melakukan penanganan karhutla.
“Alhamdulillah, semuanya dapat tertangani. Ini
merupakan hasil kolaborasi bersama,” ujar Ela.
Ia menjelaskan, dalam penanganan karhutla
tersebut dibentuk satuan tugas dan posko bersama. Sekitar 312 personel
dikerahkan dan dibagi untuk melakukan penanganan di lapangan, melibatkan unsur
Brimob, Polres, Kodim, Batalyon, Satpol PP , BPBD, hingga Polisi Kehutanan.
Ela menegaskan, kolaborasi tersebut menjadi
bukti bahwa persoalan kawasan hutan di Lampung Timur membutuhkan sinergi lintas
sektor dan tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja.
“Lampung Timur sekitar 40 persen wilayahnya
merupakan kawasan hutan. Sekitar 30 persen berada di Taman Nasional Way Kambas
dan 10 persen merupakan kawasan perhutanan sosial. Karena itu, Kementerian
Kehutanan menjadi mitra strategis bagi Kabupaten Lampung Timur dalam
menyelesaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kawasan hutan,” katanya.
Bupati juga menyebut keberadaan TN Way Kambas
memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Sedikitnya terdapat 25
desa penyangga dengan sekitar 120 ribu jiwa yang berada di sekitar kawasan
TNWK.
Karena itu, Ela berharap keberadaan Taman
Nasional Way Kambas tidak hanya mampu menjaga kelestarian satwa dan ekosistem,
tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan
masyarakat.
“Kami berharap ke depan Taman Nasional Way
Kambas semakin membawa berkah bagi masyarakat Lampung Timur, terutama dalam
peningkatan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat,” harapnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Lampung dr. Jihan
Nurlela menyampaikan bahwa kebakaran hutan dan lahan merupakan persoalan yang
setiap tahun terjadi, namun pada tahun ini penanganannya mendapatkan perhatian
besar dari pemerintah pusat.
Menurut Jihan, dukungan tersebut tidak terlepas
dari perhatian Komisi IV DPR RI yang terus menyuarakan pentingnya perlindungan
kawasan konservasi dan satwa liar.
Ia mengungkapkan, dalam penanganan karhutla
sebelumnya, Lampung mendapatkan dukungan berupa akses water bombing hingga
sekitar 20 kali penerbangan, operasi modifikasi cuaca (OMC), serta
kesiapsiagaan helikopter water bombing apabila kembali dibutuhkan.
Jihan juga mengungkapkan sejumlah kendala yang
dihadapi dalam penanganan kebakaran di TNWK, terutama terkait akses kendaraan,
ketersediaan sumber air, serta sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran
yang masih terbatas.
Pada kebakaran yang terjadi 26 Agustus 2026,
tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD dan unsur terkait lainnya
dikerahkan. Berkat koordinasi dan komando yang cepat, titik api pertama dapat
dikendalikan dalam waktu sekitar satu hari.
Meski demikian, ia mengingatkan masih terdapat
kawasan gambut yang berpotensi menimbulkan kembali titik api. Karena itu, upaya
pencegahan dinilai jauh lebih penting dibandingkan penanganan setelah kebakaran
terjadi.
“Kami berharap kunjungan Komisi IV DPR RI hari
ini menjadi momentum untuk semakin memperkuat dukungan pemerintah pusat
terhadap program-program konservasi, khususnya yang ada di wilayah Lampung,”
kata Jihan.
Direktur Jenderal KSDA Prof. Dr. Satyawan
Pudyatmoko menjelaskan bahwa penanganan konflik manusia dengan gajah harus
dilakukan secara terpadu dan tidak hanya mengandalkan pembangunan pagar atau
barier.
Menurutnya, konservasi harus berjalan
beriringan dengan pengembangan ekowisata dan peningkatan ekonomi masyarakat di
sekitar kawasan.
“Mitigasi konflik manusia dengan gajah yang
terpadu sifatnya tidak hanya membangun barier saja, tetapi juga pengembangan ekowisata
dan pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan,” jelasnya.
Satyawan juga menyampaikan rencana pengembangan
pengelolaan TN Way Kambas menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Rencana tersebut
diharapkan dapat membuat pengelolaan kawasan semakin mandiri secara bertahap.
Ia mengatakan, dalam lima tahun ke depan
berbagai pembenahan akan dilakukan, termasuk pengelolaan gajah, pembangunan
kandang gajah jantan, serta penguatan sarana dan prasarana konservasi.
“Harapannya, lima tahun sejak sekarang sudah bisa
mandiri seperti Taman Nasional Rinjani dan Taman Nasional Komodo,” ujarnya.
Wakil Ketua Tim Komisi IV DPR RI Dr. H. Abdul
Kharis Almasyhari menilai pengelolaan Taman Nasional Way Kambas semakin baik,
termasuk pembangunan pagar untuk mendukung konservasi gajah.
Ia berharap pembangunan pagar tersebut dapat
segera diselesaikan sehingga mampu memperkuat perlindungan kawasan dan
mengurangi potensi konflik antara satwa dengan masyarakat.
“Kami sangat senang karena konservasi gajah di
Lampung ini akan menjadi semakin baik. Kami berharap masyarakat di sekitar
Taman Nasional Way Kambas mendukung program pemerintah untuk konservasi gajah,
harimau Sumatera dan badak Sumatera,” katanya.
Namun, Abdul Kharis menekankan bahwa pencegahan
kebakaran harus menjadi prioritas utama.
Menurutnya, ketika kebakaran sudah terjadi,
dampak kerusakan akan semakin besar dan penanganannya membutuhkan waktu serta
sumber daya yang tidak sedikit.
“Harapan yang paling bagus adalah mencegah
jangan sampai terjadi kebakaran,” tegasnya.
Ia juga menilai edukasi dan sosialisasi kepada
masyarakat sekitar kawasan menjadi bagian penting dalam mencegah karhutla.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi IV
DPR RI Ir. Hanan A. Rozak. Ia menekankan agar seluruh program di kawasan
konservasi tetap memperhatikan prinsip-prinsip perlindungan lingkungan dan
tidak mengubah bentang alam kawasan.
Hanan menilai pembangunan sarana pendukung
seperti sumur bor dapat menjadi salah satu alternatif dalam penyediaan sumber
air, selama pelaksanaannya tidak mengubah bentang alam kawasan konservasi.
Dalam paparannya, Kepala Balai TNWK MHD Zaidi
menyampaikan gambaran umum kondisi kawasan dan berbagai langkah yang telah
dilakukan dalam pengelolaan konservasi serta penanganan karhutla.
TN Way Kambas memiliki luas sekitar 125.621,30
hektare dan menjadi habitat penting bagi sejumlah mamalia besar Sumatera,
termasuk gajah Sumatera, harimau Sumatera dan badak Sumatera.
Berdasarkan data yang disampaikan, populasi
harimau Sumatera di kawasan TNWK diperkirakan sekitar 12 ekor. Sementara
populasi gajah liar diperkirakan berada pada kisaran 150–200 ekor, dengan
populasi gajah binaan sekitar 63 ekor.
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan
Interaksi Negatif Gajah Sumatera di TNWK Brigjen TNI Sriyanto menambahkan,
komite telah terlibat sejak awal dalam penguatan perlindungan kawasan dan
penanganan karhutla.
Tim juga mengoptimalkan pemantauan menggunakan
drone untuk mendeteksi titik-titik yang berpotensi mengalami kebakaran.
Selain penanganan kebakaran, perhatian juga
diberikan terhadap kebutuhan pakan gajah. Dukungan pakan telah diberikan
melalui berbagai pihak, termasuk bantuan dari unsur TNI dan pihak swasta.
Ke depan, Komite Gabungan juga menyiapkan
konsep “kantin gajah” dengan memanfaatkan lahan sekitar 60 hektare untuk
ditanami berbagai jenis tanaman pakan gajah. Dari kawasan tersebut, sekitar 10
hektare dinilai potensial untuk dikembangkan sebagai sumber pakan.
“Ini kami siapkan untuk menjadi kantin gajah,
sehingga kebutuhan pakan dapat lebih terjamin,” jelas Sriyanto.
Kunjungan kerja Komisi IV DPR RI tersebut
diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat dukungan pemerintah pusat
terhadap konservasi TN Way Kambas, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi
karhutla, serta memastikan keberadaan kawasan konservasi memberikan manfaat
bagi kelestarian satwa sekaligus kesejahteraan masyarakat di desa-desa
penyangga.
Dengan kolaborasi yang semakin kuat antara
pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, pengelola kawasan dan
masyarakat, TN Way Kambas diharapkan tidak hanya tetap menjadi benteng terakhir
bagi satwa langka Sumatera, tetapi juga menjadi sumber manfaat ekonomi yang
berkelanjutan bagi masyarakat Lampung Timur. [MFH/Komdigi Lampung Timur]











3.jpg)