- Ketika Krakatau Mengaum di Atas Kanvas: Seni Sebagai Penjaga Ingatan Bencana
- Bondo Nekad di Atas Kanvas: Petualangan Bambang Suroboyo Menangkap Jiwa Bencana
- Polsek Pulau Panggung Pastikan Evakuasi Truk Tronton di Leter S Talang Jawa Selesai
- Pemprov Lampung Sambut Rapimnas IPPNU
- Polsek Pulau Panggung Bantu Evakuasi Truk Tronton Diduga Rem Blong di Tanjakan Leter S
- Ketua DPRD Tinjau Penataan Pasar Gisting, Pemkab Terus Tertibkan Pedagang
- Pemprov Dorong Optimalisasi PAD dan Penertiban Retribusi Infrastruktur Telekomunikasi
- Agnesia Bulan Marindo Buka Wedding Fair 2026
- Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Tanggamus Gelar Bakti Sosial di Tempat Ibadah
- Buntut Kesenjangan Upah, Buruh PT. Oasis Wood Industri Sampaikan Aspirasi di DPRD Lamsel
Ketika Krakatau Mengaum di Atas Kanvas: Seni Sebagai Penjaga Ingatan Bencana

SELAT SUNDA — Di Selat Sunda, laut tidak selalu
berwarna biru.
Pada hari-hari tertentu dalam sejarah, ia
berubah menjadi lembaran hitam pekat yang menelan daratan, rumah-rumah, pohon
kelapa, perahu, dan manusia. Laut menjelma menjadi raksasa yang bangkit dari
tidur panjangnya. Dan di balik kemarahan itu, berdirilah sebuah gunung yang
namanya kemudian menggema hingga ke ujung dunia: Krakatau.
Pagi 27 Agustus 1883, langit Nusantara pecah.
Baca Lainnya :
- Bondo Nekad di Atas Kanvas: Petualangan Bambang Suroboyo Menangkap Jiwa Bencana0
- Polsek Pulau Panggung Pastikan Evakuasi Truk Tronton di Leter S Talang Jawa Selesai0
- Pemprov Lampung Sambut Rapimnas IPPNU0
- Polsek Pulau Panggung Bantu Evakuasi Truk Tronton Diduga Rem Blong di Tanjakan Leter S0
- Ketua DPRD Tinjau Penataan Pasar Gisting, Pemkab Terus Tertibkan Pedagang0
Dentuman yang lahir dari perut Krakatau bukan
sekadar suara letusan gunung api. Ia adalah teriakan bumi yang melampaui batas
pendengaran manusia. Para pelaut di Samudra Hindia terperanjat. Penduduk di
pesisir Banten dan Lampung berlarian tanpa tahu ke mana harus menyelamatkan
diri. Bahkan ribuan kilometer jauhnya, di Australia Barat, ledakan itu masih
terdengar seperti meriam raksasa yang ditembakkan dari ujung dunia.
Sejarah kemudian mencatatnya sebagai salah satu
suara paling keras yang pernah dihasilkan alam.
Namun, suara itu hanyalah awal dari kiamat
kecil.
Ketika sebagian tubuh Krakatau runtuh ke dalam
laut, air tersentak hebat. Laut yang semula tenang mendadak terangkat menjadi
dinding-dinding raksasa. Gelombang setinggi puluhan meter melesat menuju
daratan dengan kecepatan yang tak sempat dikejar oleh doa. Dalam hitungan
menit, kampung-kampung pesisir hilang dari peta. Anyer luluh lantak. Pelabuhan
dan mercusuar roboh seperti mainan anak-anak. Di pesisir Lampung,
keluarga-keluarga tercerai-berai oleh arus yang tak memberi kesempatan untuk
berpamitan.
Lebih dari 36.000 jiwa diperkirakan lenyap
dalam sekejap.
Tidak ada sirene. Tidak ada sistem peringatan
dini. Yang tersisa hanyalah kisah-kisah duka yang diwariskan dari satu generasi
ke generasi berikutnya, menjadi luka kolektif yang tak pernah benar-benar
kering.
Bahkan setelah ombak surut, kedahsyatan
Krakatau belum selesai. Abu vulkanik membumbung tinggi, memasuki stratosfer dan
menyebar ke seluruh penjuru bumi. Langit di London, New York, hingga Tokyo
berubah warna menjadi jingga kemerahan yang asing. Matahari tampak redup,
seolah enggan menyinari bumi yang baru saja berguncang. Suhu global menurun.
Gelombang tekanan dari letusan itu tercatat mengitari bumi berkali-kali, seolah
planet ini ikut bergetar, menyimpan ingatan tentang kemarahan sebuah gunung di
Nusantara.
Krakatau tidak hanya mengubah garis pantai.
Ia mengubah cara manusia memandang alam.
Ingatan yang Kembali pada 2018
Seratus tiga puluh lima tahun kemudian, alam
kembali mengingatkan manusia bahwa kisah itu belum berakhir.
Malam 22 Desember 2018. Banyak orang sedang
menikmati akhir pekan di pesisir Banten dan Lampung Selatan. Suasana santai,
tawa anak-anak, dan deburan ombak yang biasa. Namun, di kedalaman selat, Anak
Krakatau—gunung muda yang lahir dari reruntuhan letusan 1883—mengalami
longsoran besar di lereng selatannya.
Tidak ada gempa besar yang dirasakan di darat.
Tidak ada tanda-tanda yang bisa dibaca oleh
masyarakat awam.
Tiba-tiba, gelombang datang.
Restoran di tepi pantai tersapu. Hotel-hotel
porak-poranda. Kendaraan berguling diterjang air hitam yang dingin. Dalam gelap
malam, orang-orang berlarian mencari tempat tinggi, sementara laut mengambil
kembali ruang yang selama ini mereka huni dengan angkuh.
Sekali lagi, Selat Sunda membuktikan bahwa
gunung api dan laut adalah pasangan yang tidak pernah benar-benar terpisahkan.
Mereka menyimpan energi yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan tanpa permisi. Dan
manusia, betapapun modernnya teknologi yang ia miliki, tetap belajar untuk menjadi
makhluk yang kecil di hadapan keduanya.
Namun, tragedi memiliki cara yang unik untuk
bertahan hidup.
Ia tidak hanya tinggal dalam buku sejarah,
laporan geologi, atau arsip berita. Ia juga hidup di dalam seni. Karena ketika
kata-kata gagal menggambarkan horor, warna dan bentuk sering kali berhasil
menyentuh sisi paling dalam dari ingatan manusia.
Krakatau di Atas Kanvas
Di studio kerjanya, perupa Bambang Suroboyo
(SBY) memandangi kembali kisah yang pernah mengguncang dunia itu. Bukan melalui
angka-angka korban atau peta zona bahaya, melainkan melalui bahasa warna,
tekstur, dan sapuan kuas yang penuh tensi.
Bagi Bambang, Krakatau bukan sekadar objek
geografis atau fenomena vulkanologi.
Ia adalah simbol kekuatan alam yang mampu
mengingatkan manusia akan batas-batas dirinya. Bahwa di atas segala ambisi
pembangunan, alam tetap memegang kendali tertinggi.
Melalui karya bertajuk “Dahsyatnya Tsunami
Krakatau”, Bambang berusaha menghadirkan kembali momen ketika laut bangkit
menjadi raksasa. Ombak yang menjulang, langit yang membara, dan tubuh gunung
yang memuntahkan energi bumi tampil bukan hanya sebagai pemandangan estetis,
melainkan sebagai pengalaman batin yang mencekam.
Di atas kanvas, sejarah tidak dibaca.
Ia dirasakan.
Karya itu lahir dari sebuah gagasan artistik
yang disebut Bambang sebagai Realis Ekspresif Avonturisme. Sebuah pendekatan
yang memadukan ketepatan bentuk ala realisme—agar penonton tetap mengenali
objeknya—dengan keberanian ekspresi warna serta semangat penggambaran
peristiwa-peristiwa agung yang mengguncang peradaban.
Gunung tetap tampak sebagai gunung.
Laut tetap tampak sebagai laut.
Namun, warna-warna yang menyala merah dan
jingga, kontras gelap-terang yang dramatis, dan goresan kuas yang penuh tenaga
membuat semuanya seperti bergerak, keluar dari bingkai, menerjang mata
penonton.
Penonton tidak hanya melihat tsunami.
Mereka seperti mendengar gemuruh ombaknya yang
memecah gendang telinga.
Tidak hanya menyaksikan letusan.
Mereka seolah merasakan getaran tanah yang
terbelah di bawah telapak kaki mereka.
Dalam pandangan Bambang, seni bukanlah sekadar
upaya menyalin kenyataan secara mekanis. Seni adalah usaha menangkap “jiwa”
dari sebuah peristiwa. Karena sering kali, yang paling penting dari sejarah
bukanlah fakta apa yang terjadi, melainkan apa yang dirasakan manusia ketika
menghadapinya: ketakutan, ketidakberdayaan, dan kekaguman yang bercampur aduk.
Di situlah kanvas menjadi ruang perjumpaan
antara fakta dan emosi.
Antara geologi dan kemanusiaan.
Antara bencana dan perenungan.
Menjaga Api Ingatan
Krakatau telah meledak, runtuh, dan melahirkan
dirinya kembali. Siklus ini mungkin akan terus berulang selama bumi masih panas
di dalamnya. Ia mengajarkan bahwa alam memiliki cara sendiri untuk berbicara.
Kadang melalui dentuman yang terdengar hingga ribuan kilometer. Kadang melalui
gelombang yang melintasi samudra. Kadang pula melalui karya seni yang
mengabadikan ingatan kolektif manusia agar tidak pudar dimakan waktu.
Dan ketika sejarah perlahan memudar dari
ingatan publik, ketika generasi baru mungkin lupa betapa rapuhnya mereka di
depan alam, para seniman seperti Bambang Suroboyo berusaha menjaga nyalanya
tetap hidup.
Sebab beberapa peristiwa terlalu besar untuk
sekadar dicatat dalam angka.
Mereka harus dilihat.
Dirasakan.
Dan dikenang.
Melalui kanvas, Krakatau kembali mengaum. Bukan
untuk menakuti, tetapi untuk mengingatkan: bahwa kita hanyalah tamu di bumi
ini, dan tuan rumahnya bisa bangun kapan saja. [MFH/Christian Saputro]











3.jpg)