- Krakatau Run 2026 Perkuat Sport Tourism, Festival Krakatau XXXV Makin Semarak
- Gubernur Dorong Teknologi Tepat Guna untuk Percepat Hilirisasi Komoditas Lampung
- Pemkot Metro Bergerak Pulihkan Petani Terdampak Banjir
- PDU Rejomulyo Mulai Perkuat Sistem Pemilahan Sampah
- Semarakkan HUT ke-65 Pramuka, Wabup Hadiri Perkemahan LT-II Kwarran Pesisir Utara
- Tim Penyuluh Cegah Karhutla Mabes TNI Kunjungi Polres, Perkuat Pencegahan Kebakaran di Tanggamus
- Pemprov Lampung Raih Anugerah Pembangunan Terpuji
- Festival Krakatau 2026 Hadirkan Coffee Expo dan Cup Taster Competition
- Senam Oke Gas Gelar Berbagai Perlombaan Meriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI
- Kadis Koperindag Tanggamus Soroti Pengelolaan Pasar Pagi
Gubernur Dorong Teknologi Tepat Guna untuk Percepat Hilirisasi Komoditas Lampung

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Gubernur Lampung, Rahmat
Mirzani Djausal mendorong penguatan riset dan inovasi sains terapan yang mampu
menjawab kebutuhan masyarakat serta mempercepat hilirisasi komoditas berbasis
desa.
Hal tersebut disampaikan Gubernur saat
memberikan opening speech pada Seminar Nasional IPTEK Terapan (SIPTEKTERA)
dengan tema 'Sinergi Inovasi Sains Terapan dan Transformasi Digital dalam
Akselerasi Sustainable Development Goals (SDGs)' yang berlangsung di Gedung
Serba Guna Politeknik Negeri Lampung, Sabtu (29/08/2026).
Gubernur menilai tema SIPTEKTERA sangat relevan
dengan arah pembangunan Lampung saat ini. Menurutnya, tantangan pembangunan ke
depan bukan sekadar menghasilkan pengetahuan, melainkan memastikan pengetahuan,
penemuan, dan teknologi dapat diterapkan menjadi solusi nyata bagi persoalan
masyarakat.
Baca Lainnya :
- Pemprov Lampung Raih Anugerah Pembangunan Terpuji0
- Festival Krakatau 2026 Hadirkan Coffee Expo dan Cup Taster Competition0
- Gubernur Tegaskan Penguatan Satlinmas sebagai Pilar Keamanan dan Perlindungan Masyarakat Lampung0
- Wulan Mirza Ajak Masyarakat Lestarikan Seruit sebagai Warisan Kuliner Lampung0
- Pemprov Perkuat Biro Perekonomian, Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi Inklusif dan Inovatif0
"Kita tidak hanya bicara bagaimana
menghasilkan pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan dan penemuan itu harus
bisa menjadi solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat," ujar
Gubernur.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur memaparkan
besarnya potensi sumber daya pangan yang dimiliki Provinsi Lampung. Dengan luas
daratan sekitar 3,3 juta hektare dan jumlah penduduk sekitar 9,6 juta jiwa,
Lampung memiliki basis ekonomi yang kuat pada sektor pertanian, perkebunan,
peternakan, dan perikanan.
Lampung merupakan salah satu sentra pangan
utama nasional. Produksi padi Lampung mencapai sekitar 3,5 juta ton per tahun.
Selain itu, Lampung juga memiliki komoditas unggulan seperti jagung, singkong,
nanas, pisang, kopi, lada, tebu, kakao, kelapa sawit, karet, serta berbagai
komoditas peternakan dan perikanan.
"Kekayaan Provinsi Lampung ini murni
adalah pangan. Kita punya sekitar 1,7 juta petani. Artinya, ketika harga
komoditas bagus, petaninya akan makmur. Tetapi kalau harga komoditas rendah,
kita sangat bergantung pada harga komoditas," jelasnya.
Menurut Gubernur, pertumbuhan ekonomi Lampung
dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan perkembangan positif, salah satunya
didorong membaiknya harga sejumlah komoditas pertanian. Namun, kondisi tersebut
tidak boleh membuat Lampung hanya bergantung pada kenaikan harga komoditas.
Ia menegaskan, momentum pertumbuhan ekonomi
harus dimanfaatkan untuk memperkuat produktivitas dan daya saing, sehingga
pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada harga komoditas.
"Pertumbuhan ekonomi yang sekarang ini
tidak kita pakai untuk menaikkan harga lagi, tetapi menjadi waktu bagi kita
untuk memperkuat daya saing," katanya.
Gubernur menjelaskan, salah satu tantangan
utama yang harus dijawab adalah masih terbatasnya hilirisasi komoditas pangan.
Sebagian besar komoditas Lampung masih keluar dalam bentuk bahan mentah
sehingga nilai tambah dan peluang penciptaan lapangan kerja belum sepenuhnya
dinikmati masyarakat di daerah.
Ia menyebutkan, komoditas seperti kopi,
misalnya, sebagian besar masih diekspor dalam bentuk green bean. Begitu pula
sejumlah komoditas lainnya yang masih dikirim ke luar daerah untuk diproses
lebih lanjut.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung
mendorong model hilirisasi yang tidak hanya berbasis industri berskala besar,
tetapi juga dikembangkan secara inklusif hingga tingkat desa.
"Kita mendorong hilirisasi, tetapi
hilirisasinya harus sesuai dengan struktur dan sumber daya yang kita miliki. Ke
depan, yang belum dihilirisasi ini harus kita desain agar inklusif dan mampu
menyerap tenaga kerja," tegasnya.
Gubernur menilai hilirisasi berbasis industri
besar memiliki keterbatasan dalam penyerapan tenaga kerja karena semakin
modernnya teknologi industri. Di sisi lain, Lampung setiap tahun menghadapi
tantangan tingginya jumlah lulusan SMA, SMK, perguruan tinggi, dan vokasi yang
membutuhkan lapangan pekerjaan.
Oleh sebab itu, pengembangan ekonomi berbasis
desa dinilai menjadi salah satu solusi untuk menciptakan lapangan kerja
sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Salah satu langkah yang disiapkan Pemerintah
Provinsi Lampung adalah pembangunan fasilitas pengering (dryer) komoditas di
desa.
Menurut Gubernur, keberadaan dryer di desa akan
membuat komoditas tidak lagi seluruhnya dijual dalam kondisi mentah. Setelah
proses pengeringan, komoditas dapat dilanjutkan ke tahapan pengolahan lain,
termasuk produksi pakan ternak.
"Setelah dibuat dryer, kita kasih pencetak
pakan. Akhirnya desa bisa membuat pakan ayam dan kemudian mengembangkan
peternakan ayam. Jadi yang tadinya di desa hanya ada komoditas mentah, ke depan
ada beras, pakan, ayam, ikan, telur, dan produk lainnya," jelasnya.
Konsep tersebut, menurut Gubernur, merupakan
bagian dari upaya membangun kedaulatan pangan dari tingkat paling bawah. Desa
tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga menjadi pusat produksi dan
pengolahan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri.
"Ketika ada desa yang menghasilkan padi,
maka desa itu harus bisa memberi makan masyarakatnya sendiri. Bukan hanya
gabahnya, tetapi berasnya. Ketika ada jagung, desa harus bisa mengolahnya
menjadi pakan untuk masyarakatnya. Itu namanya berdaulat pangan," ujarnya.
Untuk mewujudkan konsep tersebut, Gubernur
menekankan pentingnya dukungan sains, riset, inovasi, dan teknologi yang
benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Menurutnya, teknologi tidak seharusnya
dipaksakan kepada masyarakat, tetapi justru harus dirancang sesuai dengan
ekosistem usaha dan kebutuhan masyarakat.
"Teknologi harus kita sesuaikan dengan
ekosistem. Riset, sains, dan teknologi ke depan harus disesuaikan dengan
kebutuhan, sehingga nilai tambah yang dihasilkan bisa terintegrasi sampai ke
level paling bawah," katanya.
Dalam konteks tersebut, Gubernur berharap
Politeknik Negeri Lampung dan perguruan tinggi di Lampung dapat mengambil peran
lebih besar sebagai pusat pengembangan teknologi terapan untuk mendukung
kebutuhan masyarakat.
Ia menyebut sejumlah kebutuhan teknologi yang
dapat dikembangkan bersama, mulai dari dryer, mesin pencetak pakan, mixer,
mesin mekanisasi pertanian, hingga teknologi untuk mendukung efisiensi produksi
dan pengolahan komoditas di desa.
"Saya ingin Poltek menjadi di garis
terdepan. Saya sering meminta bantuan Poltek, misalnya dryer, mesin pakan,
mixer, dan beberapa mesin yang kita butuhkan ke depan," ungkapnya.
Lebih jauh, Gubernur menegaskan bahwa penguatan
sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam menjalankan transformasi ekonomi
tersebut. Menurutnya, Lampung telah memiliki sumber daya alam, dukungan
pembiayaan, dan pasar. Tantangan yang masih perlu diperkuat adalah ketersediaan
SDM yang mampu mengelola teknologi dan mengembangkan usaha di desa.
"Yang kita punya sumber daya alam,
pendanaan dari perbankan ada, pasar juga ada. Yang kurang adalah SDM. Karena
itu, kita harus menyiapkan SDM yang kuat," ujarnya.
Gubernur juga menyampaikan rencana dukungan
beasiswa bagi mahasiswa dengan skema yang diarahkan untuk memperkuat SDM desa.
Para penerima diharapkan dapat kembali dan berkontribusi di desa setelah
menyelesaikan pendidikan.
Ia menekankan pentingnya menyiapkan generasi
muda yang tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan
dan mengembangkan lapangan kerja melalui pemanfaatan potensi lokal.
"Kita jangan hanya menciptakan
mahasiswa-mahasiswa untuk mencari lapangan pekerjaan. Kita harus menciptakan
SDM yang menjadi motor hilirisasi di desa," tegasnya.
Gubernur berharap sinergi
antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, dan masyarakat dapat
membangun ekosistem ekonomi baru yang tumbuh dari bawah. Dengan demikian,
hilirisasi tidak hanya meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga
memperluas lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi
kemiskinan, dan memperkuat daya saing Provinsi Lampung. [MFH/Pemerintah
Provinsi Lampung]











3.jpg)