- Ajiudin: Selain Sekdes Pulau Jaya, Menjadi Banser juga Bentuk Pengabdian untuk Masyarakat dan Agama
- Koperasi Pesisir Diperkuat, Nelayan Lamtim Didorong Miliki Posisi Tawar Lebih Baik
- Usaha Susu Kambing Etawa di Lampung Barat Tembus Luar Daerah
- Dorong Ekonomi Pesisir Barat, Bupati Dedi Irawan Hadiri Rakornas TPAKD 2026 di Jakarta
- Jaga Kelestarian Hutan TNBBS, Sekda Pesisir Barat Perkuat Sinergi dengan Aparat Penegak Hukum
- Meriahkan Hari Santri 2026, PP MWCNU Jati Agung Barat Gelar Pawai
- APBD 2027 Jadi Instrumen Pembangunan
- Kapolres Sambut Tim Audit Kinerja Itwasda Polda Lampung, Periksa Empat Bidang
- Polsek Kota Agung dan Inafis Polres Tanggamus Identifikasi Mayat Perempuan di Pasar Madang
- Pemprov Buka Ruang Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi untuk Perkuat Ekonomi Daerah
Koperasi Pesisir Diperkuat, Nelayan Lamtim Didorong Miliki Posisi Tawar Lebih Baik

LAMPUNG TIMUR, MFH,-- Nelayan kecil di wilayah
pesisir diharapkan tidak lagi bergantung pada satu jalur pemasaran atau
kesulitan memperoleh modal untuk melaut. Melalui penguatan koperasi pesisir,
pemerintah ingin menghadirkan layanan yang benar-benar dibutuhkan nelayan,
mulai dari akses BBM bersubsidi, pembiayaan melaut, penyerapan hasil tangkapan,
hingga penyediaan es dan fasilitas penyimpanan dingin.
Hal itu menjadi salah satu fokus dalam Seminar
Hasil Survei Peran Pedagang Pengumpul di Wilayah Pesisir bertema
"Pengembangan Ekonomi Pesisir Berkeadilan Berbasis Koperasi" yang
digelar di Lampung Timur, Kamis (22/10/2026).
Deputi Pengembangan Usaha Kementerian Koperasi,
Panel Barus, menegaskan bahwa tantangan utama sektor perikanan saat ini bukan
lagi sekadar meningkatkan hasil tangkapan, melainkan memastikan nelayan
memperoleh bagian yang lebih adil dari rantai nilai usaha perikanan.
Baca Lainnya :
- Bupati Ela: 227 Ponpes Berperan Penting Membentuk Generasi Berilmu dan Berakhlak0
- Sekda Lampung Timur Lantik 90 ASN, Dorong Peningkatan Pelayanan Publik dan Inovasi Daerah0
- Cegah Gangguan Sosial, Pemkab dan Forkopimda Sepakati Pembatasan Waktu Hiburan0
- Bupati Ela Pimpin Apel Hari Pramuka ke-650
- Pemkab Lamtim dan IPB Perkuat Sinergi Tridarma Perguruan Tinggi untuk Pembangunan Daerah0
“Tantangan terbesar kita bukan lagi sekadar
peningkatan produksi, melainkan keadilan rantai nilai dan tingkat kesejahteraan
nelayan kecil yang masih rentan,” ujarnya.
Menurut Panel, banyak masyarakat desa masih
terjebak dalam kemiskinan karena persoalan yang bersifat sistemik. Harga
kebutuhan produksi yang tinggi akibat distribusi yang tidak efisien, sulitnya
akses pembiayaan murah, hingga rendahnya harga jual hasil tangkapan membuat
nelayan rentan terjebak dalam siklus utang.
Ia menjelaskan bahwa nelayan pesisir
membutuhkan dukungan nyata berupa ketersediaan solar bersubsidi, es, modal
operasional melaut, hingga kepastian pasar. Peran tersebut diharapkan dapat
semakin kuat dijalankan koperasi sehingga nelayan memiliki lebih banyak pilihan
dalam menjalankan usahanya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Lampung Timur
Ela Siti Nuryamah menyampaikan bahwa seminar ini menjadi ruang bersama untuk
memetakan persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir sekaligus merumuskan
solusi yang berkelanjutan.
“Forum ini bukan hanya memaparkan hasil survei,
tetapi juga menghimpun berbagai masukan, membangun kesepahaman, serta menyusun
langkah nyata untuk memperkuat peran koperasi demi meningkatkan kesejahteraan
masyarakat pesisir,” kata Ela.
Bupati juga menegaskan bahwa pedagang pengumpul
selama ini memiliki peran penting dalam rantai pemasaran hasil perikanan. Namun
ke depan, hubungan usaha antara nelayan, pedagang pengumpul, koperasi, dan
seluruh pelaku usaha perlu dibangun agar semakin sehat, transparan, dan
berkeadilan.
Hasil kajian lapangan Kementerian Koperasi
bersama BRIN dan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) di Kabupaten
Sukabumi, Indramayu, dan Lampung Timur menunjukkan bahwa nelayan kecil masih
bergantung pada jumlah terbatas pedagang pengumpul untuk menjual hasil
tangkapan.
Di sisi lain, pedagang pengumpul juga
menjalankan berbagai fungsi penting yang selama ini belum sepenuhnya mampu
disediakan lembaga ekonomi formal, seperti memberikan modal operasional,
menyediakan es, membantu penyimpanan hasil tangkapan, hingga menjadi penopang
saat musim paceklik.
Karena itu, penguatan koperasi tidak
dimaksudkan untuk menyingkirkan pedagang pengumpul, melainkan menghadirkan
alternatif layanan yang lebih lengkap sehingga posisi tawar nelayan semakin
kuat.
Saat ini, sebagian besar koperasi pesisir masih
menjalankan fungsi terbatas, seperti mengelola tempat pelelangan ikan atau
menyalurkan BBM bersubsidi. Ke depan, koperasi didorong mampu menyediakan
pembiayaan melaut, menjamin pembelian hasil tangkapan, serta mengelola logistik
dan rantai dingin.
Hasil seminar ini akan menjadi salah satu
pijakan dalam pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), termasuk
memperkuat peran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai pengelola layanan
bagi nelayan.
Kementerian Koperasi berharap sinergi
pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, organisasi nelayan, dan pelaku
usaha dapat menghasilkan peta jalan pengembangan ekonomi pesisir yang lebih
inklusif.
Dengan koperasi yang
semakin kuat, nelayan diharapkan dapat melaut dengan modal yang lebih
terjangkau, menjaga kualitas hasil tangkapan, memperoleh akses pasar yang lebih
luas, serta menikmati manfaat ekonomi yang lebih besar bagi keluarga dan
masyarakat pesisir. [MFH/Komdigi]











