- APBD 2027 Jadi Instrumen Pembangunan
- Kapolres Sambut Tim Audit Kinerja Itwasda Polda Lampung, Periksa Empat Bidang
- Polsek Kota Agung dan Inafis Polres Tanggamus Identifikasi Mayat Perempuan di Pasar Madang
- Pemprov Buka Ruang Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi untuk Perkuat Ekonomi Daerah
- Peringati Hari Santri Nasional 2026, Pemprov Perkuat Dukungan bagi Santri dan Pesantren
- Peringati Hari Santri, Bupati Umrohkan 2 Pimpinan Ponpes dan Berangkatkan 5 Santri Wisata Kebangsaan
- Pemkab Pringsewu Gelar Upacara Hari Santri 2026
- Umi Laila Buka Peringati Hari Pangan se-Dunia 2026
- Investasi Tanggamus TW III Tembus Rp115,97 Miliar, PMDN Berkontribusi 69,2 Persen
- Desa Sungai Langka Dicanangkan Sebagai Desa Tapis
APBD 2027 Jadi Instrumen Pembangunan
Pemprov Lampung Fokus pada Produktivitas dan Kesejahteraan

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Pemerintah Provinsi
Lampung berkomitmen untuk memperkuat hilirisasi komoditas unggulan,
meningkatkan produktivitas pertanian, serta mempercepat pemerataan pembangunan
desa melalui Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Lampung Tahun Anggaran 2027.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Lampung melalui Sekretaris Daerah Provinsi
(Sekdaprov) Lampung Marindo Kurniawan dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi
Lampung, dengan agenda Jawaban Gubernur atas Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi
DPRD terhadap Raperda APBD Tahun Anggaran 2027, di Ruang Rapat Paripurna DPRD
Provinsi Lampung, Kamis (22/10/2026).
Gubernur menyampaikan apresiasi kepada seluruh
fraksi DPRD Provinsi Lampung atas pandangan, saran, masukan, dan pertanyaan
yang disampaikan dalam pembahasan rancangan APBD tersebut.
Baca Lainnya :
- Pemprov Buka Ruang Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi untuk Perkuat Ekonomi Daerah0
- APBD Lampung 2027 Dibahas, Anggaran Didorong Lebih Berdampak bagi Masyarakat0
- Gubernur Lampung Ajak LPM Berkolaborasi Membangun Ekonomi Daerah dari Desa0
- DLH Provinsi Lampung Kawal Ketat Proyek PSEL Lampung Raya0
- Pemprov Dorong Seni jadi Sarana Pembentukan Karakter dan Kreativitas Siswa0
Menurutnya, pembahasan APBD tidak hanya
berkaitan dengan perencanaan pendapatan dan belanja daerah, tetapi juga
menyangkut arah pembangunan serta tanggung jawab pemerintah dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
“APBD bukan sekadar dokumen keuangan. APBD
adalah dokumen pembangunan, keberpihakan, sekaligus cerminan tanggung jawab
moral kita kepada masyarakat Lampung,” ujarnya.
Ia menegaskan, setiap kebijakan anggaran harus
mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, mulai dari petani yang mengharapkan
harga hasil panen lebih baik, nelayan yang ingin meningkatkan pendapatan,
hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membutuhkan akses
pasar lebih luas.
Karena itu, penyusunan APBD 2027 diarahkan agar
program pembangunan memberikan manfaat nyata, memperkuat perekonomian daerah,
dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Lampung.
Gubernur juga menekankan pentingnya hilirisasi
sebagai salah satu strategi transformasi ekonomi Provinsi Lampung. Potensi komoditas
unggulan yang dimiliki daerah harus diikuti dengan peningkatan nilai tambah
agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Menurutnya, Lampung memiliki potensi besar
dalam produksi berbagai komoditas pertanian dan perkebunan. Namun, produksi
yang tinggi perlu diimbangi dengan kemampuan mengolah bahan mentah menjadi
produk bernilai tambah melalui penguatan industri pengolahan, pemanfaatan
teknologi, serta perluasan akses pasar.
Pemerintah Provinsi Lampung ingin memastikan
komoditas unggulan daerah tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah,
tetapi juga dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi yang mampu bersaing di
pasar nasional maupun global.
Hilirisasi diharapkan menjadi penggerak
pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi
masyarakat, memperkuat daya saing produk lokal, dan meningkatkan pendapatan
pelaku ekonomi di berbagai sektor.
Selain hilirisasi, Pemprov Lampung juga
mempertegas komitmen pemerataan pembangunan dan penguatan ekonomi perdesaan
melalui kelanjutan program Desaku Maju pada 2027.
Program tersebut difokuskan pada empat pilar
utama, yakni peningkatan produktivitas pertanian, peningkatan nilai tambah
komoditas unggulan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia desa, serta percepatan
konektivitas infrastruktur.
Pada sektor pertanian, pemerintah daerah
mendorong pemanfaatan pupuk hayati cair untuk mendukung peningkatan produksi
secara berkelanjutan. Upaya ini ditujukan untuk menjaga kesuburan tanah,
mengurangi ketergantungan terhadap pupuk sintetis, menekan biaya produksi,
serta mendorong kemandirian pupuk organik di tingkat kelompok tani.
Selanjutnya, pemerintah mendorong distribusi
bed dryer atau mesin pengering hasil pertanian modern guna meningkatkan
kualitas hasil panen dan mengurangi kehilangan hasil pada tahap pascapanen.
Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat membantu petani menjaga mutu
komoditas sekaligus meningkatkan nilai jual hasil produksi.
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan
ketenagakerjaan desa juga menjadi perhatian. Melalui pelatihan vokasi berbasis
desa, masyarakat diharapkan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan
dunia kerja, sehingga mampu meningkatkan daya saing dan memperluas kesempatan
memperoleh pekerjaan.
Sementara itu, penguatan aksesibilitas dan
konektivitas wilayah dilakukan melalui pembangunan serta penanganan
infrastruktur jalan dan jembatan. Infrastruktur yang memadai menjadi faktor
penting untuk memperlancar distribusi barang dan jasa, memperkuat rantai pasok,
serta menghubungkan sentra produksi dengan pusat perdagangan dan pasar.
Keempat pilar tersebut diharapkan saling
mendukung dalam membangun ekosistem ekonomi desa yang produktif, meningkatkan
nilai tambah hasil pertanian, dan memperluas kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi
dalam kegiatan ekonomi.
Menanggapi berbagai pandangan fraksi DPRD,
Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan bahwa seluruh saran dan masukan akan
menjadi bahan pertimbangan dalam penyempurnaan perencanaan dan penganggaran
daerah.
Pemerintah daerah akan mencermati setiap
masukan dengan tetap memperhatikan prioritas pembangunan, kemampuan keuangan
daerah, serta kebutuhan masyarakat. Langkah ini diperlukan untuk memperkuat
kapasitas fiskal daerah dan meningkatkan efektivitas pengelolaan keuangan.
Dengan pendekatan tersebut, APBD Provinsi
Lampung Tahun Anggaran 2027 diharapkan dapat disusun secara realistis, tepat
sasaran, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan publik serta
kesejahteraan masyarakat.
Gubernur juga menekankan pentingnya menjaga
hubungan yang konstruktif antara pemerintah daerah dan DPRD dalam proses
pembahasan kebijakan anggaran.
Menurutnya, hubungan yang kuat antara eksekutif
dan legislatif tidak dibangun dengan menghilangkan perbedaan pandangan,
melainkan melalui sikap saling menghormati, menjaga kepercayaan, dan
menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan golongan.
Melalui pembahasan Raperda APBD 2027, Pemprov
Lampung berharap dapat memperkuat fondasi pembangunan daerah yang tidak hanya
mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan manfaat pembangunan
dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat hingga ke wilayah perdesaan.
[MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]











