- Pemkab Tanggamus Segera Bangun RSUD Tipe D Talang Padang
- Pentas PAI Jadi Ruang Tumbuh Prestasi dan Karakter Siswa
- MUSDA VI IGRA Bandar Lampung Fokus pada Regenerasi dan Penguatan Tata Kelola Organisasi
- HUT ke-81 PMI, Purnama Wulan Sari Mirza Perkuat Gerakan Kemanusiaan di Lampung
- Pemprov Lampung Raih Peringkat I TPID Kinerja Terbaik Wilayah Sumatera
- Pertumbuhan Ekonomi Pringsewu di Atas Provinsi Lampung dan Nasional
- Desa Sidodadi Teluk Pandan Wakili Pesawaran Masuk 12 Besar Desa Cantik Terbaik Nasional 2026
- Ketua TP-PKK Provinsi Lampung Canangkan Desa Tapis di Ganjar Asri
- Jawab Kritik DPRD, Wali Kota Metro Ungkap Alasan Pinjaman Rp20 Miliar dan Penurunan Bansos
- Pemkab Ikuti Rakornas Pengendalian Inflasi dan P2DD Secara Daring
ITERA dan BPBD Pesawaran Kolaborasi Susun Kajian Risiko Bencana Tahun 2026–2030

PESAWARAN, MFH,-- Pemerintah Kabupaten
Pesawaran melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berkolaborasi
dengan Tim Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dalam penyusunan Kajian Risiko
Bencana (KRB) Kabupaten Pesawaran Tahun 2026–2030.
Kolaborasi tersebut dibahas dalam kegiatan
Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Kajian Risiko Bencana yang digelar di
Ruang Rapat Teluk Ratai Setdakab Pesawaran, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan FGD dibuka oleh Bupati Pesawaran Hj.
Nanda Indira Bastian, S.E., M.M., yang diwakili Asisten Pemerintahan dan
Kesejahteraan Rakyat Sunyoto, S.E.,M.M. Pertemuan ini dihadiri oleh unsur
Forkopimda, DPRD Pesawaran, Perwakilan Instansi Vertikal, Perangkat Daerah
terkait, Perguruan Tinggi, para Camat, Kepala Desa dan perwakilan organisasi
relawan.
Baca Lainnya :
- Pemkab Pesawaran Jajaki Kerja Sama Replikasi SISGITA Bersama Pemkot Tangsel0
- Menapaki 60 Tahun Trans-AD II Desa Hanura: Warisan Perjuangan yang Terus Hidup0
- Pemkab Pesawaran Perkuat Sinergi Lintas Sektor Wujudkan Kabupaten Layak Anak0
- Bupati Nanda Indira Ajak Masyarakat Bersatu Teguh Membangun Pesawaran0
- Dari Lumbung Pangan jadi Lumbung Energi, Gubernur Dorong Lampung Pimpin Pengembangan Bioetanol0
Dalam sambutannya, Asisten Pemerintahan dan
Kesra Sunyoto menyampaikan, bahwa dokumen Kajian Risiko Bencana merupakan salah
satu landasan penting dalam perencanaan penyelenggaraan penanggulangan bencana
di daerah. Untuk itu, diperlukan keselarasan data dan persepsi antarinstansi
serta seluruh pemangku kepentingan.
“FGD ini dilaksanakan untuk menjaring masukan,
data sektoral serta melakukan validasi terhadap peta risiko, sehingga dapat
menghasilkan dokumen KRB yang akurat dan aplikatif,” jelasnya.
Menurutnya, upaya penanggulangan bencana tidak
hanya dilakukan setelah bencana terjadi, tetapi harus dimulai sejak tahap
perencanaan, pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan.
“Bencana tidak dapat diprediksi secara pasti,
namun dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir melalui kesiapsiagaan dan
perencanaan yang baik,” ujarnya.
Sementara itu, Tim ITERA yang diketuai oleh
Rezki Naufan Hendrawan, S.T.,M.T. dari Dosen Program Studi Teknik Geologi dalam
paparannya menjelaskan bahwa KRB Kabupaten Pesawaran Tahun 2026–2030 disusun
untuk mengetahui tingkat risiko bencana melalui analisis bahaya, kerentanan dan
kapasitas secara spasial dan terintegrasi.
Kajian tersebut nantinya menjadi dasar dalam
mendukung kebijakan penanggulangan bencana, Rencana Penanggulangan Bencana (RPB),
penataan ruang serta aksi kesiapsiagaan masyarakat.
Dalam kajian awal, Kabupaten Pesawaran memiliki
karakteristik wilayah yang beragam, mulai dari kawasan pesisir, perbukitan,
pulau-pulau kecil hingga daerah aliran sungai. Kondisi geografis tersebut beriringan
dengan berbagai potensi ancaman bencana geologi dan hidrometeorologi.
Berdasarkan data yang dipaparkan Tim ITERA,
sejumlah jenis bencana yang menjadi lingkup kajian meliputi banjir, banjir
bandang, gempabumi, kekeringan, tanah longsor, Kebakaran Hutan dan Lahan
(Karhutla) serta tsunami.
Kajian juga mencakup penyusunan peta bahaya,
kerentanan, kapasitas dan risiko bencana, termasuk peta risiko multi-bahaya.
Hasil kegiatan ditargetkan menghasilkan Dokumen KRB Kabupaten Pesawaran
2026–2030, album peta, matriks desa serta rekomendasi kebijakan penanggulangan
bencana.
Dalam paparan sementara, Tim ITERA juga
mencatat sejumlah hasil analisis bahaya. Di antaranya, potensi bahaya banjir
kelas sedang dan tinggi terdapat di sejumlah wilayah, dengan luasan tertinggi
pada kelas sedang dan tinggi berada di Kecamatan Negeri Katon. Untuk banjir
bandang, Kecamatan Padang Cermin tercatat memiliki potensi bahaya dengan total
luasan kelas bahaya mencapai 1.099,57 hektare.
Untuk ancaman lainnya, kajian sementara menunjukkan
bahaya Karhutla Kabupaten Pesawaran tergolong kelas tinggi, dengan Kecamatan
Negeri Katon memiliki luasan kelas bahaya tertinggi. Sementara bahaya
kekeringan tergolong kelas sedang dan bahaya tsunami tergolong kelas tinggi
yang berada di Kecamatan Padang Cermin.
Selain menganalisis bahaya, kajian KRB juga
memperhitungkan aspek kerentanan sosial-budaya, ekonomi, fisik serta
ekologi/lingkungan. Sementara aspek kapasitas daerah dinilai melalui Indeks
Ketahanan Daerah (IKD) dan Indeks Kesiapsiagaan Masyarakat (IKM).
Melalui FGD ini, seluruh perangkat daerah dan
pemangku kepentingan juga didorong untuk memberikan masukan berdasarkan data
serta kondisi sektoral masing-masing.
Masukan tersebut diharapkan dapat memperkuat
kualitas dokumen KRB sehingga nantinya benar-benar dapat menjadi acuan bersama
dalam perencanaan dan pelaksanaan penanggulangan bencana di Kabupaten
Pesawaran.
Tahapan selanjutnya dalam penyusunan KRB
meliputi finalisasi kajian kerentanan dan kapasitas, penyusunan Peta Indeks
Kesiapsiagaan Masyarakat, asistensi kepada BNPB, penyusunan rekomendasi generik
dan spesifik beserta matriks, serta konsultasi publik.
Seluruh rangkaian kegiatan
ini diharapkan dapat menghasilkan dokumen KRB 2026–2030 yang komprehensif,
berbasis data dan dapat digunakan sebagai instrumen perencanaan pembangunan
daerah yang lebih aman, tangguh dan berkelanjutan. [MFH/Diskominfotiksan]











