- Epos Perjuangan Radin Intan: Ketika Gunung Rajabasa Menjadi Benteng Terakhir
- Ketika Krakatau Membelah Laut: Dialog Antara Mitos dan Magma
- Aksi Nyata HUT ke-25 Demokrat di Lamsel: Gelar Bersih Pantai dan Tanam Pohon di Batu Rame
- Sinergi KPK, ATR/BPN, dan Pemprov Lampung Dorong Penyelesaian Persoalan Pertanahan
- Wagub Jihan Serahkan Remisi HAN 2026 kepada 45 Anak Binaan
- Peringati Hari Anak Nasional, Batin Wulan Kunjungi LPKA dan Salurkan Bantuan
- Bupati Pringsewu Hadiri Rakor Optimalisasi Kerjasama Pemda
- Audiensi Dengan Menko Pangan, Bupati Pringsewu Kenalkan Produk Hilirisasi Mocaf
- Ketua TP Posyandu Pesawaran Dorong Penguatan Sinergi Implementasi 6 SPM untuk Masyarakat
- Pemkab Lampung Timur Gandeng Kementerian UMKM
Epos Perjuangan Radin Intan: Ketika Gunung Rajabasa Menjadi Benteng Terakhir

Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Kabut turun perlahan di lereng Gunung Rajabasa,
menyelimuti puncak-puncak hijau dengan selimut putih yang dingin. Dari
ketinggian itu, mata dapat menyapu Teluk Lampung yang tenang hingga Selat Sunda
yang membentang luas, seperti halaman depan sebuah rumah besar bernama
Nusantara. Di balik rimbun hutan tropis itulah, dua generasi pejuang Lampung
pernah mengubah gunung menjadi benteng, hutan menjadi sekutu, dan rakyat
menjadi tembok pertahanan yang tak mudah ditembus.
Sejarah sering kali mengingat perang hanya
melalui deru meriam, asap mesiu, dan nama-nama jenderal Eropa. Namun di
Lampung, perang ditulis oleh desir bambu, oleh jejak kaki di jalan setapak yang
hanya dikenal penduduk asli, serta oleh kesetiaan para kepala adat yang menolak
menyerahkan tanah leluhurnya kepada kekuasaan kolonial Belanda.
Baca Lainnya :
- Ketika Krakatau Membelah Laut: Dialog Antara Mitos dan Magma0
- Aksi Nyata HUT ke-25 Demokrat di Lamsel: Gelar Bersih Pantai dan Tanam Pohon di Batu Rame 0
- Sinergi KPK, ATR/BPN, dan Pemprov Lampung Dorong Penyelesaian Persoalan Pertanahan0
- Wagub Jihan Serahkan Remisi HAN 2026 kepada 45 Anak Binaan0
- Peringati Hari Anak Nasional, Batin Wulan Kunjungi LPKA dan Salurkan Bantuan0
Nama itu adalah Radin Intan I dan Radin Intan
II. Dua tokoh yang dipisahkan oleh waktu, tetapi disatukan oleh satu keyakinan
mutlak: kemerdekaan tidak boleh ditukar dengan kenyamanan, apalagi dijual demi
keamanan semu dari penjajah. Mereka bukan sekadar pemimpin politik; mereka
adalah penjaga martabat Lampung.
Awal abad ke-19 menjadi masa kelam ketika
Belanda mulai memperluas cengkeramannya ke wilayah Lampung. Yang diburu bukan
hanya tanah, melainkan lada—”emas hitam” yang saat itu menjadi komoditas paling
berharga di pasar dunia. Monopoli perdagangan, pungutan pajak yang mencekik,
dan campur tangan kasar terhadap pemerintahan adat perlahan menggerus
kedaulatan masyarakat Lampung.
Di tengah tekanan yang kian menghimpit, muncul
seorang pemimpin dari Kalianda. Namanya Radin Intan I. Ia menolak tunduk. Bagi
Radin Intan I, Belanda bukan sekadar kekuatan asing yang jauh, melainkan
ancaman eksistensial terhadap tatanan adat yang telah menjaga keseimbangan
masyarakat selama berabad-abad. Karena itu, perlawanan bukan lagi pilihan,
melainkan kewajiban suci.
Alih-alih membangun istana yang megah, ia
membangun benteng. Alih-alih menyiapkan pesta kemewahan, ia menyiapkan strategi
perang.
Gunung Rajabasa pun menjelma menjadi benteng
alam yang nyaris sempurna. Lereng-lereng curam berfungsi sebagai tembok
pertahanan alami. Hutan lebat menjadi labirin hidup yang membingungkan musuh.
Parit-parit dalam digali mengelilingi posisi strategis. Ranjau bambu runcing
dipasang di jalur-jalur sempit yang hanya diketahui penduduk lokal. Pos-pos
pengintai ditempatkan di punggung bukit tertinggi untuk memantau setiap kapal
asing yang berani memasuki Teluk Lampung.
Benteng Ketimbang menjadi jantung pertahanan
ini. Di sana, rakyat tidak hanya berlindung dari peluru. Mereka belajar
bertahan. Mereka belajar bahwa tanah mereka adalah nyawa mereka.
Belanda berkali-kali mencoba menyerbu. Namun,
meriam-meriam berat yang ampuh di medan terbuka Eropa kehilangan daya tempurnya
ketika harus didorong melewati lereng licin dan hutan rapat Sumatera. Pasukan
kolonial justru menjadi sasaran empuk penyergapan. Muncul sebentar dari balik
pepohonan, menyerang dengan cepat, lalu lenyap kembali ke dalam rimbun hijau
sebelum musuh sempat membalas.
Hari ini, strategi itu dikenal sebagai perang
gerilya. Tetapi jauh sebelum istilah itu populer dalam buku-buku militer
modern, rakyat Lampung telah mempraktikkannya dengan kecermatan yang lahir dari
pengenalan mendalam terhadap alam. Bagi mereka, gunung bukan sekadar lanskap
pemandangan. Gunung adalah panglima.
Radin Intan I wafat pada 1828. Belanda mengira
perang telah selesai. Mereka keliru besar. Api perlawanan yang telah dinyalakan
ternyata tidak ikut padam bersama pemimpinnya. Tongkat perjuangan berpindah
kepada putranya, Radin Imba Kusuma. Perlawanan berlanjut sepanjang dekade
1830-an. Meskipun akhirnya ia berhasil ditangkap dan dibuang ke Timor, semangat
yang diwariskan ayahnya tetap hidup, berdenyut di dada masyarakat.
Belanda kembali merasa menang. Namun sejarah
kembali mempermainkan keyakinan mereka. Sebab, seorang cucu tengah tumbuh
dewasa. Namanya Radin Inten II.
Usianya baru sekitar enam belas tahun ketika ia
dipercaya memimpin rakyat Lampung. “Terlalu muda,” mungkin kata sebagian orang.
Namun sejarah sering kali memilih pemimpin bukan berdasarkan usia kronologis,
melainkan berdasarkan besarnya keberanian.
Lampung ketika itu sedang mengalami luka yang
lebih dalam daripada sekadar perang fisik. Politik devide et impera (pecah
belah dan kuasai) telah berhasil memecah hubungan antarkelompok adat. Belanda
sadar, benteng yang paling mudah dihancurkan bukanlah benteng batu, melainkan
persatuan rakyat.
Maka, hal pertama yang dilakukan Radin Inten II
bukan mengangkat senjata. Ia menyatukan hati. Ia mendatangi para kepala adat
yang saling curiga. Ia menghidupkan kembali ikatan persaudaraan yang retak. Ia
mengajak mereka berdiri dalam satu barisan. Perlawanan bukan lagi milik satu
keluarga bangsawan. Perlawanan menjadi milik seluruh Lampung.
Belanda tidak tinggal diam. Pada 1851, mereka
mengirim ekspedisi besar di bawah komando Kapten W.H. Millar. Mereka datang
dengan keyakinan penuh bahwa pemberontakan ini akan segera berakhir. Yang
terjadi justru sebaliknya. Pasukan Lampung menyerang patroli Belanda secara
tiba-tiba. Jalur logistik diputus. Persediaan makanan terganggu. Amunisi
terlambat tiba. Ketika tentara Belanda mengejar, para pejuang telah menghilang
ke dalam hutan Rajabasa yang tak berujung.
Musuh yang tak terlihat selalu lebih menakutkan
daripada musuh yang bertempur di lapangan terbuka. Ekspedisi itu gagal total.
Belanda kembali dipermalukan oleh pasukan yang jauh lebih kecil, tetapi
mengenal setiap jengkal tanahnya sendiri.
Puncak konflik terjadi pada 1856. Belanda
mengerahkan kekuatan yang lebih besar dan lebih brutal di bawah Kolonel Welson.
Benteng Ketimbang dikepung dari berbagai arah. Hari-hari panjang dilalui dengan
persediaan makanan yang menipis. Air harus dibagi seadanya. Amunisi makin
sedikit. Namun, benteng tetap bertahan. Belanda mulai memahami satu kenyataan
pahit: Benteng itu mungkin bisa dikepung, tetapi Radin Inten II sulit
dikalahkan selama ia memiliki dukungan rakyat.
Ketika perang tidak berhasil dimenangkan dengan
senjata, kolonialisme selalu mencari jalan lain yang lebih kotor:
pengkhianatan.
Belanda mendekati seorang sekutu lokal, Raden
Ngerajah. Imbalannya sederhana namun menggiurkan bagi jiwa yang lemah: jabatan
tinggi dan uang. Pertemuan persahabatan pun diatur di Merambung pada Oktober
1856. Radin Inten II datang dengan keyakinan tulus bahwa ia akan membicarakan
strategi bersama sekutu lamanya.
Yang menunggunya ternyata bukan musyawarah.
Melainkan penyergapan berdarah.
Di usia sekitar dua puluh dua tahun, pemimpin
muda itu gugur. Bukan karena kalah dalam pertempuran heroik di medan perang. Melainkan
karena dikhianati oleh manusia yang pernah dipercayainya. Sejarah Nusantara
menyimpan terlalu banyak kisah tragis seperti ini. Dari Banten hingga Makassar,
dari Jawa hingga Lampung. Sering kali benteng tidak runtuh oleh hantaman
meriam. Ia roboh oleh tusukan pisau dari belakang.
Meski demikian, kematian Radin Inten II tidak
pernah benar-benar mengakhiri perjuangan. Namanya justru hidup lebih lama
daripada para penakluknya. Pada 1986, pemerintah Indonesia menganugerahkan
gelar Pahlawan Nasional kepada Radin Inten II sebagai penghormatan atas
perjuangannya mempertahankan kedaulatan Lampung.
Namanya kini diabadikan menjadi Bandar Udara
Internasional Radin Inten II, menghiasi jalan-jalan utama, sekolah, monumen,
hingga berbagai institusi di Provinsi Lampung. Namun, penghormatan terbesar
sesungguhnya bukan terletak pada nama yang dipahat di batu atau papan penunjuk
jalan. Melainkan pada ingatan kolektif bahwa pernah ada sebuah masyarakat yang
memilih bertempur di lereng gunung daripada menyerahkan martabatnya kepada
penjajah.
Kini, Gunung Rajabasa tampak tenang.
Burung-burung kembali bersarang di pepohonan. Kabut pagi turun seperti selimut
lembut yang menutupi bekas-bekas pertempuran. Tak banyak yang menyangka bahwa
di balik kesunyian itu, pernah berdiri sistem pertahanan yang begitu cerdas.
Sebuah benteng yang memanfaatkan alam sebagai sekutu, rakyat sebagai kekuatan
utama, dan persatuan sebagai senjata paling ampuh.
Warisan terbesar Radin Intan I dan Radin Inten
II sesungguhnya bukan hanya kemenangan-kemenangan kecil atas pasukan kolonial.
Warisan itu adalah keyakinan bahwa sebuah bangsa tidak dibangun semata oleh
luas wilayah atau kekuatan senjata, melainkan oleh kesediaan rakyatnya menjaga
harga diri.
Di lereng Rajabasa, sejarah Lampung mengajarkan
bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah yang diberikan dengan sukarela. Ia adalah
hutan yang harus dijaga. Benteng yang harus dipertahankan. Dan darah yang rela
ditumpahkan agar tanah tetap menjadi milik anak cucunya. (*)











3.jpg)