- Epos Perjuangan Radin Intan: Ketika Gunung Rajabasa Menjadi Benteng Terakhir
- Ketika Krakatau Membelah Laut: Dialog Antara Mitos dan Magma
- Aksi Nyata HUT ke-25 Demokrat di Lamsel: Gelar Bersih Pantai dan Tanam Pohon di Batu Rame
- Sinergi KPK, ATR/BPN, dan Pemprov Lampung Dorong Penyelesaian Persoalan Pertanahan
- Wagub Jihan Serahkan Remisi HAN 2026 kepada 45 Anak Binaan
- Peringati Hari Anak Nasional, Batin Wulan Kunjungi LPKA dan Salurkan Bantuan
- Bupati Pringsewu Hadiri Rakor Optimalisasi Kerjasama Pemda
- Audiensi Dengan Menko Pangan, Bupati Pringsewu Kenalkan Produk Hilirisasi Mocaf
- Ketua TP Posyandu Pesawaran Dorong Penguatan Sinergi Implementasi 6 SPM untuk Masyarakat
- Pemkab Lampung Timur Gandeng Kementerian UMKM
Ketika Krakatau Membelah Laut: Dialog Antara Mitos dan Magma

Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Pada suatu masa yang nyaris tak lagi dapat
dihitung oleh ingatan manusia, langit di ufuk barat Nusantara konon berubah
menjadi hitam pekat. Matahari lenyap, ditelan debu vulkanik yang mencekik siang
menjadi malam abadi. Laut bergolak liar, seolah dipanaskan dari dasar bumi yang
murka. Burung-burung kehilangan arah di tengah kegelapan, hutan terbakar oleh
hujan batu pijar, dan ombak menjelma menjadi tembok raksasa yang menelan
pesisir tanpa ampun.
Di antara dentuman yang mengguncang cakrawala
hingga ke ujung dunia, sebuah gunung raksasa roboh. Tubuhnya runtuh ke dalam
rahim laut, meninggalkan cekungan raksasa yang kelak dikenal sebagai Selat
Sunda.
Baca Lainnya :
- Aksi Nyata HUT ke-25 Demokrat di Lamsel: Gelar Bersih Pantai dan Tanam Pohon di Batu Rame 0
- Sinergi KPK, ATR/BPN, dan Pemprov Lampung Dorong Penyelesaian Persoalan Pertanahan0
- Wagub Jihan Serahkan Remisi HAN 2026 kepada 45 Anak Binaan0
- Peringati Hari Anak Nasional, Batin Wulan Kunjungi LPKA dan Salurkan Bantuan0
- Bupati Pringsewu Hadiri Rakor Optimalisasi Kerjasama Pemda0
Bagi ilmu geologi modern, itu adalah kisah
tentang letusan supervulkan yang mengubah bentang alam secara permanen. Namun
bagi sastra Jawa, peristiwa itu hidup bukan sebagai data, melainkan sebagai
ingatan kosmis tentang lahirnya sebuah pulau. Konon, dari kedahsyatan letusan
itulah Sumatera menemukan bentuknya yang terpisah dari Jawa.
Kisah tersebut termaktub dalam Serat Pustaka
Raja, karya monumental pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ranggawarsita.
Dalam bagian Pustaka Raja Purwa, diceritakan tentang letusan Gunung
Batuwara—yang oleh banyak penafsir sejarah dan geolog kemudian dihubungkan
dengan Krakatau Purba.
Dalam naskah kuno itu, bumi diguncang oleh
banjir besar. Daratan tenggelam. Pulau Jawa yang semula menyatu dengan daratan
di sebelah barat akhirnya terputus. Air laut memenuhi celah yang terbuka lebar,
membentuk selat yang membelah dua daratan. Di sisi barat, lahirlah sebuah pulau
baru yang kemudian dikenal sebagai Sumatera.
Narasi tersebut tentu bukan laporan ilmiah
dalam pengertian modern. Ia adalah sastra, sebuah genre yang menyimpan cara
masyarakat Jawa kuno memahami bencana alam melalui bahasa mitologi, simbol, dan
metafora. Namun, yang menarik adalah adanya gema kebenaran di balik kisah
itu—sebuah resonansi yang seolah bersesuaian dengan jejak-jejak geologi yang
ditemukan berabad-abad kemudian oleh sains Barat.
Para ahli kebumian meyakini bahwa kawasan
Krakatau memang pernah mengalami letusan luar biasa dahsyat, jauh sebelum
letusan terkenal tahun 1883 yang menghancurkan peradaban lokal dan
menggemparkan dunia.
Beberapa hipotesis mengaitkan letusan raksasa
itu dengan peristiwa sekitar tahun 535 Masehi, sementara sumber-sumber lama
juga menyebut kemungkinan letusan besar pada 416 Masehi. Hingga kini,
penanggalan presisi tersebut masih menjadi bahan kajian ilmiah dan belum
mencapai kesepakatan tunggal. Namun, para peneliti sepakat pada satu hal: pernah
terjadi erupsi kolosal yang menghancurkan sebagian besar tubuh gunung purba
itu.
Volume material yang dimuntahkan diperkirakan
mencapai ratusan kilometer kubik. Puncak gunung runtuh ke ruang magma yang
kosong di bawahnya, membentuk kaldera raksasa yang tenggelam di bawah permukaan
laut.
Kaldera itulah yang kini menjadi jantung dari
Selat Sunda.
Di atas sisa-sisa dinding kaldera yang kokoh,
kemudian berdiri Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang. Berabad-abad
sesudahnya, aktivitas magma yang tak pernah tidur kembali membangun gunung baru
yang muncul dari permukaan laut pada 1927. Dunia mengenalnya sebagai Anak
Krakatau, si anak yang lahir dari abu leluhurnya.
Jika dilihat dari udara, Selat Sunda bukan
sekadar ruang biru yang memisahkan Jawa dan Sumatera. Ia adalah bekas luka bumi
yang belum sepenuhnya kering.
Di bawah permukaan lautnya tersimpan sejarah
tentang tekanan magma yang tak tertahankan, retakan kerak bumi yang lebar, dan
letusan yang mengubah garis pantai secara permanen. Arus laut berganti arah
karena perubahan topografi dasar laut. Endapan vulkanik menumpuk hingga ratusan
kilometer, menutupi ekosistem lama. Abu beterbangan melintasi samudra,
menyeberangi benua.
Sebagian ilmuwan bahkan menduga letusan besar
Krakatau Purba ikut memengaruhi iklim global. Langit yang dipenuhi aerosol
vulkanik menyebabkan penurunan suhu rata-rata bumi selama beberapa tahun,
memicu gagal panen dan kelaparan di berbagai belahan dunia. Catatan dari
berbagai peradaban kuno di Eropa, Timur Tengah, hingga Asia menyebut matahari
tampak redup dan musim yang berubah tidak lazim pada pertengahan abad keenam.
Meski hubungan sebab-akibat langsungnya masih
terus diperdebatkan, jejak itu menunjukkan bahwa letusan sebuah gunung di
Nusantara dapat menggema hingga ke ujung bumi lain. Bencana lokal bisa menjadi
tragedi global.
Di sinilah sastra dan ilmu pengetahuan saling
menyapa, meski menggunakan bahasa yang berbeda.
Ranggawarsita tidak berbicara tentang tektonik
lempeng, kaldera, ataupun kolom erupsi. Ia menuliskan kisah tentang bumi yang
berubah karena kehendak semesta. Tentang gunung yang pecah, laut yang masuk ke
daratan, dan lahirnya pulau-pulau baru sebagai takdir. Bahasa sastra bekerja
dengan simbol. Ia tidak mengukur kedalaman laut ataupun volume magma, tetapi
menangkap kenyataan melalui ingatan kolektif masyarakat yang diwariskan
turun-temurun.
Sebaliknya, geologi membaca batuan, lapisan
abu, mineral, dan usia sedimen untuk merekonstruksi peristiwa yang sama.
Keduanya menempuh jalan yang berbeda, namun sama-sama berusaha menjawab satu
pertanyaan fundamental: bagaimana wajah Nusantara terbentuk?
Krakatau mengajarkan kita bahwa pulau-pulau
bukanlah sesuatu yang abadi dan statis. Mereka lahir, tumbuh, retak, tenggelam,
lalu muncul kembali dalam wujud baru. Apa yang hari ini tampak kokoh di peta
sesungguhnya merupakan hasil perjalanan geologi yang berlangsung jutaan tahun.
Gunung berubah menjadi laut. Laut melahirkan gunung baru. Siklus destruksi dan
kreasi ini adalah napas bumi itu sendiri.
Karena itu, mengatakan bahwa Krakatau Purba
“menciptakan Pulau Sumatera” sebaiknya dipahami sebagai narasi budaya yang
hidup dalam tradisi Pustaka Raja Purwa, bukan sebagai kesimpulan ilmiah bahwa
seluruh massa daratan Sumatera terbentuk hanya oleh satu letusan. Yang dapat
dikatakan berdasarkan ilmu kebumian adalah bahwa letusan Krakatau Purba
berperan besar mengubah morfologi kawasan Selat Sunda, membentuk kaldera
raksasa, mengubah garis pantai, serta mempertegas pemisahan daratan di wilayah
barat Nusantara. Pemisahan inilah yang mungkin ditangkap oleh intuisi para
pujangga sebagai “lahirnya” Sumatera sebagai entitas yang terpisah.
Di antara legenda dan laboratorium, antara
manuskrip kuno yang rapuh dan batuan vulkanik yang keras, Krakatau tetap
berdiri sebagai salah satu saksi terbesar bahwa bumi Indonesia dibentuk oleh
api. Ia adalah reminder bahwa kita hidup di atas tanah yang dinamis, rentan,
namun juga subur.
Dan mungkin, setiap kali ombak Selat Sunda
memecah sunyi di kaki Rakata, ia sedang mengulang cerita lama—tentang sebuah
gunung yang runtuh, laut yang lahir dari reruntuhan, dan manusia yang terus
berusaha memahami bagaimana sebuah bencana dahsyat dapat menjadi awal dari
sejarah baru. (*)











3.jpg)