- Setelah 11 Tahun Menanti, Pemprov Kebut Pembangunan Ruas Jalan Wates–Metro
- Data Kependudukan Tidak Sesuai Domisili, Dinas Capil Lamsel Ajak Masyarakat Cepat Perbaiki
- Bangunan Megah KDMP Lamsel di Tengah Persawahan dan Perkebunan jadi Sorotan Warga
- Agar Tidak Bergantung Bansos, Kemensos Kucurkan Modal Usaha 5 juta Bagi KPM PKH Mandiri
- Polres Tanggamus Fasilitasi Akad Nikah Tahanan Kasus Narkoba
- Gubernur Pastikan Perbaikan Jalan Gunung Sugih–Kota Gajah Berkualitas dan Tepat Sasaran
- Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025 Masuk Tahap Pandangan Umum Fraksi - Fraksi DPRD
- Gubernur Hadiri Paripurna Istimewa DPRD Dalam Rangka Peringatan HUT ke-19 Pesawaran
- Wakil Bupati Azwar Hadi Pimpin Rapat Persiapan HUT ke-81 RI
- Kiluan Tanggamus Color Run 2026 Mulai Dimatangkan
Bangunan Megah KDMP Lamsel di Tengah Persawahan dan Perkebunan jadi Sorotan Warga

LAMPUNG SELATAN, MFH,-- Pembangunan Koperasi
Desa Merah Putih (KDMP) belakangan ini menjadi sorotan hangat di ruang publik
maupun media sosial. Alih-alih didirikan di pusat keramaian untuk menjawab
tantangan persaingan ritel modern, sejumlah bangunan proyek bernilai besar ini
justru kerap ditempatkan di lokasi yang dinilai kurang lazim.
Sebelumnya,
masyarakat sudah menyoroti keberadaan KDMP di Blora yang berdiri berdekatan
kawasan hutan jati yang sepi, hingga di salah satu pelosok Sulawesi yang berada
di wilayah terpencil. Fenomena ini memicu diskusi luas mengenai efisiensi,
ketepatan sasaran, dan asas manfaat penggunaan anggaran negara.
Kini,
hal serupa juga terlihat di Kabupaten Lampung Selatan. Tepatnya di Desa Bakti
Rasa, Kecamatan Sragi, sebuah bangunan KDMP berdiri kokoh dengan tampilan
megah. Lokasinya cukup unik sekaligus mempertanyakan logika tata letak: bangunan
ini diapit perkebunan warga dan menghadap langsung ke hamparan persawahan yang
luas.
Baca Lainnya :
- Agar Tidak Bergantung Bansos, Kemensos Kucurkan Modal Usaha 5 juta Bagi KPM PKH Mandiri 0
- Pemprov Dorong Kolaborasi Multisektoral Percepat Eliminasi TBC di Lamsel0
- Warga RT. 01 Dusun Serbajadi 2 Pemanggilan, Keluhkan Pembangunan SPAM0
- Pemprov Lampung Siapkan ASN Unggul Melalui PKA dan Latsar CPNS 20260
- Buntut Kesenjangan Upah, Buruh PT. Oasis Wood Industri Sampaikan Aspirasi di DPRD Lamsel0
Dinding
dan pintu bergaya modern khas bangunan perkotaan itu seolah "beradu
pandang" dengan permadani hijau padi yang bergoyang tertiup angin sore.
Jika ritel modern pada umumnya menargetkan kawasan padat penduduk dengan akses
jalan dan parkir yang memadai, KDMP Desa Bakti Rasa justru tampil dengan konsep
yang bertolak belakang. Secara pandang bisnis ritel, penempatannya terkesan
kurang strategis dan kelayakan lokasi terasa seperti dipaksakan.
Di sisi
kiri depan bangunan, jajaran pohon pisang tumbuh subur. Sementara dari sisi
kanan hingga ke bagian belakang, hamparan tanaman jagung tumbuh rapat, seolah
mengelilingi bangunan tersebut.
Berdasarkan
pantauan langsung di lokasi pada Kamis (16/7/2026), akses menuju ke sana juga
terbilang menantang. Meski jaraknya tidak terlalu jauh dari pemukiman, siapa
pun yang ingin berkunjung harus melewati jalan tanah berbatu yang menjadi jalur
utama.
Diketahui,
proyek yang diresmikan serentak oleh Presiden Prabowo Subianto ini menelan
anggaran mencapai Rp1,6 miliar per unit. Penempatan nilai investasi yang besar
di tengah lahan pertanian dan perkebunan inilah yang kini menjadi pertanyaan
besar di kalangan masyarakat.
Berupaya
menjaga keseimbangan informasi, kami telah mencoba meminta tanggapan resmi
kepada Komandan Rayon Militer (Danramil) 421-08/Palas, Kapten Inf. Ujang, yang
membawahi wilayah Kecamatan Palas dan Sragi. Namun hingga berita ini diterbitkan,
belum ada tanggapan yang diterima, baik melalui pesan singkat maupun saat
kunjungan langsung ke markas komando.
Warga
sekitar yang meminta namanya tidak dipublikasikan mengaku bingung dengan konsep
penempatan ritel modern ini.
"Kalau tujuannya bersaing dengan
minimarket modern, kami sekeluarga bingung, siapa yang akan belanja sampai ke
tengah kebun begini? Kalau untuk kebutuhan harian, kami lebih memilih toko
rumahan yang dekat rumah dan harganya jelas lebih terjangkau," ujarnya.
Meski
begitu, warga ini juga mencoba melihat sisi lain dengan nada jenaka.
"Kalau mau dicari sisi
positifnya, mungkin ini fasilitas khusus buat petani yang sedang bekerja di
ladang. Kalau haus atau lapar saat mengurus tanaman, tidak perlu jauh-jauh
pulang ke kampung, cukup melipir sebentar ke sini," pungkasnya. [MFH/Sri]











3.jpg)