- Mayat Pria Tanpa Identitas Berseragam EVERGREEN Ditemukan di Pantai Keramat Lamsel
- Provinsi Lampung Mantapkan Langkah jadi Sentra Pengembangan Singkong Nasional
- Epos Perjuangan Radin Intan: Ketika Gunung Rajabasa Menjadi Benteng Terakhir
- Ketika Krakatau Membelah Laut: Dialog Antara Mitos dan Magma
- Aksi Nyata HUT ke-25 Demokrat di Lamsel: Gelar Bersih Pantai dan Tanam Pohon di Batu Rame
- Sinergi KPK, ATR/BPN, dan Pemprov Lampung Dorong Penyelesaian Persoalan Pertanahan
- Wagub Jihan Serahkan Remisi HAN 2026 kepada 45 Anak Binaan
- Peringati Hari Anak Nasional, Batin Wulan Kunjungi LPKA dan Salurkan Bantuan
- Bupati Pringsewu Hadiri Rakor Optimalisasi Kerjasama Pemda
- Audiensi Dengan Menko Pangan, Bupati Pringsewu Kenalkan Produk Hilirisasi Mocaf
Provinsi Lampung Mantapkan Langkah jadi Sentra Pengembangan Singkong Nasional
Dongkrak Produktivitas dan Kesejahteraan Petani Singkong


BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Upaya menjadikan Lampung
sebagai episentrum pengembangan singkong Indonesia memasuki babak baru.
Hal tersebut diwujudkan dengan diluncurkannya
National Cassava Center di Universitas Lampung pada Jum'at (24/7/2026), sebuah
pusat kolaborasi nasional yang dirancang untuk memperkuat riset, meningkatkan
produktivitas, mendorong hilirisasi, dan mempercepat kesejahteraan petani
singkong.
Baca Lainnya :
- Sinergi KPK, ATR/BPN, dan Pemprov Lampung Dorong Penyelesaian Persoalan Pertanahan0
- Pemprov Lampung Evaluasi Capaian Retribusi Daerah Semester I 20260
- Pemprov Lampung Perkuat Sinergi Lintas Sektor0
- Ketua Dekranasda Provinsi Lampung Tampil di Catwalk0
- Lampung In Diperkuat jadi Kanal Pengaduan Masyarakat0
Dalam sambutannya, Gubernur Lampung Rahmat
Mirzani Djausal menyatakan bahwa keberadaan National Cassava Center bukan
sekadar peresmian sebuah lembaga penelitian, melainkan titik awal pembangunan
ekosistem singkong yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi,
investasi, dunia industri, dan petani dalam satu rantai nilai yang saling
menguatkan.
"Ini bukan sekadar peresmian sebuah lokasi
atau lembaga riset. Ini adalah titik awal pembangunan sebuah ekosistem di mana
ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dunia industri, dan kesejahteraan
petani dipertemukan dalam satu tempat," ujarnya.
Gubernur Mirza berpendapat Lampung memiliki
modal yang sangat kuat untuk memimpin pengembangan komoditas singkong nasional.
Sekitar 70 persen produksi singkong Indonesia
berasal dari Lampung dan menjadi sumber penghidupan ratusan ribu keluarga
petani di berbagai daerah.
Namun selama puluhan tahun, ungkapnya,
pengembangan sektor singkong berjalan tanpa ekosistem yang terintegrasi dimana
industri dan petani bergerak sendiri-sendiri, sementara produktivitas lahan
tertinggal dibandingkan negara pesaing seperti Thailand dan Vietnam yang lebih
dahulu mengembangkan riset, teknologi, serta dukungan pemerintah terhadap
industri tapioka.
Gubernur Mirza mengungkapkan bahwa hampir
500.000 petani singkong di Lampung selama bertahun-tahun menghadapi fluktuasi
harga yang tajam.
Kondisi tersebut bahkan memicu aksi demonstrasi
berkepanjangan saat harga singkong jatuh hingga sekitar Rp600-Rp700 per
kilogram.
Pemerintah Provinsi Lampung kemudian mengambil
peran sebagai mediator dengan mempertemukan petani, industri, dan pemerintah
pusat.
Upaya tersebut menghasilkan kesepakatan yang
mendorong kebijakan pengendalian impor sehingga industri dapat meningkatkan
harga beli singkong petani.
"Hari ini harga singkong sudah mencapai
sekitar Rp2.200 per kilogram. Ini menunjukkan bahwa ketika petani, industri,
dan pemerintah bersatu, manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat,"
katanya.
Meski demikian, Gubernur Mirza menegaskan bahwa
perbaikan harga bukanlah tujuan akhir, melainkan tantangan berikutnya adalah
meningkatkan produktivitas agar daya saing singkong Lampung mampu melampaui
negara-negara produsen utama dunia.
Karena itu, pemerintah menggagas pembentukan
National Cassava Center bersama Universitas Lampung sebagai pusat inovasi
nasional yang berfokus pada pengembangan varietas unggul, mekanisasi pertanian,
teknologi budidaya, hingga hilirisasi produk berbasis singkong.
Gubernur Mirza mengatakan bahwa gagasan
tersebut mendapat dukungan langsung dari Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy yang mendorong agar Lampung tidak
hanya membangun pusat riset berskala daerah, melainkan pusat pengembangan
singkong tingkat nasional melalui kolaborasi berbagai pihak.
"Kita harus menjadi nomor satu di dunia.
Kita punya petani, lahan, industri, dan sekarang kita bangun risetnya. Saatnya
meningkatkan produktivitas," tegasnya.
Gubernur Mirza berharap transformasi sektor
singkong tidak lagi berhenti pada peningkatan produksi semata, tetapi
berkembang menjadi fondasi penguatan industri berbasis bioekonomi, peningkatan
daya saing nasional, serta peningkatan kesejahteraan petani secara
berkelanjutan.
Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyebut peluncuran National
Cassava Center sebagai tonggak penting dalam pembangunan komoditas singkong
nasional.
Menurutnya, Indonesia telah menunggu lebih dari
empat dekade untuk mewujudkan sebuah pusat pengembangan singkong yang mampu
menghubungkan riset, industri, pemerintah, dan petani dalam satu ekosistem.
Ia mengungkapkan, sejak 1980-an Organisasi
Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah menyebut singkong sebagai miracle tree
atau pohon ajaib dimana potensi tersebut baru benar-benar menemukan momentumnya
melalui kolaborasi yang dibangun di Lampung.
"Mengapa hari ini saya bersyukur sekali
ada National Cassava Center? Karena ketika saya baru masuk IPB tahun 1979, FAO
menerbitkan buku kecil yang menyebut singkong sebagai miracle tree. Tetapi
keajaibannya tidak muncul-muncul setelah 45 tahun saya menunggu, dan tampaknya
yang memunculkan keajaiban singkong adalah rekan-rekan yang hadir di ruangan
ini," ungkapnya.
Rachmat menilai keberhasilan Lampung tidak hanya terletak pada statusnya sebagai sentra produksi singkong terbesar di Indonesia, tetapi juga pada kemampuannya membangun kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan petani.
Menurutnya, kekompakan tersebut menjadi fondasi
utama untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.
"Kita harus kompak, kita harus bekerja
bersama. Persahabatan antara akademisi, birokrasi, dan dunia usaha sering kali
hanya diucapkan, tetapi di Lampung sudah dilaksanakan. Makanya singkongnya
bagus," katanya.
Ia menegaskan bahwa National Cassava Center
tidak boleh berhenti sebagai pusat penelitian semata, tetapi harus menjadi
pusat inovasi yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi petani melalui peningkatan
produktivitas, pengembangan varietas unggul, penerapan Good Agriculture
Practices (GAP), hingga penguatan hilirisasi industri berbasis singkong.
Rachmat juga mendorong agar National Cassava
Center berkembang menjadi International Cassava Center.
Menurutnya, dengan dukungan riset yang kuat,
jejaring internasional, dan kolaborasi yang berkelanjutan, Lampung memiliki
peluang besar menjadi pusat pengembangan singkong dunia.
"Mari kita ciptakan National Cassava
Center menjadi International Cassava Center, tempatnya tetap di Universitas
Lampung. Kalau itu bisa terjadi, Lampung cepat atau lambat akan menjadi pusat
pengembangan singkong nasional, bahkan pusat pengembangan singkong
internasional," pungkasnya.
Rektor Universitas Lampung Lusmeilia Afriani
mengatakan National Cassava Center dibangun untuk menjawab tantangan rendahnya
produktivitas, keterbatasan varietas unggul, serta belum optimalnya hilirisasi
singkong di Indonesia.
Menurutnya, NCC akan dikembangkan di lahan
hibah Pemerintah Provinsi Lampung seluas 150 hektare dan memiliki tujuh fokus
utama, yakni riset dan inovasi, konservasi plasma nutfah dan perbenihan, smart
farming, hilirisasi, pemberdayaan petani, pengembangan kawasan edukasi, serta
transfer teknologi.
Lusmeilia mengungkapkan bahwa saat ini
Universitas Lampung telah menjalankan sejumlah program awal, mulai dari
pengembangan lima varietas unggulan singkong, penyusunan Good Agriculture
Practices (GAP), pembangunan demplot, hingga memperluas kolaborasi dengan
pemerintah, BRIN, Institut Pertanian Bogor (IPB), industri, dan berbagai
institusi internasional.
"Prioritas kami bukan hanya menghasilkan
penelitian, tetapi menghadirkan solusi nyata bagi petani melalui penyediaan
bibit unggul, pendampingan teknologi, hingga pengembangan hilirisasi agar nilai
tambah singkong semakin besar," pungkasnya.
Dengan posisi Lampung sebagai sentra produksi
singkong terbesar di Indonesia, pusat riset tersebut diharapkan menjadi motor pengembangan
komoditas strategis nasional sekaligus memperkuat kontribusi Lampung terhadap
ketahanan pangan dan industri masa depan Indonesia. [MFH/Pemerintah Provinsi
Lampung]











3.jpg)