- Di Bawah Ombak Laut Jawa: Ingatan tentang Benua yang Tenggelam
- Peringati Hari Koperasi ke-79, Pemprov Perkuat Kolaborasi untuk Dukung Program Strategis Nasional
- Pemkab Pesisir Barat Siap Gaspol Hilirisasi Agro
- Jalankan Arahan Presiden, Bupati Lampung Barat Cek Menu MBG di Sekincau dan Way Tenong
- Senyum dan Semangat Warnai MPLS di SMP Negeri 1 Way Tenong
- Perkuat Sinergi Pendidikan dan Pembangunan
- Bupati Hamartoni Tinjau Lokasi TMMD Ke-129, Perkuat Semangat Gotong Royong Membangun Desa
- Pemkab Lamteng Perkuat Implementasi Satu Data Indonesia Melalui Penilaian EPSS Tahun 2026
- Plt. Bupati Lampung Tengah Pimpin Apel Korpri
- Pemkot Metro Dorong Pembentukan Perpustakaan Khusus
Di Bawah Ombak Laut Jawa: Ingatan tentang Benua yang Tenggelam

Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Bayangkan suatu pagi, dua puluh ribu tahun
silam.
Saat itu, belum ada Selat Sunda yang memisahkan
Jawa dan Sumatra. Belum ada Laut Jawa yang membiru luas di antara pulau-pulau.
Belum ada kapal feri yang menyeberang dari Merak ke Bakauheni. Yang terbentang
di hadapan mata hanyalah hamparan padang rumput tak bertepi, hutan hujan tropis
yang lebat, sungai-sungai raksasa yang berkelok liar, dan kawanan gajah purba
yang berjalan gagah tanpa pernah menyadari bahwa jejak kaki mereka kelak akan
dipisahkan oleh lautan.
Baca Lainnya :
- Peringati Hari Koperasi ke-79, Pemprov Perkuat Kolaborasi untuk Dukung Program Strategis Nasional0
- Pemkab Pesisir Barat Siap Gaspol Hilirisasi Agro0
- Jalankan Arahan Presiden, Bupati Lampung Barat Cek Menu MBG di Sekincau dan Way Tenong0
- Senyum dan Semangat Warnai MPLS di SMP Negeri 1 Way Tenong0
- Perkuat Sinergi Pendidikan dan Pembangunan0
Pada masa itu, Semenanjung Malaya, Sumatra,
Jawa, dan Kalimantan bukanlah kepulauan yang terpisah. Mereka adalah satu
kesatuan daratan masif. Para ahli geologi menyebutnya Paparan Sunda atau
Sundaland—sebuah benua tropis yang kini sebagian besar telah tertidur pulas di
dasar samudra.
Lautan yang hari ini menjadi batas
administratif dan geografis kita, pada masa itu hanyalah lembah hijau dan
dataran rendah. Permukaan air laut berada 120 hingga 130 meter lebih rendah
daripada sekarang. Mengapa? Karena sebagian besar air bumi terkunci rapat dalam
lapisan es raksasa di kutub utara dan selatan, membekukan dunia dalam
cengkeraman Zaman Es terakhir (Last Glacial Maximum).
Di atas tanah kering itulah manusia purba
berjalan. Di atas tanah itu pula harimau, badak, gajah, banteng, dan orangutan
menyebarkan wilayah hidupnya dengan bebas, tanpa mengenal batas pulau, tanpa
hambatan gelombang.
Namun, bumi tidak pernah diam.
Ketika zaman es berakhir, iklim mulai
menghangat. Lapisan es di kutub mencair perlahan namun pasti. Air laut naik,
inch demi inch, tahun demi tahun, abad demi abad. Dataran rendah mulai
tergenang. Sungai-sungai raksasa berubah menjadi teluk. Lembah-lembah hijau
tenggelam menjadi dasar laut. Puncak-puncak perbukitan yang tersisa berubah
menjadi pulau-pulau yang kita huni sekarang.
Proses dramatis yang berlangsung ribuan tahun
inilah yang melahirkan wajah Indonesia seperti yang kita kenal hari ini.
Laut Jawa, sejatinya, adalah daratan yang
tenggelam.
Selat Malaka, dulunya, adalah sebuah lembah sungai.
Begitu pula Selat Sunda.
Bukti-buktinya masih bisa dibaca. Di dasar laut
yang dangkal tersebut, para ahli geologi dan oseanografi menemukan jejak-jejak
jaringan sungai purba yang dahulu mengalir melintasi Sundaland. Mereka
memberinya nama Sungai Sunda Utara dan Sungai Sunda Timur. Melalui pemetaan
batimetri modern, alur-alur sungai kuno itu tampak jelas, seolah bumi masih
menyimpan ingatan tajam tentang masa ketika Nusantara belum terpecah belah.
Jejak penyatuan itu tidak hanya tersimpan dalam
bebatuan sedimen. Ia juga hidup, bernapas, dan bergerak dalam tubuh satwa-satwa
yang kini menghuni pulau-pulau kita.
Pernahkah Anda bertanya: Mengapa orangutan
hanya ditemukan di Sumatra dan Kalimantan? Mengapa fosil gajah pernah ditemukan
di Jawa? Mengapa harimau pernah berkeliaran bebas dari daratan Asia hingga ke
ujung Jawa dan Sumatra?
Jawabannya sederhana namun menakjubkan: Mereka
datang ketika semuanya masih tersambung. Mamalia besar tidak memiliki kemampuan
untuk menyeberangi lautan lepas yang luas. Migrasi mereka terjadi melalui
daratan. Karena itu, kemiripan fauna di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan
Semenanjung Malaya menjadi bukti biologis paling otentik tentang keberadaan
Paparan Sunda. Kita berbagi nenek moyang ekosistem dengan tetangga kita di
seberang laut.
Sebaliknya, coba lihat ke timur, menuju
Sulawesi. Di sana, dunia berubah drastis.
Anda tidak akan menemukan harimau atau gajah.
Sebaliknya, Anda disambut oleh anoa, babirusa, tarsius, dan kuskus
beruang—satwa-satwa unik yang tidak ada di wilayah Paparan Sunda. Perubahan
tajam ini dijelaskan oleh Garis Wallace, sebuah batas biogeografi imajiner
namun nyata yang memisahkan fauna bercorak Asia dengan kawasan peralihan menuju
Australia.
Laut di sekitar Garis Wallace sangat dalam.
Bahkan saat permukaan laut turun drastis selama Zaman Es, celah laut dalam itu
tidak pernah kering. Itu sebabnya satwa Asia tidak pernah bisa menyeberang ke
Sulawesi secara alami. Laut menjadi tembok tinggi yang menjaga keunikan evolusi
di sisi lain.
Di antara data-data ilmiah yang dingin itu,
Nusantara juga menyimpan cerita-cerita yang lebih tua, yang disampaikan melalui
bisikan leluhur.
Dalam sejumlah naskah tradisional Jawa dan
Sunda, muncul kisah tentang Gunung Batuwara. Disebutkan bahwa gunung ini
meletus dengan dahsyat, membelah daratan, dan memicu banjir besar yang mengubah
muka bumi. Sebagian peneliti modern mengaitkan Gunung Batuwara dengan Krakatau
Purba. Ahli geologi Belanda, Berend George Escher, bahkan pernah
mengidentifikasi Batuwara sebagai nama lain bagi gunung purba yang kemudian
runtuh membentuk kaldera Krakatau yang kita kenal sekarang.
Legenda serupa juga termuat dalam Pustaka Raja
Parwa, yang mengisahkan letusan besar dan perubahan bentang alam yang drastis.
Meskipun hubungan langsung antara naskah kuno dan peristiwa geologi spesifik
masih menjadi bahan kajian akademis—para ilmuwan belum sepenuhnya sepakat
mengenai kronologi pastinya—fakta bahwa Krakatau memiliki sejarah letusan purba
yang kolosal tidak dapat dibantah.
Di titik inilah mitologi dan sains saling
bersalaman. Yang satu berbicara melalui simbol dan metafora ketakutan manusia
purba. Yang lain berbicara melalui lapisan batuan dan fosil. Keduanya, pada
hakikatnya, sedang berusaha mengingat masa lalu bumi yang sama.
Kini, yang tersisa dari Sundaland hanyalah
serpihan-serpihan pulau. Namun, jangan salah sangka. Pulau-pulau yang terpisah
ini justru menjelma menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati terbesar di
dunia.
Sumatra masih setia menjaga orangutan dan
harimau sumatra.
Kalimantan menjadi benteng terakhir bagi bekantan dan orangutan kalimantan.
Jawa, dengan segala padatnya penduduk, masih menyisakan ruang suci bagi badak
jawa di Ujung Kulon.
Sulawesi membanggakan keunikan anoa dan babirusa.
Dan Papua, di ujung timur, menjadi habitat eksklusif bagi kanguru pohon dan
ekidna, mamalia bertelur yang nyaris tak ditemukan di belahan bumi lain.
Keanekaragaman ini bukan sekadar statistik
kekayaan alam. Ia adalah arsip evolusi yang ditulis selama jutaan tahun, sebuah
perpustakaan hidup yang mencatat bagaimana kehidupan beradaptasi terhadap
perubahan bumi yang radikal.
Barangkali, laut yang hari ini memisahkan kita
bukanlah dinding pemisah. Ia adalah halaman-halaman sejarah bumi yang terbuka.
Di bawah deburan ombak Laut Jawa dan Selat
Sunda, tersembunyi jejak sungai, hutan, dan padang rumput yang pernah diinjak
oleh kaki-kaki manusia purba dan telapak-telapak mamalia raksasa. Indonesia
ternyata bukan sekadar negeri kepulauan yang acak. Ia adalah pecahan dari
sebuah benua agung yang perlahan tenggelam, meninggalkan pulau-pulau sebagai
kenangan, dan menyisakan pesan abadi: bahwa bumi selalu berubah, dinamis, dan
tak pernah berhenti bergerak. Sementara kita, manusia, hanyalah sesaat menjadi
saksi dalam perjalanan panjang planet ini. (*)











3.jpg)