- Gubernur Mirza Dorong Perubahan APBD 2026 Tepat Sasaran dan Beri Manfaat Nyata
- GAK Masih Siaga, Pemprov Lampung Pastikan Sekolah Kembali Tatap Muka Mulai Besok
- Benahi Tata Niaga Beras, Gubernur Mirza Dorong KDMP Terintegrasi dengan Perpadi dan Perbankan
- DWP Tanggamus Gelar Pelatihan Jarimatika, Dorong Guru TK Tingkatkan Kreativitas Pembelajaran Anak
- Pemprov Lampung Lepas 57 Kafilah MTQ Nasional XXXI 2026 ke Jawa Tengah
- Pemprov Lampung Gelar Shalat Istisqa, Gubernur Mirza Ajak Masyarakat Perkuat Ikhtiar Hadapi Kemarau
- Wabup Pesawaran Hadiri Peringatan Maulid Nabi 1448 H DKM Al-Muttaqin
- Ground Breaking Jembatan Perintis Garuda Tahap VII, Perkuat Akses Pertanian Sampai ke Desa
- Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah Tekankan Mitigasi Bencana di Kawasan Pesisir
- Wabup Azwar Hadi Hadiri Grand Opening Apotek Tani Makmur Desa Sidodadi Sekampung
Benahi Tata Niaga Beras, Gubernur Mirza Dorong KDMP Terintegrasi dengan Perpadi dan Perbankan

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Gubernur Rahmat Mirzani
Djausal menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung dalam membenahi tata
niaga komoditas beras dari hulu ke hilir. Langkah strategis tersebut diwujudkan
dengan mendorong integrasi kelembagaan antara Koperasi Desa/Kelurahan Merah
Putih (KDMP), Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi),
BUMDes, serta sektor perbankan.
Hal tersebut disampaikan Gubernur
saat memimpin Rapat Penguatan Kelembagaan dan Usaha Koperasi Desa/Kelurahan
Merah Putih di Ruang Rapat Sakai Sambayan, Kamis (10/9/2026).
Dalam arahannya, Gubernur
memaparkan bahwa Lampung merupakan lumbung pangan nasional dengan kontribusi
produksi mencapai 3,2 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara 1,7 juta
ton beras. Dari jumlah tersebut, konsumsi masyarakat Lampung hanya berada di
kisaran 800 ribu ton per tahun sehingga daerah ini mencatatkan surplus beras
lebih dari 900 ribu ton.
Baca Lainnya :
- Pemprov Lampung Lepas 57 Kafilah MTQ Nasional XXXI 2026 ke Jawa Tengah0
- Pemprov Lampung Gelar Shalat Istisqa, Gubernur Mirza Ajak Masyarakat Perkuat Ikhtiar Hadapi Kemarau0
- 12 Raperda Inisiatif DPRD Lampung Menyasar Sektor Strategis0
- GAK Masih Siaga, Pemprov Perkuat Mitigasi dari Laut hingga Layanan Kesehatan0
- Pemprov Lampung Ajukan Dua Raperda, Tarif RS dan Penguatan Inovasi0
Meski demikian, Gubernur menyoroti
adanya anomali tata niaga dimana produsen gabah justru kerap dihadapkan pada
lonjakan inflasi harga beras dan penurunan operasional penggilingan padi lokal
akibat rantai pasok yang terlalu panjang.
"Di era 80-an, 90-an, lumbung
pasokan beras itu ada di kota-kota, ada di desa masing-masing. Tidak ada
gejolak lonjakan pasokan beras berlebih. Kebutuhan beras terserap dengan
baik," ujar Gubernur Rahmat Mirzani Djausal mengulas transformasi sistem
logistik beras.
Gubernur menambahkan, terbukanya
akses logistik tanpa proteksi kelembagaan desa memicu pembelian gabah secara
masif oleh korporasi luar daerah yang berakibat pada berhentinya aktivitas
usaha penggilingan kecil di tingkat lokal.
"Di Provinsi Lampung, gabah
melimpah, produksi melimpah. Tapi saat tidak musim panen, setiap tahun ada 200
rice milling yang roboh, bangkrut. Kenapa? Inflasi tinggi. Padahal produksi
beras tinggi. Tapi inflasi beras ikut tinggi," ungkapnya.
Menjawab tantangan tersebut,
Gubernur menginstruksikan KDMP untuk bertindak sebagai simpul agregator
penyerap hasil panen petani di tingkat desa guna memotong rantai distribusi
yang selama ini mencapai 7 hingga 8 tingkatan pedagang perantara.
"KDMP ini instrumen yang
tepat. Manajernya sudah siap, pengurus sudah siap. Sekarang bagaimana
integrasinya dengan Perpadi dan perbankan seperti Bank Mandiri. Perpadi yang
punya penggilingan, KDMP yang menyerap di desa," tutur Gubernur.
Guna memastikan efektivitas
penyerapan di lapangan, Gubernur menekankan pentingnya kecepatan likuiditas
perbankan agar koperasi memiliki modal kerja yang memadai guna melakukan
pembayaran tunai kepada para petani.
Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir
(LPDB) Koperasi Krisdianto Soedarmono menyampaikan bahwa kehadirannya merupakan
tindak lanjut arahan Menteri Koperasi guna memastikan kesiapan permodalan KDMP
berjalan seiring dengan persiapan regulasi dan infrastruktur gerai secara
nasional.
"Tupoksi kami adalah
memberikan pinjaman, bukan hibah, pinjaman kepada koperasi. Mau simpan pinjam
mau non simpan pinjam, sekarang KDMP juga sama, bisa kita berikan. Sifatnya
yang di Lampung ini adalah sebagai suatu piloting yang pastinya kami akan
dukung," ujar Krisdianto.
Terkait suku bunga, Krisdianto
memaparkan bahwa pembiayaan LPDB menawarkan skema yang jauh lebih terjangkau
dan akuntabel bagi koperasi desa dibandingkan bunga perbankan konvensional.
Guna mengantisipasi kebutuhan
permodalan kerja yang mendesak seperti penyerapan gabah petani setempat, LPDB
menyiapkan skema transisi (bridging) dengan menunjuk koperasi besar binaan
Kemenkop sebagai orang tua asuh pendamping.
"Karena kita tahu tidak semua
KDMP bisa dengan segera mengakses dengan adanya Permenkop 9 karena butuh waktu,
makanya kita membedakan mana yang butuhnya cepat. Kalau butuhnya cepat, makanya
Pak Menteri menugaskan kepada kami membuat program namanya Koperasi Orang Tua
Asuh. Yang nantinya dia yang akan membantu sementara waktu saja, tidak
selamanya, sampai dengan koperasi KDMP ini berproses di LPDB," jelas
Krisdianto.
Pada tahap awal, pola pembinaan dan
pembiayaan terpadu ini akan diujicobakan pada satu hingga tiga KDMP di Lampung,
utamanya koperasi yang telah memiliki fondasi kelembagaan kuat. Selain aspek
permodalan gerai dan pangan, LPDB membuka peluang pembiayaan langsung alat
pengering gabah (dryer) dan cold storage untuk menjaga stabilitas rantai pasok
komoditas lokal. [MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]











3.jpg)