- Wabup Pesawaran Hadiri Diskusi Publik Rembuk Pemuda Lampung
- Gas Amal Ojek Manol, Simbol Kearifan Lokal dan Semangat Gotong Royong Masyarakat
- PMI Lampung Timur Asah Keterampilan PMR Lewat Lomba Tandu Darurat
- Pemkab Lamtim Perkuat Kolaborasi Mitigasi Konflik Gajah
- Wali Kota Metro Buka Musyawarah Daerah VI LDII
- Pemkot dan DPRD Metro Teken KUPA-PPAS Perubahan APBD 2026, Pendapatan Naik Rp 29,9 Miliar
- Bupati Hadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
- Bupati Parosil Dorong Lampung Barat Naik Kelas dari Penghasil ke Pengolah Kopi
- Pemkab Serahkan Bantuan Seragam dan Buku Gratis Kepada 688 Pelajar Kebun Tebu
- Gubernur Mirza Apresiasi Siger Run 2026, Perkuat Literasi Ekonomi dan Transformasi Digital
Bupati Parosil Dorong Lampung Barat Naik Kelas dari Penghasil ke Pengolah Kopi

LAMPUNG BARAT, MFH,-- Bupati Lampung Barat
Parosil Mabsus membuka Coffee Camp ke-4 di Curug Padae, Kecamatan Way Tenong,
Sabtu (12/9/2026) Malam.
Dalam sambutannya, Parosil menegaskan Lampung
Barat tidak boleh berhenti sebagai daerah penghasil biji kopi. Daerah harus
naik kelas menjadi pengolah, pengembang, hingga pembangun merek kopi sendiri.
“Kita tidak boleh berhenti hanya pada posisi
sebagai daerah penghasil biji kopi. Kita harus terus bergerak dari sekadar
menghasilkan kopi menjadi daerah yang mampu memahami, mengolah, mengembangkan,
memasarkan, dan membangun nilai tambah dari kopi,” kata Parosil.
Baca Lainnya :
- Pemkab Serahkan Bantuan Seragam dan Buku Gratis Kepada 688 Pelajar Kebun Tebu 0
- Ribuan Peserta Ikuti KONI Fun Run HUT Lambar, Dua Motor jadi Rebutan Warga0
- Bantuan 766 Seragam Gratis Pemkab Lambar Hapus Jurang Kaya Miskin di Sekincau0
- Gaji PPPK Paruh Waktu Lambar Naik Oktober 2026, Terendah Rp750 Ribu0
- Bupati Parosil Siap Bawa Kopi Robusta Lampung Barat ke Panggung Nasional0
Ia menyebut tema “Telusuri Kopi Menelusuri Rasa,
Memahami Proses” relevan untuk menunjukkan perjalanan kopi secara utuh. Mulai
dari benih, perawatan kebun, panen, pascapanen, roasting, cupping, hingga
secangkir kopi yang disajikan.
Di balik secangkir kopi, kata Parosil, ada
tanah, petani, keluarga, pengetahuan, proses, dan nilai ekonomi. Karena itu
generasi muda harus dilibatkan agar tidak memandang pertanian sebagai pekerjaan
masa lalu.
Menurutnya, regenerasi petani, tidak cukup
dengan mengajak anak muda kembali ke kebun. Anak muda juga harus melihat peluang
sebagai barista, roaster, pelaku usaha, content creator, peneliti, hingga
pembangun merek.
Parosil juga menyorot peran perempuan. Ia
mendorong perempuan tidak hanya berada di belakang proses produksi, tetapi juga
mengolah, berinovasi, dan ikut menentukan nilai ekonomi kopi keluarga.
“Kopi yang dipanen oleh suami di kebun, harus
dapat menjadi peluang ekonomi yang juga dapat dikelola dan dikembangkan oleh
istri di rumah. Dengan demikian, kopi tidak hanya menjadi sumber pendapatan
bagi petani, tetapi menjadi sumber penguatan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Ia mengapresiasi rangkaian kegiatan Coffee Camp
yang menyasar pelajar melalui “Coffee Camp Goes to School” di tiga sekolah.
Tujuannya agar anak muda Lampung Barat mengenal potensi kopi di daerahnya
sendiri, bukan hanya dari merek luar.
Parosil menilai kopi bisa menjadi pintu masuk
untuk mempertemukan pendidikan, kreativitas, kewirausahaan, lingkungan, budaya,
dan pariwisata. Ia menekankan branding kopi Lampung Barat harus dibangun lewat
cerita, kualitas, dan pengalaman.
Ia berharap Coffee Camp menjadi ruang
kolaborasi pemerintah, petani, pemuda, perempuan, akademisi, dunia usaha, dan
mitra pembangunan.
“Kalau Lampung Barat punya kopi, maka anak
mudanya harus menjadi bagian dari masa depan kopi itu,” tegas Parosil.
Kegiatan ini juga dirangkai
sebagai bagian peringatan HUT ke-35 Kabupaten Lampung Barat. [MFH/Diskominfo
Lampung Barat]











3.jpg)