- Pertumbuhan Ekonomi Daerah Jadi Kunci, Pemda Diminta Ciptakan Mesin Pertumbuhan Baru
- Entry Meeting BPK Dimulai, Marindo Tegaskan Pemeriksaan untuk Pastikan APBD Tepat Sasaran
- 20 Kecamatan Terdampak Abu Vulkanik, KBM Dialihkan Daring 7–8 September
- Bupati Perintahkan OPD Bergerak Cepat Antisipasi Abu Krakatau dan Karhutla
- Bupati Harap KONI Expo Bukan Pameran, Tapi Pencetak Juara dan Penggerak Ekonomi
- Vesta Pantai 2026 Meriahkan Pesisir Barat
- Waspada Dampak Abu Vulkanik GAK, Masyarakat Diminta Pantau Informasi Resmi
- Dampak Erupsi GAK, Pendapatan Nelayan Lampung Selatan Anjlok Hingga 70 Persen
- Gubernur Lampung Imbau Mastarakat Waspada Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau
- Gubernur Lampung Alihkan KBM ke Pembelajaran Daring
Pertumbuhan Ekonomi Daerah Jadi Kunci, Pemda Diminta Ciptakan Mesin Pertumbuhan Baru

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Pemerintah Provinsi
Lampung yang diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum, dan
Politik Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansah, mengikuti Rapat Koordinasi
Pengendalian Inflasi di Daerah Tahun 2026 yang dirangkai dengan Rilis
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Triwulan II Tahun 2026 secara virtual
bertempat di Ruang Command Center Lantai II Dinas Komunikasi, Informatika, dan
Statistik Provinsi Lampung, Senin (07/09/2026).
Dalam arahannya, Menteri Dalam Negeri Muhammad
Tito Karnavian mengatakan pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi
merupakan dua indikator penting yang harus terus dikawal pemerintah, baik di
tingkat pusat maupun daerah.
Ia menyebutkan, inflasi nasional secara year on
year berada pada angka 3,19 persen, meningkat dibandingkan periode sebelumnya
sebesar 2,8 persen. Sementara secara month to month, terjadi kenaikan sebesar
0,21 persen.
Baca Lainnya :
- Entry Meeting BPK Dimulai, Marindo Tegaskan Pemeriksaan untuk Pastikan APBD Tepat Sasaran0
- Gubernur Lampung Imbau Mastarakat Waspada Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau0
- Gubernur Lampung Alihkan KBM ke Pembelajaran Daring0
- Aktivitas Gunung Anak Krakatau Dipantau, Pelayanan Merak-Bakauheni Tetap Berjalan0
- Pemprov Imbau Masyarakat Tetap Tenang dan Gunakan Masker Hadapi Abu Vulkanik GAK0
Menurutnya, kelompok makanan, minuman, dan
tembakau menjadi salah satu penyumbang utama kenaikan tersebut. Sejumlah
komoditas yang perlu menjadi perhatian antara lain daging ayam ras, cabai
rawit, ikan, udang, dan beras.
"Khusus untuk masalah beras ini, saya
sudah sampaikan kepada Bapak Dirut Bulog. BPS memiliki data yang mengungkap
kabupaten/kota mana saja yang terjadi kenaikan dan mana yang mengalami
penurunan," ujar Tito.
Ia menekankan, data tersebut harus menjadi
dasar bagi pemerintah untuk menentukan wilayah yang membutuhkan intervensi
secara lebih spesifik, antara lain melalui penyaluran beras SPHP, pasar murah,
maupun bentuk dukungan lainnya.
Tito juga mengingatkan pemerintah daerah untuk
mewaspadai potensi penurunan produksi akibat kondisi cuaca, termasuk kemarau
panjang dan fenomena El Nino yang dapat berdampak terhadap pasokan serta harga
pangan.
Selain inflasi, Tito menekankan pentingnya
menjaga pertumbuhan ekonomi melalui empat komponen utama, yakni konsumsi rumah
tangga, belanja pemerintah, investasi, serta ekspor neto atau selisih antara
ekspor dan impor.
"Konsumsi rumah tangga menyumbang hampir
50 persen angka pertumbuhan ekonomi. Apakah masyarakat memiliki daya beli
sehingga mereka belanja dan konsumsi, itu menjadi penyumbang terbesar,"
jelasnya.
Karena itu, pemerintah harus memastikan daya
beli masyarakat tetap terjaga. Di sisi lain, belanja pemerintah juga harus
diarahkan agar uang pemerintah beredar di masyarakat dan mampu menstimulasi
aktivitas sektor swasta.
Komponen berikutnya adalah investasi. Menurut
Tito, semakin besar investasi yang masuk, semakin besar pula peluang pembukaan
lapangan kerja, peningkatan modal, dan perputaran ekonomi masyarakat.
Sementara dari sisi perdagangan, pemerintah
perlu mendorong dunia usaha dan UMKM agar semakin berorientasi ekspor.
Peningkatan ekspor sekaligus pengendalian impor dinilai penting untuk
memperkuat perekonomian nasional.
"Kalau ekspor lebih banyak daripada impor,
otomatis kita akan memiliki devisa, kita surplus dalam perniagaan
internasional. Itu akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan
ekonomi," katanya.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy
mengatakan pertumbuhan ekonomi daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menyampaikan, perekonomian Indonesia tumbuh
5,61 persen, sementara pada semester pertama 2026 pertumbuhan ekonomi mencapai
5,45 persen.
Menurutnya, capaian tersebut harus menjadi momentum
untuk terus melakukan akselerasi menuju target pertumbuhan ekonomi sebesar 8
persen pada 2029.
"Kita tidak boleh berhenti pada capaian
tersebut. Bapak Presiden selalu memberikan arahan yang sangat jelas bahwa
ekonomi kita harus tumbuh dan berakselerasi menuju 8 persen pada tahun
2029," ujar Rachmat.
Ia menegaskan, target tersebut membutuhkan
kerja bersama yang terintegrasi antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah
daerah didorong mengoptimalkan potensi unggulan masing-masing, meningkatkan
investasi, menciptakan lapangan kerja, serta memastikan APBD digunakan untuk
belanja yang produktif.
Rachmat menjelaskan, pengawalan pertumbuhan
ekonomi harus dilakukan melalui tiga tahapan utama, yakni pemantauan,
pengawalan, dan percepatan.
Pemantauan diperlukan untuk membaca
perkembangan berbagai indikator ekonomi, baik yang berasal dari dalam maupun
luar negeri. Selanjutnya, pengawalan dilakukan untuk mengidentifikasi
kesenjangan terhadap target, hambatan, serta persoalan yang membutuhkan
penyelesaian lintas sektor dan lintas daerah.
"Ketiga, percepatan menjadi intervensi
konkret dan dukungan kebijakan agar momentum pertumbuhan tidak hilang dan
perekonomian kita bisa bergerak lebih cepat," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya memastikan
pembangunan dapat dirasakan hingga daerah-daerah kecil dan masyarakat yang
masih tertinggal.
"Bappenas mempunyai motto no one left
behind, dan itu saya catat benar. Pembangunan harus diarahkan kepada
masyarakat, yang paling penting juga diarahkan kepada masyarakat yang
tertinggal," ujarnya.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah
pusat dan daerah perlu bergerak dalam satu arah melalui intervensi yang saling
memperkuat. Prioritas nasional harus diterjemahkan pemerintah daerah sesuai
potensi dan karakteristik wilayah masing-masing.
Rachmat mendorong pemerintah daerah mempercepat
penyerapan APBD, mengurangi hambatan birokrasi, menyederhanakan perizinan,
mempercepat layanan, memperbaiki konektivitas dan logistik, serta memperkuat
sinergi dengan dunia usaha dan perbankan.
"Perencanaan tidak berhenti pada target,
tetapi juga dilanjutkan dengan rencana kerja dan rencana aksi," tegasnya.
Ia menambahkan, seluruh proses tersebut perlu
dipantau melalui early warning indicator dan evaluasi berkala agar potensi
perlambatan dapat segera diantisipasi.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik
(BPS) RI Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi
nasional tidak terlepas dari kinerja ekonomi daerah.
"Pada saat kami menghitung pertumbuhan
ekonomi, juga kami lakukan agregasi dari pertumbuhan ekonomi daerah dari
kabupaten/kota, kemudian menjadi provinsi dan dari provinsi menjadi pertumbuhan
ekonomi nasional," jelas Amalia.
Ia menyampaikan, ekonomi Indonesia pada
triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen, sedangkan secara kumulatif semester I 2026
tumbuh 5,45 persen.
Pertumbuhan triwulan II 2026 tersebut menjadi
yang tertinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan II pada empat tahun
sebelumnya.
BPS juga mencatat peningkatan jumlah daerah
yang mampu mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen. Sepanjang 2025,
terdapat 48 kabupaten/kota yang tumbuh di atas 6 persen. Angka tersebut
meningkat menjadi 99 kabupaten/kota pada semester I 2026.
"Dalam waktu kurang dari satu tahun, sudah
meningkat jumlahnya dua kali lipat, dari yang tadinya hanya 48 kabupaten/kota,
saat ini sudah ada 99 kabupaten/kota yang mampu tumbuh di atas 6 persen,"
kata Amalia.
Lebih lanjut, pada triwulan II 2026 terdapat
201 kabupaten/kota yang pertumbuhan ekonominya berada di atas pertumbuhan
ekonomi nasional.
Menurut Amalia, capaian tersebut menunjukkan
bahwa setiap daerah memiliki potensi dan karakteristik ekonomi yang berbeda
sehingga strategi pembangunan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama
untuk seluruh wilayah.
"Jadi tidak bisa one size fits all.
Masing-masing daerah harus ditreatment secara spesifik sesuai dengan keunggulan
daerahnya masing-masing," ujarnya.
Amalia menyebutkan, di Pulau Sumatera terdapat
53 kabupaten/kota yang tumbuh antara 5 hingga 8 persen, bahkan dua daerah telah
tumbuh di atas 8 persen.
Di Pulau Jawa, tiga kabupaten/kota tercatat
tumbuh di atas 8 persen.
Amalia menegaskan, keberhasilan sejumlah daerah
tersebut menjadi pembelajaran bahwa pemetaan potensi ekonomi daerah dapat
menjadi kunci untuk menciptakan mesin pertumbuhan baru.
"Banyak peluang dari kabupaten/kota yang
memang bisa didorong dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah. Ada daerah
yang potensinya berbasis pertambangan, perkebunan, pertanian, peternakan,
bahkan industri," katanya.
Melalui penguatan sinergi pusat dan daerah,
pengendalian inflasi, peningkatan investasi, optimalisasi belanja pemerintah,
serta pengembangan sektor unggulan daerah, pemerintah optimistis pertumbuhan
ekonomi yang tinggi dapat berlangsung secara berkelanjutan sekaligus memberikan
manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari
fondasi pengawalan kinerja ekonomi 2026 dan akselerasi pembangunan pada 2027
dalam rangka mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, dan
berkeadilan. [MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]











3.jpg)