- Pemprov Lampung Perkuat Langkah Jaga Stabilitas Harga Pangan dan Daya Beli Masyarakat
- Pemprov Lampung Dorong BUMDes Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Desa
- Dukung Prestasi Siswa, Kepala Kemenag Bandar Lampung Serahkan Penghargaan OMI 2026
- Kemenag Bandar Lampung Dukung GAPMA 2026, Pramuka jadi Wadah Pembentukan Karakter
- Walikota Metro Ajak Lansia Hidup Sehat dan Kompak di Gebyar Senam LLI
- Sekda Metro Hadiri Bakti Sosial HUT ke-81 TNI di Kodim 0411/KM
- TP PKK Lampung Tengah Gelar Kerja Bakti Bersihkan Taman Anggrek Agro Park
- Pemkab Lamteng Siapkan Data Hadapi Pemeriksaan BPK RI Terkait Ketahanan Pangan
- Evakuasi Medis Jalur Udara, Dinkes-BPBD-TNI AU Mulai Uji Kesiapan
- Pemprrov Lampung Perkuat Gerakan Peduli Lingkungan, ASN Diminta Jadi Teladan
Pemprov Lampung Perkuat Langkah Jaga Stabilitas Harga Pangan dan Daya Beli Masyarakat

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Pemerintah Provinsi
Lampung mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dipimpin
oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Sekjen Kemendagri), Tomsi
Tohir, secara daring dari Ruang Command Center Lt. II Dinas Kominfotik Provinsi
Lampung, Senin (21/9/2026).
Pada kesempatan tersebut,
Pemerintah Provinsi Lampung diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang
Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Yanyan Ruchyansyah, didampingi jajaran
perangkat daerah terkait.
Dalam arahannya, Sekjen Kemendagri
Tomsi Tohir mengatakan bahwa Rakor pengendalian inflasi merupakan agenda rutin
yang krusial dan telah dilaksanakan secara konsisten hampir 200 kali pertemuan
setiap minggunya.
Baca Lainnya :
- Pemprov Lampung Dorong BUMDes Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Desa0
- Dukung Prestasi Siswa, Kepala Kemenag Bandar Lampung Serahkan Penghargaan OMI 20260
- Kemenag Bandar Lampung Dukung GAPMA 2026, Pramuka jadi Wadah Pembentukan Karakter0
- Pemprrov Lampung Perkuat Gerakan Peduli Lingkungan, ASN Diminta Jadi Teladan0
- Sekda Marindo Tutup Lampung Begawi x SigerFest 20260
"Kita akan terus melaksanakan
ini untuk menjaga harga barang-barang terutama pangan tetap stabil, sehingga
kita memberikan sesuatu yang terbaik berkaitan dengan daya beli masyarakat juga
dapat terjaga," ujar Tomsi Tohir.
Tomsi juga mengingatkan kepada
seluruh jajaran pemerintah pusat dan daerah untuk terus menjaga semangat dalam
mengawal kestabilan harga komoditas strategis bagi masyarakat luas.
"Kami berharap kita tetap
semangat karena ini adalah hal yang utama, berkaitan dengan harga-harga
khususnya barang-barang pokok yang penting yang setiap hari seluruh bangsa
kita, masyarakat kita, membutuhkan," tegasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Statistik
Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, melaporkan adanya tren peningkatan
jumlah kabupaten dan kota yang mengalami lonjakan Indeks Perkembangan Harga
(IPH) pada pekan ketiga September 2026. Komoditas hortikultura, khususnya cabai
rawit dan cabai merah, serta komoditas pangan pokok seperti beras dan daging
ayam ras, menjadi faktor dominan pemicu fluktuasi harga di berbagai daerah.
Dalam paparannya, Ateng
menyampaikan bahwa tren kenaikan harga pangan meluas secara bertahap dari pekan
ke pekan.
"Untuk yang minggu ketiga
September 2026 terjadi peningkatan jumlah kabupaten/kota yang IPH-nya mengalami
kenaikan, yaitu menjadi 319 kabupaten/kota yang IPH-nya mengalami peningkatan.
Di minggu yang lalu 314. Bahkan Bapak, Ibu semuanya, pada minggu keempat
Agustus hanya 242 kabupaten/kota," ungkap Ateng.
Terkait komoditas cabai rawit, BPS
menyoroti lonjakan harga yang konsisten naik menyerupai anak tangga selama
empat pekan berturut-turut.
"Kenaikannya mohon maaf
seperti anak tangga, yaitu naik terus mulai dari mulai minggu keempat di bulan
yang lalu sampai dengan minggu ketiga di bulan ini. Dilihat dari jumlah
kabupaten/kotanya sekarang mencapai 265 kabupaten/kota yang cabai rawitnya
mengalami peningkatan," jelasnya.
Secara nasional, harga cabai rawit
melonjak 29,85 persen menjadi Rp77.596 per kilogram, jauh di atas Harga Acuan
Penjualan (HAP) sebesar Rp57.000 per kilogram. Kenaikan serupa juga terjadi
pada cabai merah yang naik 15,83 persen dan telah menyentuh batas atas HAP di
248 kabupaten/kota.
Selain cabai, komoditas beras turut
menjadi perhatian serius menyusul kenaikan harga beras medium (0,76 persen) dan
premium (0,69 persen) pada pekan ketiga. Tercatat sebanyak 152 kabupaten/kota
mengalami kenaikan harga beras, dengan lonjakan IPH beras tertinggi berada di
Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, yang mencapai 47,94 persen. Di samping
itu, komoditas daging ayam ras juga tercatat bertahan di atas HAP dengan
rata-rata harga Rp41.900 per kilogram (HAP Rp40.000) setelah mengalami kenaikan
3,04 persen di 221 daerah.
Sebaliknya, pergerakan terkendali
terlihat pada komoditas bawang merah yang mengalami deflasi sebesar 2,99 persen
ke posisi Rp36.262 per kilogram atau mendekati batas bawah HAP. Untuk minyak
goreng pasar rakyat mengalami kenaikan tipis 0,13 persen, sedangkan minyak
goreng program pemerintah (Minyakita) turun 0,06 persen.
Ateng mengimbau seluruh
pemerintah daerah untuk terus mencermati dua indikator utama, yaitu perubahan
IPH dan level harga aktual terhadap acuan resmi. Langkah mitigasi, pengawasan
rantai pasok, dan operasi pasar diharapkan terus diperkuat guna menahan laju
inflasi pangan agar tidak membebani daya beli masyarakat menjelang akhir
tahun. [MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]











3.jpg)