- KADIN Lampung Selatan Mantapkan Persiapan Rakerda 2026
- 101 CPNS Pemkab Pringsewu Ikuti Prosesi Pengambilan Sumpah PNS
- Sektor Pertanian Miliki Peran Sangat Strategis Dalam Pembangunan Daerah
- Dibuka Bupati Pringsewu, 32 Tim Ikuti Turnamen Sepakbola Bupati Cup 2026
- Sekda Rustam Effendi Tekankan Disiplin ASN, Absensi dan Kehadiran Pegawai Dievaluasi
- Jelang Pilkades, Pemkab Lamtim Tekankan Keamanan, Persatuan, dan Netralitas ASN
- Wakil Wali Kota Metro Ajak Generasi Muda Jadi Penggerak Ekonomi dan Agen Perubahan
- Pemkot Metro Resmikan Titik Koleksi Buku Digital Berbasis QR Code
- Pak Cik Parosil Wawancarai Calon Organ BUMD, Hasil Seleksi Diumumkan 10 November
- Wabup Mad Hasnurin: Penyaluran KUR Harus Dipermudah, Petani Kopi Jangan Kesulitan Akses Modal
Pak Cik Parosil Redam Ketegangan Warga dan Petugas Damkar

LAMPUNG BARAT, MFH,-- Suasana haru menyelimuti
pertemuan Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, dengan masyarakat dan petugas
Pemadam Kebakaran (Damkar) di Pekon Way Nyerupa, Kecamatan Sukau, Senin
(2/11/2026).
Di tengah suasana yang sebelumnya sempat
diwarnai ketegangan akibat kesalahpahaman saat penanganan kebakaran, Pak Cik, sapaan
akrab Parosil, hadir membawa pesan kesejukan. Ia meminta seluruh pihak saling
memahami, membuka hati, dan tidak lagi memperpanjang persoalan yang telah
terjadi.
Dengan nada penuh empati, Parosil menegaskan
bahwa tidak ada pihak yang perlu disalahkan. Masyarakat dan petugas Damkar
sesungguhnya memiliki tujuan yang sama, yakni menyelamatkan nyawa dan harta
benda dari amukan si jago merah. Hanya saja, situasi darurat, kepanikan, dan
tekanan psikologis saat kejadian membuat kesalahpahaman tidak terhindarkan.
Baca Lainnya :
- Pak Cik Parosil : Lambar Sediakan Lahan 400 Hektare Uji Coba Bawang Putih0
- Bupati Parosil: Pendidikan Harus Memanusiakan dan Berakar Pada Budaya0
- Lima Rumah Terbakar di Sukau, Pemkab Lambar Salurkan Bantuan0
- Buka Liga Santri PCNU Cup 2026, Bupati: Santri Bukan Hanya Ngaji, Membangun Itu Soal Hati0
- Audiensi dengan Kanwil DJPB Lampung, Bupati Dorong Hilirisasi Kopi dan Peningkatan DAU-DAK0
“Petugas Damkar datang bukan untuk mencari
masalah, tetapi menjalankan tugas kemanusiaan. Begitu juga masyarakat, tentu
ingin rumah dan harta bendanya segera diselamatkan. Karena itu, mari kita
saling memahami. Dengan kehadiran kami sore ini, saya berharap persoalan
tersebut dianggap selesai,” ungkapnya.
Bagi Parosil, peristiwa tersebut harus menjadi
pelajaran berharga, bukan justru meninggalkan luka dan memperlebar jarak antara
masyarakat dengan petugas yang selama ini hadir ketika warga membutuhkan pertolongan.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada lagi suara-suara yang memperkeruh suasana
dan merusak hubungan baik antara warga dan petugas Damkar.
Di hadapan masyarakat, Parosil turut
menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Lampung Barat juga harus melakukan
evaluasi. Ia mengakui armada pemadam kebakaran yang dimiliki saat ini sudah
berusia cukup tua, sementara jumlah personel masih terbatas.
“Satu unit mobil pemadam kebakaran hanya diisi
empat sampai lima orang petugas. Kita harus memahami bahwa mereka juga memiliki
keterbatasan. Jangan sampai ketika mereka datang membantu, justru kita tidak
memberikan ruang bagi mereka untuk bekerja,” pesannya.
Pada kesempatan itu, kepedulian pemerintah juga
diwujudkan melalui pemberian santunan sebesar Rp8 juta kepada setiap korban
kebakaran, yang bersumber dari Pemerintah Daerah dan Badan Amil Zakat Nasional
(Baznas) Lampung Barat. Bantuan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan
beban warga yang tengah menghadapi musibah.
Di balik bantuan itu, tersimpan pesan bahwa
masyarakat yang tertimpa musibah tidak boleh merasa sendirian. Pemerintah hadir
bukan hanya untuk memberikan bantuan, tetapi juga memberikan perhatian dan
dukungan moril di tengah situasi sulit yang mereka hadapi.
Parosil juga mengingatkan masyarakat agar lebih
berhati-hati sebelum meninggalkan rumah, terutama dengan memastikan instalasi
listrik dan kompor dalam keadaan aman. Menurutnya, hampir 90 persen kejadian
kebakaran di Lampung Barat disebabkan korsleting listrik, meskipun faktor
kelalaian juga perlu diwaspadai.
Sebagai langkah antisipasi, ia meminta agar
Satgas Taruna Siaga Bencana (Tagana) di tingkat pekon dan kecamatan kembali
diaktifkan. Menurutnya, penanganan bencana tidak bisa hanya mengandalkan
petugas Damkar, terlebih dengan keterbatasan personel dan peralatan yang ada.
Pertemuan sore itu menjadi pengingat bahwa di
tengah musibah, yang paling dibutuhkan bukanlah saling menyalahkan, melainkan
kepedulian dan kebersamaan. Sebab, api memang dapat menghanguskan rumah dan
harta benda, tetapi jangan sampai kesalahpahaman membakar rasa persaudaraan.
“Mari kita saling memaafkan, saling memahami,
dan kembali bergandengan tangan. Karena pada akhirnya, kita semua adalah
keluarga yang harus saling membantu,” demikian pesan kemanusiaan yang ingin
ditegaskan dalam pertemuan tersebut. [MFH/Diskominfo]











