- Bursa Ketua IJTI Krakatau Raya: Jurnalis Kompas TV Serahkan Berkas Pendaftaran
- Sektor Perkebunan jadi Penopang Ekonomi, Pemprov Lampung Perkuat Produksi hingga Hilirisasi
- Pringsewu Raih Penghargaan Kabupaten Pangan Aman Level 5 dari Badan POM
- Kadis Kominfo Tekankan Pentingnya Transformasi Digital di Pemkab Lamtim
- Bupati Ela Siti Nuryamah, Terima Silaturahmi Siswa Seskoad 2026
- Ratusan Warga Ganjar Agung Antusias Ikuti Jalan Sehat Semarak HUT ke-81 RI
- Lima Kecamatan di Metro Adu Kompak di Lomba Senam LLI
- Bunda Literasi Lamteng Dorong Anak Gemar Membaca
- Plt. Ketua TP PKK Lamteng Lepas Jalan Sehat HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Bangun Rejo
- APKASI Otonomi Expo 2026 Buka Peluang Pasar Produk Unggulan Lampung Utara
Sektor Perkebunan jadi Penopang Ekonomi, Pemprov Lampung Perkuat Produksi hingga Hilirisasi

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Pemerintah Provinsi
Lampung terus mendorong penguatan sektor perkebunan melalui peningkatan
produksi, produktivitas, kualitas hasil, dan percepatan hilirisasi. Langkah
tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan
sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Staf Ahli
Gubernur Lampung Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Lukman Pura, saat membacakan
sambutan tertulis Gubernur Lampung pada
Apel Mingguan di Lingkungan Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, Senin
(31/8/2026).
Gubernur menyebutkan bahwa sektor
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi salah satu penopang utama
perekonomian Provinsi Lampung.
Baca Lainnya :
- Tampilkan Kreativitas dan Budaya, Peserta Terbaik Tapis Karnaval 2026 Raih Penghargaan0
- Temui Penyandang Disabilitas, Wagub Perkuat Komitmen Pemprov Lampung pada Kesetaraan0
- Puncak Festival Krakatau XXXV 2026, Gubernur Mirza Flag Off Lampung Tapis Karnaval0
- Tak Sesuai Amanah, Nazhir Wakaf Serahkan Aset Bermasalah kepada BWI Lampung0
- Gubernur Lampung Buka Festival Krakatau XXXV0
Berdasarkan data BPS Triwulan IV
Tahun 2025, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memberikan kontribusi
sebesar 28,35 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung,
dengan subsektor perkebunan menyumbang 7,32 persen.
Besarnya kontribusi tersebut
menunjukkan bahwa pembangunan perkebunan memiliki peran strategis dalam
mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“PDRB menjadi salah satu tolak ukur
tingkat kesejahteraan penduduk, sehingga pembangunan dan pengembangan
pertanian, khususnya sub sektor perkebunan, akan paralel dengan upaya
meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung,” ucapnya.
Sektor perkebunan tidak hanya
berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja,
menjadi sumber pendapatan masyarakat, membantu pengentasan kemiskinan,
menghasilkan devisa melalui ekspor, serta mendukung ketahanan pangan nasional.
Pada periode RPJMD 2025–2029,
pembangunan perkebunan diarahkan untuk mendukung sasaran Lampung sebagai
lumbung pangan nasional. Salah satu indikator kinerja utamanya adalah
peningkatan produksi komoditas perkebunan.
Hingga Desember 2025, produksi
tujuh komoditas perkebunan Lampung tercatat cukup besar. Produksi kopi robusta
mencapai 125.578 ton, lada 14.615 ton, tebu 724.608 ton, kakao 49.109 ton,
karet 175.424 ton, kelapa dalam 86.655 ton, serta kelapa sawit 437.250 ton
dalam bentuk CPO.
Kopi robusta dan lada Lampung
tercatat berada di peringkat kedua secara nasional berdasarkan capaian produksi
tersebut. Sementara itu, produksi tebu Lampung juga menempati posisi kedua
secara nasional.
Menurut Gubernur, peningkatan
produksi perlu berjalan beriringan dengan penguatan hilirisasi. Selama ini,
hasil perkebunan, khususnya yang berasal dari perkebunan rakyat, masih banyak
dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Hilirisasi diperlukan agar
komoditas perkebunan dapat diolah menjadi produk setengah jadi maupun produk
jadi sehingga memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dan memberikan manfaat
ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
“Produk perkebunan khususnya
perkebunan rakyat masih didominasi oleh produk mentah (raw material). Karppena
itu, hilirisasi perlu terus kita dorong untuk meningkatkan nilai tambah,”
lanjutnya.
Selain melalui pengolahan,
peningkatan nilai tambah juga dapat dilakukan dengan memperpendek rantai distribusi.
Pemerintah daerah mendorong penguatan kelembagaan petani agar hasil perkebunan
dapat dipasarkan lebih dekat dan langsung kepada industri.
Upaya tersebut membutuhkan
kolaborasi antara pemerintah daerah, petani, pelaku industri, serta perangkat
daerah yang membidangi koperasi dan perindustrian.
Peningkatan kualitas sumber daya
manusia petani, serta dukungan sarana dan prasarana, juga menjadi bagian
penting dalam mempercepat pengembangan perkebunan di Lampung.
Gubernur menekankan bahwa
pembangunan perkebunan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Diperlukan
sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Lampung, dan pemerintah
kabupaten/kota.
“Perlu kerja sama yang baik antara
pemerintah dan stakeholder terkait untuk lebih meningkatkan kinerja pembangunan
perkebunan di Provinsi Lampung,” tegasnya.
Apel mingguan dirangkaikan dengan
penyerahan tali asih dan santunan bagi 61 PNS yang memasuki batas usia pensiun
terhitung mulai 1 September 2026, dan santunan kepada 5 ASN yang meninggal
dunia serta 4 suami/istri ASN yang telah meninggal dunia.
Atas nama Pemerintah Provinsi
Lampung, Gubernur menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para PNS
yang memasuki masa purna bakti atas pengabdian, dedikasi, loyalitas, dan kerja
keras selama menjalankan tugas sebagai aparatur negara dan menyampaikan ucapan
dukacita bagi keluarga ASN yang meninggal dunia.
“Semoga tali asih dan santunan yang
diberikan pada hari ini dapat menjadi bentuk perhatian dan kepedulian
Pemerintah Provinsi Lampung kepada para penerima beserta keluarga,” pungkasnya.
Gubernur berharap bantuan
tersebut dapat memberikan manfaat sekaligus menjadi penguat tali silaturahmi
dan rasa kebersamaan di antara keluarga besar Pemerintah Provinsi Lampung. [MFH/Pemerintah Provinsi
Lampung]











3.jpg)