- Penjualan Kendaraan Niaga Naik, Trend Positif Penguatan Distribusi Hasil Pertanian Lampung
- APIK Dorong Transformasi Kakao Lampung Timur Berbasis Petani dan Kolaborasi
- Pertama di Indonesia, Lamtim Resmi Integrasikan MRC ke MPP
- Kota Metro Raih Juara I TPID Sumatera, Bukti Pengendalian Inflasi Berbasis Kerja Kolaboratif
- Program H2M KWT Seroja Rejomulyo Dorong Lingkungan Hijau, dan Ketahanan Pangan
- Plt I Komang Koheri Ikuti Apel Pembukaan Kemah Bakti Satya Linmas
- Plt. Bupati Hadiri Sosialisasi Survei Seismik 2D Gerbera Tingkat Kabupaten
- Wakil Bupati Pesisir Barat Hadiri HUT ke-35 Kabupaten Lampung Barat
- Bupati Dedi Irawan Gelar Doa Bersama Masyarakat
- Polsek Talang Padang Tindak Lanjuti Aduan Warga soal Dugaan Prostitusi di Sinar Petir
Penjualan Kendaraan Niaga Naik, Trend Positif Penguatan Distribusi Hasil Pertanian Lampung

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Penjualan kendaraan
niaga di Lampung menunjukkan perkembangan menarik. Berdasarkan data yang
disampaikan Pemerintah Provinsi Lampung melalui akun resmi Instagram Badan
Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Lampung Jumat (26/09/2026) menunjukan
peningkatan penjualan kendaraan roda empat jenis pick up, light truck, dan
truck selama Januari hingga September 2026.
Akademisi dan pengamat keuangan publik Saring
Suhendro menilai perkembangan tersebut dapat menjadi petunjuk awal mengenai
pergeseran kebutuhan sarana angkutan barang. Namun, untuk mengetahui apa yang
mendorong kenaikan itu, data penjualan perlu dilihat menurut jenis kendaraan
dan perkembangan beberapa bulan sebelumnya.
“Kalau kenaikannya terutama pada light truck
dan truck, kita bisa meneliti apakah pelaku usaha mulai membutuhkan daya angkut
lebih besar. Tetapi pembelian kendaraan juga bisa dilakukan untuk mengganti
armada lama. Karena itu, kita perlu melihatnya bersama data produksi dan arus
barang,” ujar Suhendro.
Baca Lainnya :
- Gubernur: Rasa Aman Jadi Fondasi Pembangunan, Satlinmas Diminta Perkuat Kesiapsiagaan0
- Pentas PAI Jadi Ruang Tumbuh Prestasi dan Karakter Siswa0
- MUSDA VI IGRA Bandar Lampung Fokus pada Regenerasi dan Penguatan Tata Kelola Organisasi0
- HUT ke-81 PMI, Purnama Wulan Sari Mirza Perkuat Gerakan Kemanusiaan di Lampung0
- Pemprov Lampung Raih Peringkat I TPID Kinerja Terbaik Wilayah Sumatera0
Menurutnya, kebutuhan distribusi memiliki arti
penting bagi Lampung sebagai daerah penghasil padi, jagung, singkong, kopi, dan
kakao. Hasil produksi tersebut harus dapat bergerak dari sentra pertanian
menuju tempat pengolahan dan pasar dengan biaya yang wajar.
Menurut Suhendro peran kebijakan daerah menjadi
penting. Ia mengatakan, bertambahnya kendaraan akan memberi manfaat lebih besar
jika didukung jalan penghubung yang baik, fasilitas pascapanen yang digunakan,
dan akses pasar yang semakin terbuka.
“Pelaku usaha bisa saja menambah truk. Tetapi
kalau perjalanan dari sentra produksi masih lama dan biaya angkut tetap tinggi,
petani belum tentu menikmati manfaatnya. Yang perlu diupayakan adalah
distribusi yang lebih lancar dan lebih efisien,” katanya.
Menurut Suhendro, keterbatasan APBD menuntut
pemerintah memilih dukungan yang paling berpengaruh terhadap kegiatan produksi
dan pemasaran. Perbaikan akses Jalan Provinsi dengan cor beton yang sekarang
sedang dilakukan oleh Pemprov maupun pembangunan fasilitas pascapanen perlu diikuti
pengukuran hasil, seperti perubahan waktu tempuh, biaya angkut, dan harga yang
diterima petani.
Arah tersebut relevan dan sejalan dengan
Program Desaku Maju yang telah menetapkan 30 desa percontohan di Lampung.
Pemerintah daerah juga mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih berperan
dalam pengolahan komoditas dan distribusi produk desa. Suhendro menilai kedua
kebijakan itu membuka peluang agar desa memperoleh nilai tambah lebih besar
dari hasil produksinya.
“Kalau produksi desa berkembang dan hasilnya
mulai diolah serta dipasarkan lebih luas, kebutuhan distribusi tentu ikut
berkembang. Tetapi kita belum bisa menyebut penjualan kendaraan saat ini
sebagai dampak kedua program tersebut. Hasil program harus dilihat dari usaha
yang berjalan dan manfaat yang diterima masyarakat desa,” jelasnya.
Suhendro menilai data kendaraan niaga dapat
membantu pemerintah membaca kebutuhan logistik Lampung apabila dilengkapi
dengan informasi produksi, kondisi jalur angkut, dan biaya distribusi. Dengan
demikian, dukungan anggaran dapat diarahkan ke hambatan yang paling membutuhkan
penanganan.
“Penjualan kendaraan memberi sinyal yang
menarik. Kabar baik yang ingin kita capai adalah ketika hasil produksi lebih
mudah sampai ke pasar, ongkosnya turun, dan petani memperoleh bagian yang lebih
baik,” pungkasnya. [MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]











