- Pemkab Pesawaran Perkuat Penyusunan APBD 2027 Melalui Peluncuran SATSET RKA
- Wabup Pringsewu Buka Perkemahan PTA dan Ujian SKU Pramuka Penegak Calon Bantara
- Pemkab Pringsewu Gelar Lomba Semarak Kemerdekaan
- Bupati dan Wakil Bupati Lamtim Hadiri Rapat Paripurna Pidato Kenegaraan Presiden RI
- Pemkot Metro Dorong Perempuan Perkuat Literasi Keuangan
- Pemerintah Kota Metro Ikuti Sidang Tahunan MPR RI 2026
- Bupati Parosil Ikuti Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo
- BKMT Pesisir Barat Gelar Pengajian Rutin di Pekon Way Sindi Utara
- Festival Nyambai 2026 Resmi Digelar di Bumi Lebu Tenumbang
- Polsek Talang Padang Tangani Dugaan Penganiayaan Viral di Media Sosial
Pemprov Lampung Dorong Hilirisasi Gabah di Tingkat Desa Lewat Bed Dryer

PRINGSEWU, MFH,-- Gubernur Lampung, Rahmat
Mirzani Djausal memastikan bantuan mesin bed dryer di Pekon Sumber Agung,
Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, benar-benar dimanfaatkan untuk
mempercepat pengeringan gabah sekaligus meningkatkan kualitas dan nilai jual
hasil panen petani.
Menurut Gubernur Mirza, pengeringan gabah di
tingkat desa menjadi salah satu kunci agar petani tidak lagi terpaksa menjual
hasil panen dalam kondisi basah dengan harga yang lebih rendah.
"Sekarang karena sudah untung kita mau
tambah lagi untungnya. Kita buat pengering," ucap Gubernur Mirza saat
berdialog dengan petani di Pekon Sumber Agung, Jumat (14/8/2026).
Baca Lainnya :
- Pemprov Lampung Percepat Perbaikan Jalan Kalirejo-Pringsewu0
- Wakil Bupati Umi Laila Panen Raya Padi di Wonosari0
- Umi Laila Pimpin Apel Pelepasan Kontingen Jambore Nasional XII Pringsewu0
- UPT SMP Negeri 1 Gadingrejo Lepas 3 Murid, Ikuti Jambore Nasional XII di Cibubur0
- Bupati Buka Sosialisasi Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemula di SMAN 1 Pringsewu0
Bed dryer tersebut dikelola Kelompok Tani
Sumber Tani 8 dan terintegrasi dengan pengelolaan pabrik terpadu di Pekon
Sumber Agung. Mesin itu memiliki kapasitas sekitar 20 ton gabah dalam sekali
proses pengeringan.
Ketua Kelompok Tani Sumber Tani 8 Andi Lala
mengatakan, sebelum tersedia bed dryer, petani mengandalkan lantai jemur atau
terpal untuk mengeringkan gabah. Keterbatasan tempat membuat sebagian besar
petani harus menggunakan cara manual tersebut.
Dalam praktiknya, pengeringan secara manual
membutuhkan waktu jauh lebih lama. Untuk gabah dari lahan sekitar seperempat
hektare, proses pengeringan dapat berlangsung tiga sampai empat hari ketika
cuaca cukup baik dan bisa mencapai satu pekan saat hujan sering turun.
Kondisi tersebut membuat petani menghadapi
risiko penurunan mutu gabah, terutama ketika hasil panen tidak segera
mendapatkan sinar matahari yang cukup.
"Untuk pengering gabah dalam jumlah
kapasitas 20 ton itu kurang lebih 15 hari. Jadi sangat kurang produktif dan
kualitasnya pun kurang bagus," ucap Andi. Ia berharap keberadaan bed dryer
dapat membuat hasil panen lebih cepat kering sehingga kualitas gabah dan
jangkauan pasar meningkat.
Dengan bed dryer, proses pengeringan
diperkirakan dapat dipangkas menjadi sekitar 10-12 jam untuk kapasitas hingga
20 ton. Menurut Andi, waktu pengeringan yang lebih singkat juga berpotensi
menjaga mutu gabah karena petani tidak lagi terlalu bergantung pada kondisi
cuaca.
Perubahan tersebut dinilai penting karena gabah
kering memiliki daya simpan lebih panjang dibandingkan gabah basah. Dalam
dialog dengan gubernur, petani menyebut gabah yang sudah kering dapat disimpan
hingga sekitar satu tahun, sehingga petani memiliki pilihan untuk tidak
langsung menjual hasil panennya ketika harga sedang kurang menguntungkan.
Gubernur Mirza mengatakan, pengeringan di
tingkat desa juga dapat mengurangi biaya dan beban angkutan. Gabah yang masih
mengandung kadar air tinggi membuat petani ikut membayar biaya untuk mengangkut
air yang sebenarnya dapat dikurangi sejak dari sentra produksi.
"Yang tadinya harus bawa mobil 10 ton atau
20 ton, karena tidak perlu bawa air, jadi cuma bawa 5 ton atau 7 ton. Jadi
mobil yang lewat desa lebih ringan dan lebih jarang," ungkap Gubernur.
Menurutnya, efisiensi tersebut pada akhirnya juga dapat membantu menjaga
kondisi jalan desa.
Pemanfaatan bed dryer juga diarahkan untuk
mendorong petani tidak berhenti pada penjualan gabah. Setelah dikeringkan,
hasil pertanian dapat diproses lebih lanjut menjadi beras, sementara produk
samping seperti bekatul dan sekam dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain,
termasuk bahan pakan dan pupuk.
"Selain itu bisa langsung dilakukan hilirisasi.
Yang tadinya cuma jual gabah karena sudah kering bisa dijadikan beras, dapat
katul, dapat sekam," ujar Gubernur. Ia menyebut pengembangan tersebut
sebagai bagian dari program Desaku Maju untuk mendorong hilirisasi agroindustri
di tingkat desa.
Pengelola pabrik terpadu Wargito menjelaskan,
pengeringan dan pengolahan hasil panen akan menjadi satu rangkaian. Setelah
gabah dikeringkan oleh kelompok tani, gabah tersebut dapat diproses lebih
lanjut menjadi beras sehingga nilai tambahnya tetap berada di desa.
Bagi petani, manfaat ekonomi dari peningkatan
kualitas tersebut menjadi perhatian utama. Saat berdialog dengan gubernur,
petani menyebut harga gabah kering giling saat ini sekitar Rp9.000 per
kilogram, sementara Gubernur Mirza mendorong agar peningkatan kualitas dan
pengolahan hasil dapat semakin memperbesar nilai ekonomi yang diterima petani.
Gubernur Mirza meminta pengelolaan alat tidak
berhenti pada penyediaan mesin, tetapi dilanjutkan dengan pemanfaatan secara
optimal dan pengembangan jasa pengeringan bagi petani sekitar. Dengan demikian,
petani yang sebelumnya hanya mampu menjual gabah basah dapat memiliki pilihan
untuk menjual gabah dalam kondisi kering dengan kualitas yang lebih baik.
Gubernur juga mendorong desa menyiapkan gudang
atau lumbung pangan sebagai bagian dari penguatan rantai produksi. Langkah
tersebut diharapkan membuat hasil pertanian dapat disimpan, diolah, dan
dipasarkan secara lebih terencana, sekaligus membuka ruang usaha baru bagi
petani dan generasi muda di desa.
Menurut Gubernur, penguatan dari hulu hingga
hilir akan membuat manfaat bantuan alat pertanian tidak berhenti pada
percepatan produksi. Petani diharapkan memperoleh nilai tambah dari
pengeringan, pengolahan, penyimpanan, hingga pemasaran, sehingga pendapatan
meningkat dan aktivitas ekonomi baru tumbuh di desa.
Dengan pemanfaatan bed
dryer berkapasitas 20 ton tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung berharap petani
Sumber Agung semakin mampu menjaga kualitas hasil panen, mengurangi
ketergantungan pada cuaca, memperluas pasar, dan meningkatkan nilai jual gabah.
Dalam jangka lebih panjang, pengolahan hasil pertanian di tingkat desa
diharapkan membuat lebih banyak nilai ekonomi tetap berputar di Lampung dan langsung
dirasakan masyarakat. [MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]











3.jpg)