- Sekdaprov Marindo Pimpin Rapat Evaluasi Sekolah Rakyat bersama BPKP
- Sekda Tedi Zadmiko Ikuti Rakor Virtual dengan Kantor Staf Kepresidenan RI
- BNN Provinsi Lampung dan Pemkot Metro Perkuat Sinergi P4GN
- Polres dan Pemkot Metro Gelar Aksi Korve, Wujudkan Sinergi dalam Menjaga Kebersihan Lingkungan
- Bupati Ela Siti Nuryamah Tanamkan Kesadaran Lingkungan Sejak Dini
- Bupati dan Wakil Bupati beserta Kadiskes serta Kepala OPD lain Tatap Muka Dalam Rangka Konsultasi
- Wakil Bupati Umi Laila Buka Musrenbang Kecamatan Banyumas
- Pemkab Pringsewu Bersama Forkopimda Laksanakan Kerja Bakti Pembersihan Fasilitas Publik
- Pemkab Pesawaran Laksanakan Gerakan Bersih-Bersih Dukung Indonesia ASRI
- Petani Keluhkan Perbaikan Tanggul Way Pisang Asal-Asalan, BBWS Lampung Tutup Mata
Pemkot Kota Metro Gelar High Level Meeting TPID
Fokus Jaga Stabilitas Harga dan Pasokan Jelang Nataru

METRO, MFH,-- Pemerintah Kota Metro
menggelar High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Metro
dalam rangka menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun
Baru (Nataru) 2026. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memastikan
stabilitas harga, kelancaran distribusi, serta kesiapsiagaan daerah menghadapi
potensi bencana alam.
Wali Kota Metro, Bambang Iman
Santoso, menegaskan bahwa momentum Nataru setiap tahun selalu diikuti oleh
peningkatan permintaan masyarakat yang signifikan, terutama pada komoditas
pangan strategis yang berpotensi terjadinya tekanan terhadap harga komoditas
utama seperti beras dan gula.
Namun demikian, Wali Kota Metro
optimistis Kota Metro mampu menjaga stabilitas pasokan beras karena keberadaan
gudang Bulog yang berada langsung di wilayah Kota Metro.”Selain beras, saya
juga berharap komoditas lain seperti telur, daging ayam, dan cabai tidak
mengalami lonjakan harga, terlebih telah mendapat dukungan fasilitasi dari Bank
Indonesia, ” ujarnya saat memberikan sambutan di OR Setda Kota Metro, Selasa
(16/12/2025).
Baca Lainnya :
- Resmikan bioskop, Wali Kota Metro Ajak Masyarakat Tonton Film yang Mengedukasi0
- Metro Mayor Lays First Stone for Mrajapati Temple Construction0
- Pengurus Baru IDI Kota Metro Lantik 0
- Panen padi, Heri Wiratno tekankan ketahanan pangan sesuai Asta Cita Presiden0
- Membanggakan, MTQ ke-52 Lampung, Metro Raih Peringkat Tiga0
Menurutnya, dinamika harga dan
kebutuhan masyarakat saat Nataru serta potensi lonjakan kebutuhan pada sektor
energi, transportasi, dan logistik yang kerap terjadi bersamaan dengan musim
penghujan juga, merupakan siklus tahunan yang perlu diantisipasi secara terencana
dan terkoordinasi.
Dalam kesempatan tersebut, Bambang
turut menyinggung kondisi nasional yang tengah diuji oleh berbagai bencana alam
di sejumlah daerah, bahkan sebelum memasuki puncak Nataru seperti yang terjadi
di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara. “Untuk membantu saudara-saudara kita
Pemerintah Kota Metro telah mengirimkan tim kemanusiaan ke daerah terdampak
bencana yang terdiri dari tenaga kesehatan, perawat, dokter, serta mahasiswa
yang kurang lebih ada 12 orang dan serta distribusi logistik telah sampai di
lokasi tujuan,” ungkapnya.
Sebagai pimpinan daerah, ia
berharap mendekati Nataru tidak terjadi bencana yang tidak diinginkan di Kota
Metro seperti fenomena puting beliung yang kerap terjadi, khususnya di wilayah
Metro Utara. “Metro Utara ini hampir setiap tahun di uji dengan puting beliung
dan ini harus kita pelajari lebih dalam penyebabnya. Saya juga, mendorong agar
upaya penanggulangan tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga preventif
melalui kajian ilmiah, penataan lingkungan, serta mitigasi jangka panjang,
“tegasnya.
Menghadapi puncak cuaca ekstrem
yang diperkirakan terjadi setelah tanggal 25 hingga 31 Desember, Wali Kota
Metro mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan
ganda dengan menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat ketahanan daerah
terhadap bencana alam.
“Koordinasi lintas sektor menjadi
kunci utama keberhasilan pengendalian inflasi dan mitigasi risiko. Saya minta
seluruh OPD melakukan monitoring harian harga dan pasokan komoditas strategis
seperti beras, cabai, bawang, telur, daging ayam, minyak goreng, dan LPG karena
pengendalian inflasi dan mitigasi bencana bukanlah tugas satu instansi lain kan
kerja bersama,” tekannya.
Setiap potensi gejolak, lanjutnya,
harus segera ditangani melalui operasi pasar, intervensi pasokan, serta
komunikasi publik yang tepat dan transparan. “Saya juga meminta Dishub, BPBD,
dan Satpol PP untuk bersinergi guna memastikan jalur logistik tetap aman dan
lancar di tengah potensi gangguan cuaca ekstrem.
Tak hanya itu, Bambang juga meminta
adanya kolaborasi yang dilakukan dengan Bulog, distributor, dan pelaku usaha
untuk memastikan kecukupan stok, termasuk melalui kerjasama antar daerah bila
diperlukan. “Lakukan pengecekan kesiapan alat dan sarana penanganan bencana,
pemetaan wilayah rawan banjir. Jika diperlukan persiapan posko siaga bencana
serta optimalisasi sistem peringatan dini dan pemantauan wilayah yang dilakukan
oleh camat, lurah, RW dan RT di wilayah masing-masing,”pintanya dalam rapat.
Sementara itu, Deputi Kepala
Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Achmad P. Subarkah, mengapresiasi
kinerja TPID Kota Metro yang berhasil menjaga inflasi tetap terkendali pada
bulan November 2025, dimana inflasi Kota Metro tercatat sebesar 1,88 persen
year on year.
“Kota Metro Ini adalah miniatur
Jogja sebagai Kota Pendidikan yang memiliki dinamika ekonomi unik sehingga pada
saat kita ngomong soal inflasi, kita tidak hanya berbicara mengenai angka, tapi
kita juga berbicara terhadap daya beli mahasiswanya, ” ungkapnya.
Untuk itu, Kota Metro diharapkan
mampu menjaga daya beli mahasiswa, menjaga daya beli ibu rumah tangga dan
menjaga kesejahteraan masyarakat Metro secara keseluruhan terkait dengan
inflasi.
Berdasarkan data inflasi nasional,
per November 2025 Indonesian saat ini berada di 2,72 persen year on year yang
berarti masih ada di dalam range sasaran 2,5 plus minus 1 persen,
“Sementara itu, kalau kita lihat di
tingkat Provinsi Lampung Inflasi November itu tercatat 1,14 year on year yang
terbentuk dari empat daerah yaitu Bandar Lampung dengan angka terendah di 0,37
persen, Kota Metro di 1,88 persen, Lampung Timur di 2,32 persen dan Misuji yang
paling tertinggi ada di 2,35 persen, “paparnya.
Achmad menegaskan bahwa ke depan,
pengendalian inflasi perlu terus diperkuat melalui strategi K4 TPID, yakni
keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan
komunikasi publik yang efektif, guna menjaga stabilitas ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat Kota Metro secara berkelanjutan.
“Ada lima penyumbang inflasi
terbesar di Kota Metro, antara lain emas yang mengikuti harga internasional,
cabai merah yang bersifat klasik dan musiman dengan dampak besar, serta beras,
kopi bubuk, dan mobil,”imbuhnya.
Di sisi lain, penyumbang deflasi di
Kota Metro antara lain penghapusan uang komite SMA, bawang putih, deterjen
cair, dan tomat yang merupakan produk lokal. “Inflasi di Metro dipengaruhi oleh
dua kekuatan utama, yaitu volatile food (pangan yang mudah bergejolak harganya)
dan inflasi inti,”katanya.
Sementara itu, kekhawatiran lainnya
juga dirasakan pada kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengantri sampai
ribuan meter.
“Antrian panjang di pom bensin itu
tidak hanya mengganggu distribusi di wilayah Lampung, tapi juga berdampak ke
daerah lain,” ungkapnya.
Deputi Kepala Perwakilan Bank
Indonesia Provinsi Lampung, menjelaskan bahwa dampak dari tersendat karena
angkutan Lampung akibat dari antrian solar menyebabkan kelambatan pengiriman
bukan hanya diwilayah Lampung tetapi juga Sumatera Utara, Riau, dan Aceh yang
mengakibatkan kenaikan harga di daerah-daerah tersebut.
Ia juga berharap, Kota Metro dapat
memanfaatkan bantuan Bibit Cabai yang diberikan oleh BI dan Toko Mapan secara
optimal sebagai faktor psikologis dan barometer bagi pedagang sehingga harga
dapat terkendali. [MFH/Diskominfo Metro]











3.jpg)