- Kapolres Tanggamus Latih Bela Diri Anggota
- Tanam 1.000 Pohon di Ulu Belu, Bupati Tanggamus: Saatnya Bekerja Nyata untuk Iklim
- Terima Peserta PKN II Sumsel, Wagub Jihan Dorong Pemimpin Daerah Adaptif Hadapi Perubahan
- Penataan Muara Indah Dimulai, Pedagang Ditata Demi Percantik Wajah Wisata Kotaagung
- Pemprov Lampung Raih Predikat A Nasional untuk Keamanan Pangan
- Anggota DPRD Lamsel Dorong Pemuda Aktif Kawal Kebijakan Daerah Lewat Forum Kreatif
- 48 Santri Utama Pagar Nusa Tanggamus Diwisuda
- Pemprov Lampung Dorong Kawasan Industri Energi Katibung
- Pemprov Lampung Raih Penghargaan Adhi Manawa Nugraha Madya dari BKN
- Diduga Lakukan Penipuan dan Penggelapan, Oknum Kakon di Amankan Polsek Pugung
Gubernur Mirza Dorong Generasi Muda Lestarikan Budaya Lampung

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Gubernur
Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa kebudayaan merupakan kekayaan
sekaligus identitas fundamental yang harus dijaga untuk memperkuat persatuan
bangsa.
Penegasan ini disampaikan Gubernur
saat Sosialisasi Empat Pilar MPR RI melalui Pagelaran Seni Budaya di Mahan
Agung, Rabu (19/11/2025), yang mengusung tema “Menggaungkan Kembali Semangat
Persatuan dan Nasionalisme Lewat Kesenian Rakyat Lampung”.
Gubernur Mirza menyatakan bahwa
kegiatan seni budaya merupakan sarana yang efektif untuk menanamkan kembali
nilai-nilai kebangsaan yang tertuang dalam Empat Pilar, yakni Pancasila, UUD
NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Baca Lainnya :
- Purnama Wulan Sari Mirza Ajak Perkuat Pendidikan Karakter Anak Usia Dini0
- Pengurus Baru PMI 8 Kabupaten Dilantik0
- Kapolresta Bandar Lampung Pimpin Apel Gelar Pasukan Ops Zebra Krakatau 20250
- Operasi Zebra Krakatau 2025 Dimulai0
- RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Peringati Hari Prematur Sedunia dan Luncurkan Inovasi El Prenity0
”Empat Pilar telah menjadi pondasi
tegaknya kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Nilai-nilai luhur ini harus
terus disosialisasikan, dipahami, dan diimplementasikan oleh seluruh lapisan
masyarakat, termasuk melalui ruang kreatif seni dan budaya seperti yang kita
lakukan hari ini,” kata Gubernur.
Gubernur menyoroti Provinsi Lampung
sebagai contoh nyata keberhasilan harmoni di tengah keberagaman. Dengan
filosofi “Sai Bumi Ruwa Jurai”, Lampung telah membuktikan koeksistensi damai
antara penduduk lokal (sekitar 16%) dan mayoritas pendatang (sekitar 67%).
”Sejarah mencatat, selama puluhan
tahun, Lampung tidak pernah mengalami konflik horizontal maupun vertikal.
Harmoni ini ditopang kuat oleh falsafah kita Pi’il Pesenggiri, Nemui Nyimah,
Nengah Nyappur, Bejuluk Beadek, dan Sakai Sambayan,” terangnya.
Gubernur menekankan bahwa rasa
persatuan ini terbentuk berkat kesadaran masyarakat Lampung untuk menghormati
dan menjunjung tinggi seluruh kebudayaan di Indonesia sebagai bagian integral
dari diri.
Menghadapi tantangan globalisasi
dan revolusi industri, Gubernur mengingatkan bahwa arus informasi cepat dan
derasnya pengaruh budaya luar dapat menyebabkan generasi muda melupakan warisan
budayanya sendiri.
Oleh karena itu, kesenian rakyat
memiliki peran vital sebagai media untuk menumbuhkan nasionalisme, memperkuat
persatuan, dan menjaga warisan budaya agar tetap eksis.
Gubernur mencontohkan kesenian
tradisional Lampung seperti tari Melinting, Sigekh Penguten, dan musik Gamolan
sebagai bahasa yang menyatukan persaudaraan dan jati diri masyarakat.
”Pemerintah Provinsi Lampung
berkomitmen mendorong identitas budaya Lampung untuk terus dipopulerkan dan
diimplementasikan. Tanpa budaya, kita tidak memiliki identitas. Tanpa
identitas, kita tidak kaya. Salah satu cara menjaga Pancasila adalah dengan
menjaga identitas kita, yaitu dengan budaya,” tegasnya.
Gubernur Mirza turut mendorong
generasi muda untuk memanfaatkan era digital, melanjutkan tradisi dengan cara
yang modern, serta menyebarkan nilai-nilai budaya melalui kreativitas,
kolaborasi, dan teknologi.
Gubernur berharap, pagelaran seni
budaya ini menjadi sarana yang edukatif, inspiratif, dan rekreatif, tidak hanya
dalam menampilkan kekayaan budaya lokal, tetapi juga menanamkan nilai-nilai
kebangsaan yang kuat bagi seluruh masyarakat.
Sementara itu, Ketua MPR RI Ahmad
Muzani mengapresiasi Provinsi Lampung sebagai contoh nyata praktik Bhinneka
Tunggal Ika.
Menurut Ahmad Muzani, persatuan di
Lampung terjalin kuat, di mana masyarakat pribumi Lampung yang jumlahnya lebih
kecil dapat menerima dan bersatu dengan berbagai etnis pendatang.
Ahmad Muzani kemudian menyoroti
pentingnya pelestarian aset budaya nasional. Ia menyebut bahwa di Indonesia
terdapat sekitar 700 bahasa daerah yang harus dipertahankan.
Secara khusus, ia mengingatkan
potensi punah pada Bahasa Lampung karena menurunnya jumlah penutur dan minimnya
penggunaan bahasa daerah tersebut di lingkungan keluarga.
“Ini tidak boleh terjadi, supaya
anak-anak cucu kita, generasi yang akan datang masih tahu tentang Bahasa
Lampung,” tandasnya. [MFH Dikominfotik Provinsi Lampung]











3.jpg)