- Pemprov Lampung Dukung Pameran Kayu Ara
- 1.088 KPM di Pasar Sukadana Terima Bantuan Pangan Beras Alokasi Juli–September
- HUT ke-54, RSUD Ahmad Yani Kota Metro Perkuat Komitmen Mutu Pelayanan dan Pendidikan
- Ribuan Peserta Ikuti KONI Fun Run HUT Lambar, Dua Motor jadi Rebutan Warga
- BKMT Pesisir Barat Terus Rawat Silaturahmi, Pengajian Rutin di Lemong Penuh Pesan Moral
- Zulhas Kunker dan Serahkan Bantuan Pangan di KDKMP Desa Pisang Penengahan
- DLH Lampung Target 160 SMA/SMK/MA Berwawasan Lingkungan dan Raih Adiwiyata 2026-2030
- Bupati Hadiri Maulid Nabi dan Milad ke-2 Majelis Taklim Al-Mahmudah, Ajak Teladani Akhlak Rasulullah
- GAK Tak Terdeteksi Erupsi, Hujan Turun, Pemprov Lampung Perkuat Kesiapsiagaan
- Hujan Perdana Setelah Kemarau, Bandar Lampung Diselimuti Kesejukan
Pemprov Lampung Dukung Pameran Kayu Ara
Rawat Pengetahuan dan Warisan Budaya untuk Generasi Mendatang

JAKARTA, MFH,-- Pemerintah Provinsi Lampung
mendukung penuh pameran Kayu Ara: Arsitektur, Teknologi, dan Budaya Lampung
dalam Karya dan Pemikiran Anshori Djausal sebagai ruang untuk merawat
pengetahuan sekaligus memperkenalkan kekayaan arsitektur dan budaya Lampung
kepada generasi berikutnya.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal
mengatakan, pameran yang digelar di Anjungan Lampung dan Contemporary Art
Gallery, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, itu bukan sekadar pameran
karya seorang tokoh. Menurut Gubernur, Kayu Ara menjadi ruang untuk membaca
perjalanan pengetahuan, kreativitas, dan pengabdian seorang putra Lampung
selama lebih dari empat dekade.
"Perjalanan tersebut tidak berhenti pada
karya yang telah dihasilkan, tetapi terus menjadi ruang untuk melahirkan
gagasan, merawat pengetahuan dan memperkenalkan kekayaan arsitektur serta
budaya Lampung kepada generasi berikutnya," ujar Gubernur Rahmat Mirzani
Djausal dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Daerah Provinsi
Lampung Marindo Kurniawan pada pembukaan pameran, Sabtu (12/9/2026).
Baca Lainnya :
- DLH Lampung Target 160 SMA/SMK/MA Berwawasan Lingkungan dan Raih Adiwiyata 2026-20300
- GAK Tak Terdeteksi Erupsi, Hujan Turun, Pemprov Lampung Perkuat Kesiapsiagaan0
- Hujan Perdana Setelah Kemarau, Bandar Lampung Diselimuti Kesejukan0
- Gubernur Mirza Dorong Hilirisasi hingga Tingkatkan Kesejahteraan Petani0
- Sinergi TP PKK dan BAZNAS, Tali Asih Apresiasi Dedikasi Petugas Kebersihan Pemprov Lampung0
Pameran Kayu Ara dibuka pada Sabtu (12/9/2026)
dan dijadwalkan berlangsung hingga 12 Oktober 2026. Pameran yang dikuratori
Angga Wijaya itu bertumpu pada tiga tema utama, yakni arsitektur dan
masyarakat, teknologi dan lingkungan, serta budaya Lampung.
Ketiga tema tersebut dirangkai melalui foto,
arsip, kliping koran, buku, gambar teknik, masterplan, video, hingga berbagai
dokumentasi perjalanan Anshori Djausal sebagai insinyur, arsitek, akademisi,
dan budayawan. Materi tersebut tidak hanya ditampilkan sebagai dokumentasi masa
lalu, tetapi diolah menjadi pengalaman visual dan percakapan antargenerasi.
Gubernur Mirza menilai pendekatan tersebut
penting karena pengetahuan tidak seharusnya berhenti pada satu generasi. Ia
mengapresiasi Angga Wijaya bersama Hafiz Maha, Hartinis Permatasari, Arif
Rahman dan seluruh tim kreatif yang sebagian besar merupakan anak muda asal
Lampung yang kini berkarya di Jakarta.
Menurut Gubernur, generasi muda yang terlibat
dalam pameran itu tidak sekadar memberikan penghormatan kepada Anshori Djausal.
Mereka juga mencoba membaca kembali perjalanan intelektual tokoh tersebut
dengan perspektif generasi baru.
Berbagai arsip, dokumentasi, cetak biru,
publikasi, catatan penelitian dan karya Anshori diterjemahkan menjadi instalasi
seni kontemporer. Dengan cara itu, arsip tidak lagi sekadar menjadi benda masa
lalu, tetapi dihidupkan menjadi pengalaman dan percakapan yang dapat dipahami
generasi sekarang.
Jejak perjalanan Anshori sendiri membentang
sejak dekade 1970-an, ketika modernisasi dan teknokrasi berkembang pesat. Dalam
perjalanan tersebut, ia dikenal menerapkan teknologi tepat guna dengan
mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan, salah satunya melalui
teknik ferosemen.
Bagi Anshori, teknologi tidak semata-mata
berupa benda atau hasil rekayasa. Teknologi harus menjawab kebutuhan manusia,
sesuai dengan kondisi tempatnya, sekaligus memperhitungkan dampaknya terhadap
lingkungan.
Pemikirannya juga berkembang ketika ia berada
di Universitas Lampung. Selain mendorong digitalisasi dan peningkatan kualitas
dosen, Anshori turut memikirkan persoalan Lampung dari berbagai sisi, mulai
dari infrastruktur, sosial budaya, ekonomi, lingkungan hingga pemberdayaan
kampung-kampung tua.
Gagasan tersebut kemudian membuatnya dipercaya
menjadi tenaga ahli pada sejumlah pemerintahan di Lampung, mulai dari era
Gubernur Yasir Hadibroto, Poedjono Pranyoto, Oemarsono, Sjachroedin Z.P., M.
Ridho Ficardo, Arinal Djunaidi hingga Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.
Salah satu jejak yang mudah dikenali dari
pemikiran dan karya Anshori adalah Tugu Siger di depan Pelabuhan Bakauheni.
Bangunan tersebut menjadi salah satu wajah Lampung bagi masyarakat yang
memasuki provinsi itu melalui jalur penyeberangan dari Pulau Jawa.
Jejak pemikirannya juga disebut hadir dalam
ornamen dan ragam hias Lampung pada perkantoran, hotel, fasilitas publik, serta
berbagai karya arsitektur. Hal tersebut menunjukkan bagaimana gagasan mengenai
kemajuan dan modernitas dapat berjalan bersamaan dengan upaya mempertahankan
identitas daerah.
Gubernur Mirza mengatakan, Kayu Ara dapat
menjadi simbol bagaimana pengetahuan seharusnya tumbuh dan diwariskan. Seperti
pohon yang memiliki akar, batang, daun dan buah, pengetahuan tumbuh dari
pengalaman masa lalu, dikembangkan pada masa kini, kemudian menjadi bekal bagi
generasi berikutnya.
"Kayu Ara menjadi simbol bahwa karya dan
pemikiran tidak mengenal batas usia. Yang paling penting bukan hanya seberapa
tinggi seseorang tumbuh, tetapi seberapa kuat akar pengetahuan yang ditanam dan
seberapa luas martabat yang diberikan bagi masyarakat dan generasi
mendatang," ujar Gubernur.
Karena itu, Pemprov Lampung memandang pameran
tersebut merupakan bukti bahwa generasi muda Lampung mampu membawa karya dan
gagasan daerah ke ruang nasional. Arsitektur, teknologi, lingkungan, budaya dan
seni kontemporer dipertemukan dalam satu ruang sehingga identitas Lampung dapat
dibicarakan dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi sekarang.
Pelaksana Tugas Direktur Operasional TMII Jaya
Chandranegara mengatakan, Contemporary Art Gallery tidak hanya menjadi tempat
memajang karya, tetapi juga ruang untuk mempertemukan gagasan, membuka
percakapan dan menghadirkan perspektif baru bagi pengunjung.
Sejak diresmikan pada 28 Oktober 2023,
Contemporary Art Gallery telah bekerja sama dengan 11 ekshibitor dan
menyelenggarakan 14 pameran. Pameran Kayu Ara bersama Rimpang Digital menjadi
bagian dari perjalanan galeri tersebut menuju penyelenggaraan pameran ke-15.
Menurut Jaya, kekuatan pameran Kayu Ara
terletak pada cara pemikiran Anshori Djausal mempertemukan arsitektur,
teknologi, lingkungan dan budaya Lampung dalam satu ruang. Budaya, kata dia,
tidak semestinya berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi harus terus
bergerak, ditafsirkan kembali dan menemukan relevansinya dalam kehidupan
sekarang.
Pemprov Lampung berharap pameran Kayu Ara tidak
berhenti sebagai catatan perjalanan seorang tokoh. Pameran ini diharapkan
menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya gagasan dan karya baru, sekaligus
mendorong generasi muda untuk mengenali akar pengetahuan daerah tanpa
kehilangan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Dengan membawa perjalanan
lebih dari empat dekade Anshori Djausal ke ruang nasional, pameran Kayu Ara
membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melihat bahwa kemajuan teknologi dan
arsitektur dapat berjalan beriringan dengan pelestarian identitas budaya. Bagi
masyarakat Lampung, warisan pengetahuan tersebut dapat menjadi modal untuk
membangun daerah yang modern, tetapi tetap memiliki akar budaya yang kuat.
[MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]










3.jpg)