- Lampung Perkuat Layanan Perlindungan Perempuan dan Anak
- Menteri PPPA Beri Pendampingan Langsung kepada Korban Kekerasan Seksual
- TPAKD Kota Metro Tembus Penilaian Nasional
- Pemkot Metro Rencana Hibahkan Lahan untuk Pembangunan Fasilitas Kementerian Haji
- Festival Kakao Lampung Timur Dorong Hilirisasi
- Ketika Krakatau Membelah Daratan: Antara Mitos, Api, dan Gerak Bumi
- In Memoriam Fath Syahbudin: Gema Tanoh Lado yang Abadi di Bumi Lampung
- Kemenag Bandar Lampung Sampaikan Aspirasi Penguatan Layanan Keagamaan kepada Komisi VIII
- Kapolsek Talang Padang Silaturahmi dengan Ipda Sabila
- Kejurda Padel Lampung 2026 Resmi Dimulai
Lampung Perkuat Layanan Perlindungan Perempuan dan Anak
Menteri PPPA Soroti Tantangan Pengasuhan di Era Digital


BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Pemerintah Provinsi
Lampung terus berupaya membangun ekosistem pemberdayaan perempuan dan
perlindungan anak secara menyeluruh.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Gubernur
Jihan Nurlela saat menyambut kunjungan kerja Menteri Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifah Fauzi, dalam Rapat Koordinasi bersama Forum
Puspa, Forum Anak Daerah (FAD), Puspaga, PATBM, dan Dinas PPPA Kabupaten/Kota
se-Provinsi Lampung di Ruang Abung Balai Keratun, Minggu (26/7/2026).
Baca Lainnya :
- Menteri PPPA Beri Pendampingan Langsung kepada Korban Kekerasan Seksual0
- Kemenag Bandar Lampung Sampaikan Aspirasi Penguatan Layanan Keagamaan kepada Komisi VIII0
- Kejurda Padel Lampung 2026 Resmi Dimulai0
- 31 Pasangan Ikuti Nikah Massal Begawi Cinta Lampung 20260
- WLC Raih Penghargaan Kendaraan Terheboh pada Peringatan HUT ke-344 Kota Bandar Lampung0
Dalam sambutannya, Wagub Jihan
menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kehadiran Menteri PPPA RI di Provinsi
Lampung. Menurutnya, sinergi yang kuat antara Pemerintah Pusat, Pemerintah
Provinsi, hingga Pemerintah Kabupaten/Kota menjadi kunci utama keberhasilan berbagai
program perlindungan dan pemberdayaan.
"Kehadiran beliau menjadi
simbol bahwa Lampung ini tentu saja menjadi perhatian, dan memang kami memang
butuh sekali genggaman tangan, butuh sekali untuk bisa dikawal betul oleh Ibu
Menteri dalam menjalankan apa yang menjadi tugas perpanjangan tangan dari
pemerintah pusat," ujar Wagub Jihan.
Wagub menjelaskan bahwa isu
perempuan dan anak di Lampung tidak lagi sekadar menjadi program dinas formal,
melainkan telah didorong menjadi sebuah gerakan sosial bersama. Salah satu
bentuk aksi nyata yang baru saja dilaksanakan adalah gerakan partisipasi
keluarga saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
"Baru saja kita selesai
melakukan gerakan bersama untuk mengawal peserta didik kita dalam MPLS dalam
gerakan 'Ayah Mengantar Anak ke Sekolah' dan antusiasmenya cukup luar biasa Ibu
Menteri di Provinsi Lampung. Saya menyaksikan pagi-pagi, anak-anak sekolah
kita, anak-anak peserta didik diantar oleh ayahnya," jelasnya.
Guna memperluas jangkauan program
hingga ke pelosok, Pemprov Lampung terus mengembangkan inovasi terintegrasi
bernama Program Desa Kesejahteraan Keluarga untuk Lampung Maju Menuju Indonesia
Emas atau yang disingkat Desa TAPIS. Program ini dibarengi dengan penguatan
kapasitas ekonomi masyarakat melalui Bimbingan Teknis Perempuan Kepala Keluarga
(PEKKA).
"Di Lampung sendiri Ibu
Menteri, angka perempuan yang menjadi kepala keluarga menurut data sekitar 9
sampai 11 persen, cukup banyak. Dan ini perlu kita tata ekosistemnya agar
mereka punya peluang lebih baik dalam mengembangkan kapasitas mereka sebagai
kepala keluarga perempuan. Maka keluarga dengan intervensi ini, kami berharap
keluarga akan lebih kuat," tutur Wagub.
Di sisi hak sipil dan partisipasi
publik anak, Pemerintah Provinsi Lampung telah memfasilitasi pembentukan Forum
Anak Daerah di seluruh Kabupaten/Kota. Selain itu, hadir pula Pusat
Pembelajaran Keluarga (Puspaga) untuk membekali para orang tua dengan pola
pengasuhan (parenting) yang adaptif terhadap perubahan zaman dan kemajuan
teknologi.
"Kami percaya bahwa anak-anak
bukan hanya objek pembangunan, mereka adalah bagian dari solusi bangsa. Mereka
memiliki hak untuk didengar, untuk berpendapat, dan juga berkontribusi terhadap
lingkungan sekitar," tegas Wagub Jihan.
Terkait dengan penanganan tindak
kekerasan dan perundungan (bullying), Pemerintah Provinsi Lampung memegang
prinsip zero tolerance. Penguatan layanan dilakukan melalui optimalisasi UPTD
PPA di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, yang juga berkolaborasi dengan
Pos Bantuan Hukum (Posbankum) Kanwil Kemenkumham.
"Di sisi perlindungan pun
komitmen kami sangat jelas. Tidak ada toleransi terhadap segala bentuk
kekerasan terhadap perempuan maupun anak. Melalui UPTD Perlindungan Perempuan
dan Anak, kami terus memperkuat layanan mulai dari pendampingan hukum,
pendampingan psikologis hingga rehabilitasi," tambahnya.
Mengakhiri sambutannya, Wagub Jihan
berharap kunjungan kerja Menteri PPPA RI dapat memberikan arah serta masukan
strategis demi memajukan kualitas hidup perempuan dan anak di Lampung.
"Kami ingin setiap perempuan
punya kesempatan untuk berkembang, punya akses yang sama. Kami ingin setiap
anak tumbuh juga tanpa rasa takut, dan kami ingin setiap keluarga menjadi
tempat pertama yang menghadirkan kasih sayang, pendidikan, dan juga
harapan," pungkas Wagub.
Sementara itu, Menteri PPPA RI Arifah Fauzi
menyoroti besarnya proporsi perempuan dan anak yang mencapai dua pertiga dari
total populasi Indonesia berdasarkan data BPS, yaitu perempuan sebesar 49,4
persen dan anak-anak sebesar 31,6 persen.
"Artinya perempuan dan anak
memiliki posisi dan peran yang sangat strategis untuk Indonesia ke depan,
khususnya untuk 2045. Karena anak-anak kita hari ini adalah pemimpin Indonesia
masa depan. Bagaimana anak-anak Indonesia memimpin di 2045 tergantung bagaimana
kita memperlakukan anak-anak kita pada hari ini," tegas Arifah Fauzi.
Menteri PPPA memaparkan data
SIMFONI PPA sepanjang tahun 2025 yang mencatat 35.020 kasus kekerasan dengan
total 36.920 korban. Ia mengungkapkan keprihatinannya atas fakta bahwa tempat
kejadian terbanyak justru berada di dalam rumah tangga, di mana pelaku
kekerasan dominan merupakan orang terdekat korban.
Arifah Fauzi juga menekankan
munculnya tantangan era digital, khususnya kecanduan gawai dan paparan konten
pornografi yang berdampak berat pada kesehatan mental anak. Ia mengingatkan
bahwa pola pengasuhan tidak boleh berhenti dan harus beradaptasi secara dinamis
sesuai perkembangan zaman guna membentengi karakter anak.
"Kita enggak bisa membentengi
anak kita dengan dinding atau pagar beton yang tinggi, mereka tetap punya cara
bagaimana mereka bisa melewati dinding itu. Maka benteng yang harus kita
berikan adalah benteng yang ada di dalam hati anak-anak kita. Kalau dia tahu
bahwa itu sesuatu tidak baik, dia akan mencoba untuk meninggalkan," tambah
Menteri PPPA.
Menteri PPPA selanjutnya memberikan
apresiasi khusus kepada Provinsi Lampung atas capaian pembentukan UPTD PPA yang
telah terbentuk 100 persen di seluruh kabupaten/kota, seraya mendorong
peningkatan kualitas layanan, sarana prasarana, serta SDM pendamping. Selain
itu, Ia mendorong optimalisasi program "Kemudi" untuk menjembatani
rekomendasi Suara Anak Indonesia langsung kepada para pengambil kebijakan di
tingkat daerah. [MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]










3.jpg)