- Gubernur Mirza Dorong Perguruan Tinggi jadi Mitra Strategis Pembangunan Lampung
- ILUNI UI Lampung Didorong Jadi Mitra Strategis Pembangunan Daerah
- Kapolres Tanggamus Pimpin Sertijab Kabag SDM
- Wali Kota Metro Buka Kembali TPAS Karangrejo, Tiga Tuntutan Warga Disepakati
- Wali Kota Metro Dukung Program Desaku Maju untuk Perkuat Sinergi Pembangunan Daerah
- Pemkab Lampung Barat Lepas 30 Jamaah Umrah, Bupati Pesan Doakan Daerah
- BKMT Pesisir Barat Gelar Pengajian Rutin di Tanjung Rejo
- Bupati Dorong Percepatan Pembangunan Pekon Lewat Program Desaku Maju
- Nuzul Irsan Buka Suara soal Sorotan LHKPN: Perubahan Harta Bukan Berarti Ada Pelanggaran
- Gubernur dan Pangdam Lepas Gerak Jalan Sehat HUT ke 81 Kemerdekaan RI
Gubernur Mirza Dorong Perguruan Tinggi jadi Mitra Strategis Pembangunan Lampung


BBANDAR LAMPUNG, MFH,-- Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja serta perkembangan ekonomi di era transformasi.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Mirza saat
memberikan sambutan dalam acara silaturahmi dan ramah tamah Rapat Kerja
Nasional Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) I Tahun 2026 yang
digelar di Mahan Agung, Bandar Lampung, Sabtu (22/8/2026).
Baca Lainnya :
- ILUNI UI Lampung Didorong Jadi Mitra Strategis Pembangunan Daerah0
- Gubernur dan Pangdam Lepas Gerak Jalan Sehat HUT ke 81 Kemerdekaan RI0
- Pemprov Dukung Pemeriksaan Tematik BPK RI Perkuat Ketahanan Energi0
- Gubernur Mirza Dorong Kawasan Pesisir jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi0
- Pemprov Perkuat Tata Organisasi Wujudkan Pemerintahan Efektif dan Berintegritas0
Acara tersebut menjadi momentum silaturahmi
Pemerintah Provinsi Lampung dengan jajaran Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta
Indonesia (APTISI), para rektor perguruan tinggi swasta dari berbagai daerah di
Indonesia, serta pemangku kepentingan pendidikan tinggi.
Menurutnya, kehadiran para pimpinan perguruan
tinggi dari berbagai daerah merupakan kehormatan sekaligus peluang untuk
memperkuat komunikasi dan membangun kerja sama yang lebih erat dalam
pembangunan daerah.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, saya
mengucapkan selamat datang kepada seluruh keluarga besar APTISI di Lampung.
Terima kasih telah memilih Provinsi Lampung sebagai tempat pelaksanaan Rakernas
APTISI Tahun 2026,” ujar Gubernur Mirza.
Kekayaan
Daerah Harus Dibarengi SDM Unggul
Gubernur Mirza mengatakan, pembangunan tidak
cukup hanya diukur dari tingginya pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB). Menurutnya, pengalaman sejumlah daerah menunjukkan bahwa
pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum otomatis berbanding lurus dengan
peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia mencontohkan kondisi Lampung yang memiliki
potensi ekonomi dan sumber daya alam besar, tetapi masih menghadapi tantangan
pada sektor kualitas SDM dan pendidikan.
“PDRB yang tinggi belum tentu bisa memakmurkan
masyarakat. Kekayaan suatu daerah belum tentu mampu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat tanpa adanya SDM yang unggul,” tegasnya.
Lampung, lanjutnya, memiliki kekuatan besar
pada sektor pangan dan pertanian. Berbagai komoditas seperti padi, jagung,
singkong, kopi, dan kakao menjadi bagian penting dari perekonomian daerah.
Namun, potensi tersebut masih menghadapi
persoalan rendahnya nilai tambah. Banyak komoditas Lampung yang keluar daerah
dalam bentuk bahan mentah, kemudian kembali sebagai produk olahan dengan nilai
ekonomi yang jauh lebih tinggi.
“Kesuburan tanah tidak otomatis meningkatkan
kualitas SDM. Karena itu, kita harus menghubungkan kekayaan sumber daya alam
dengan kualitas sumber daya manusia,” katanya.
Menurut Gubernur Mirza, tantangan tersebut
menjadi pekerjaan bersama, khususnya bagi pemerintah dan perguruan tinggi.
Pendidikan
Harus Terhubung dengan Dunia Kerja
Gubernur Mirza juga menyoroti kesenjangan
antara jumlah lulusan sekolah menengah dengan ketersediaan lapangan pekerjaan.
Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan desain pendidikan yang lebih adaptif
terhadap kebutuhan industri dan perkembangan ekonomi.
Ia menilai perguruan tinggi tidak cukup hanya
menghasilkan lulusan dengan ijazah, tetapi harus mampu melahirkan SDM yang
memiliki kompetensi, keterampilan, kreativitas, dan kemampuan menciptakan
peluang usaha.
“Universitas harus beradaptasi dengan industri
yang akan hadir di Provinsi Lampung. Kita harus menyiapkan SDM untuk bersaing,
bukan hanya untuk mencari pekerjaan,” ujarnya.
Gubernur Mirza menyampaikan, pemerintah daerah
tengah mendorong perubahan struktur ekonomi Lampung agar lebih inklusif,
terutama melalui penguatan hilirisasi komoditas dan penciptaan lapangan kerja
di tingkat desa.
Ia mencontohkan potensi jagung yang tidak hanya
dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi pakan ternak
bahkan produk turunannya. Demikian pula singkong, kopi, kakao, dan berbagai
komoditas pertanian lainnya yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan
menjadi produk bernilai tambah.
“Kenapa hilirisasi belum maksimal dilakukan di
desa? Salah satunya karena kita kekurangan SDM yang memiliki kemampuan untuk
mengolahnya,” jelasnya.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung, kata
Mirza, ingin mendorong model pembangunan yang tidak hanya mengandalkan
investasi besar, tetapi juga memperkuat industri skala kecil berbasis teknologi
dan potensi lokal.
Dalam upaya mendorong Lapangan Kerja Berbasis
Desa, Gubernur Mirza mengungkapkan salah satu gagasan yang tengah didorong
adalah pengembangan teknologi sederhana tetapi tepat guna di desa.
Ia mencontohkan pengembangan mesin pengering
yang dapat digunakan untuk berbagai komoditas pertanian. Dengan teknologi
tersebut, produk pertanian dapat diolah di desa sebelum dipasarkan sehingga
memberikan nilai tambah sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
“Kalau kita membangun ratusan unit pengering di
desa, dampaknya bukan hanya terhadap pengolahan komoditas, tetapi juga
menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi desa,” katanya.
Menurutnya, teknologi yang diterapkan tidak
selalu harus berasal dari luar negeri. Teknologi harus disesuaikan dengan
karakteristik komoditas, kondisi masyarakat, serta ekosistem ekonomi daerah.
“Teknologi dari luar belum tentu cocok dengan
struktur yang ada di sini. Kita harus mampu mendesain teknologi yang sesuai
dengan kebutuhan dan kekuatan daerah kita sendiri,” ujarnya.
Gubernur Mirza berharap perguruan tinggi swasta
dapat menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi Lampung dalam menghadapi
perubahan tersebut.
Ia menyampaikan sejumlah gagasan kerja sama,
antara lain pengembangan beasiswa, penguatan pendidikan vokasi, pengabdian kepada
masyarakat, serta program yang mendorong mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi
berkontribusi langsung di desa.
Salah satu gagasan yang disampaikan adalah
program satu desa satu sarjana, khususnya untuk memperkuat ketersediaan SDM
yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan di tingkat desa.
“Di Lampung masih kurang sarjana, terutama yang
memiliki kompetensi sains, teknologi, teknik, dan bidang industri. Karena itu,
kita ingin menyiapkan anak-anak muda yang memiliki keterampilan sesuai
kebutuhan pembangunan,” katanya.
Gubernur juga mengajak perguruan tinggi
mengembangkan model Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang lebih solutif. Mahasiswa dari
berbagai program studi dapat ditempatkan dalam satu tim untuk membantu
menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat desa.
“Intinya sekarang kita harus mengembangkan
desa. Pemerintah memiliki kewenangan, kampus menghadirkan pengetahuan, dunia
usaha membuka peluang investasi, dan masyarakat menjadi pelaku pembangunan.
Kalau semuanya berkolaborasi, dampaknya akan jauh lebih besar,” ujarnya.
Gubernur Mirza juga menilai arah kebijakan
nasional, khususnya penguatan kedaulatan pangan, mulai memberikan dampak
positif bagi Lampung yang memiliki basis ekonomi pertanian cukup kuat.
Ia menyebut sebagian besar masyarakat Lampung
masih bergantung pada sektor pertanian, terutama komoditas padi, jagung, dan
singkong. Karena itu, peningkatan kesejahteraan petani akan memberikan dampak
langsung terhadap konsumsi dan aktivitas ekonomi daerah.
Namun, Gubernur mengingatkan bahwa momentum
tersebut harus diikuti dengan transformasi ekonomi yang lebih berkelanjutan.
“Kita tidak boleh hanya menikmati harga
komoditas yang bagus. Kita harus mendesain ulang struktur ekonomi agar
masyarakat memperoleh nilai tambah yang lebih besar,” katanya.
Menurutnya, pembangunan ekonomi ke depan harus
diarahkan agar masyarakat tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi
juga menjadi pelaku pengolahan dan pemilik nilai tambah.
Menutup sambutannya, Gubernur Mirza kembali
menegaskan kesiapan Pemerintah Provinsi Lampung untuk membuka ruang kolaborasi
dengan perguruan tinggi swasta.
Ia mengajak seluruh perguruan tinggi tidak
hanya melihat Lampung sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan, tetapi sebagai
ruang bersama untuk mengembangkan inovasi, meningkatkan kualitas SDM,
memperkuat ekonomi desa, dan menciptakan lapangan kerja.
“Pemerintah memiliki kewenangan, kampus
menghadirkan pengetahuan, dunia usaha membuka peluang investasi, dan masyarakat
menjadi pelaku pembangunan. Mari kita satukan kekuatan itu untuk mempersiapkan
masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Umum APTISI Prof. Dr. Ir.
H. M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa
perguruan tinggi sedang menghadapi perubahan besar akibat perkembangan
teknologi dan kecerdasan artifisial (AI).
Menurutnya, proses pembelajaran kini tidak lagi
hanya berlangsung di ruang kelas. Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai
sumber, termasuk teknologi digital dan media sosial.
“Dulu kita belajar hanya kepada dosen dan guru.
Sekarang ilmu ada di mana-mana. Karena itu, kampus harus mampu menyesuaikan
diri,” katanya.
Budi menilai perguruan tinggi harus mulai
mengubah paradigma pendidikan dari sekadar berorientasi pada proses
pembelajaran menuju outcome-based education, yakni pendidikan yang menekankan
capaian kompetensi dan hasil nyata yang dimiliki mahasiswa.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan AI
berpotensi mengubah banyak pekerjaan dan model pembelajaran secara cepat.
Karena itu, perguruan tinggi harus berani melakukan inovasi dan tidak terjebak
pada sistem pendidikan yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, salah satu hal yang tetap menjadi
kekuatan perguruan tinggi di tengah perkembangan teknologi adalah pendidikan
karakter dan akhlak.
“Perguruan tinggi yang akan tetap didatangi
mahasiswa adalah kampus yang mampu mengajarkan akhlak,” ujarnya.










3.jpg)