- APBD Perubahan Tanggamus 2026 Naikkan Belanja Jadi Rp1,74 Triliun
- Peduli Warga Terdampak Abu Vulkanik, Purnama Wulan Sari Bagikan 10.000 Masker
- Dari Lumbung Pangan jadi Lumbung Energi, Gubernur Dorong Lampung Pimpin Pengembangan Bioetanol
- Wabup Buka Seleksi MTQ ke-53, Siapkan Generasi Qurani Terbaik Lampung Timur
- Dua Qori Asal Lampung Tengah Wakili Lampung di MTQ Nasional XXXI 2026
- TP PKK Lamteng dan Pengadilan Agama Gunung Sugih Jalin Kerja Sama
- Pemkab Lambar Lepas Kadis Dukcapil Ruspan Anwar ke Peristirahatan Terakhir
- Pemprov Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi, Perlindungan Anak, dan Pemberdayaan Perempuan
- Gubernur Dorong Fatayat NU Lampung Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kualitas SDM
- Wabup Pesawaran Hadiri Diskusi Publik Rembuk Pemuda Lampung
Dari Lumbung Pangan jadi Lumbung Energi, Gubernur Dorong Lampung Pimpin Pengembangan Bioetanol

PESAWARAN. MFH,--- Gubernur Rahmat Mirzani
Djausal menyampaikan optimisme bahwa Lampung dapat menjadi pusat pengembangan
ekosistem bioetanol nasional. Hal itu disampaikan saat menghadiri Launching
Bioethanol Development Center Lampung di Desa Kota Agung, Kecamatan Tegineneng,
Kabupaten Pesawaran, Senin (14/9/2026).
Pusat pengembangan ini menjadi langkah awal
untuk menghubungkan potensi pertanian Lampung dengan pengembangan energi
terbarukan berbasis biomassa. Pengembangannya melibatkan kolaborasi Kementerian
Investasi dan Hilirisasi/BKPM, PT Pertamina New & Renewable Energy, Toyota
Group, Universitas Lampung, pemerintah daerah, serta sejumlah mitra dan
pemangku kepentingan.
Dalam sambutannya, Gubernur Mirza mengatakan
bahwa Lampung selama ini dikenal sebagai provinsi agraris dan salah satu
lumbung pangan nasional. Namun, potensi tersebut perlu dikembangkan lebih jauh
agar tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menciptakan nilai
tambah melalui industri dan energi.
Baca Lainnya :
- Wabup Pesawaran Hadiri Diskusi Publik Rembuk Pemuda Lampung0
- Gas Amal Ojek Manol, Simbol Kearifan Lokal dan Semangat Gotong Royong Masyarakat0
- Bupati Nanda Indira Dorong Penguatan Sinergi Pemkab Pesawaran dengan Brigif 4 Marinir/BS0
- Desa Sidodadi Masuk 15 Besar Nasional Desa Cantik 20260
- Bupati Nanda Indira Salurkan Bantuan Pangan Beras untuk Masyarakat Desa Sidodadi0
“Pertanian bukan lagi hanya menghasilkan
pangan, tetapi juga energi. Bukan hanya menjual hasil panen, tetapi juga
menciptakan industri. Dan bukan hanya menggerakkan ekonomi Lampung, tetapi ikut
memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Gubernur Mirza.
Menurutnya, launching Bioethanol Development
Center Lampung bukan hanya peluncuran sebuah fasilitas, tetapi menjadi langkah
awal membangun ekosistem baru yang menghubungkan sektor pertanian, riset,
teknologi, industri, dan energi.
Gubernur Mirza mengapresiasi kolaborasi seluruh
pihak yang terlibat. Ia menilai proyek sebesar ini tidak dapat lahir dari satu
pihak saja, melainkan membutuhkan kepercayaan dan kerja bersama antara
pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, serta mitra strategis.
Inisiatif tersebut juga dinilai sejalan dengan
arah kebijakan nasional dalam pengembangan bioetanol, mulai dari penerapan
campuran E5 menuju E10 hingga E20 pada masa mendatang.
“Apa yang kita mulai di Lampung hari ini adalah
bagian dari langkah besar Indonesia menuju kemandirian energi,” katanya.
Potensi
Pertanian Lampung
Gubernur Mirza menyampaikan bahwa Lampung
memiliki sejumlah keunggulan untuk mengembangkan industri bioetanol. Selain
ketersediaan lahan dan ekosistem pertanian, Lampung juga memiliki agroindustri
serta sumber daya yang dapat diintegrasikan dengan pengembangan energi
terbarukan berbasis biomassa.
Sekitar 27 persen struktur ekonomi Lampung
ditopang sektor pertanian. Provinsi ini juga memiliki posisi strategis sebagai
salah satu lumbung pangan nasional.
Sejumlah komoditas unggulan Lampung antara lain
:
- Ubi kayu: peringkat pertama nasional dengan
produksi sekitar 7,5 juta ton.
- Padi: peringkat keenam nasional dengan produksi
sekitar 3,5 juta ton gabah kering giling (GKG).
- Jagung: peringkat keenam nasional dengan
produksi sekitar 1,7 juta ton.
- Tebu: peringkat kedua nasional dengan produksi
sekitar 724 ribu ton gula kristal putih.
Menurut Gubernur Mirza, produksi pertanian
Lampung yang surplus turut berkontribusi memenuhi kebutuhan pangan nasional.
Potensi tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan teknologi bioetanol
berbasis berbagai bahan baku atau multi-feedstock dan menghasilkan berbagai
produk turunan melalui konsep multi-generation bioethanol.
“Komoditas pertanian tidak boleh berhenti
sebagai bahan mentah. Ia harus menjadi sumber nilai tambah. Ia harus menjadi
sumber investasi. Ia harus menjadi sumber lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Sorgum
dan Pengembangan Ekosistem Bioetanol
Gubernur Mirza menekankan bahwa pengembangan
industri bioetanol tidak cukup hanya dengan membangun pabrik. Ekosistem yang
mendukungnya juga harus disiapkan secara menyeluruh.
Ekosistem tersebut mencakup pengembangan benih,
budidaya tanaman, mekanisasi pertanian, pengolahan biomassa, produksi
bioetanol, hingga pemanfaatan produk turunannya.
Karena itu, pengembangan sorgum sebagai bahan
baku atau feedstock dan pembangunan Bioethanol Development Center Lampung harus
berjalan sebagai satu kesatuan.
Pusat pengembangan ini diharapkan menjadi
tempat lahirnya inovasi, pengembangan riset, pengujian teknologi, pengumpulan
data, serta penyusunan model bisnis yang dapat diterapkan dalam skala industri.
“Kalau itu berhasil, manfaatnya tidak hanya
dirasakan Lampung, tetapi juga Indonesia,” ujar Gubernur.
Membuka
Peluang Ekonomi Baru
Pengembangan sorgum dan bioetanol dinilai
membuka peluang baru bagi petani, tenaga kerja, UMKM, dunia usaha, peneliti,
dan masyarakat di sekitar kawasan pengembangan.
Kedepan, diharapkan terbentuk rantai nilai yang
kuat, mulai dari penyediaan benih, budidaya, mekanisasi pertanian, pengolahan
biomassa, produksi bioetanol, hingga pemanfaatan produk sampingnya.
Dengan demikian, transformasi energi tidak
hanya berbicara mengenai teknologi, tetapi juga menjadi daya ungkit pertumbuhan
ekonomi daerah.
“Inilah makna sebenarnya dari hilirisasi. Bukan
sekadar mengolah bahan baku. Tetapi menciptakan nilai tambah yang kembali
kepada masyarakat,” kata Gubernur Mirza.
Ia berharap seluruh proses pembangunan
Bioethanol Development Center Lampung dilaksanakan secara profesional,
transparan, terukur, memperhatikan keselamatan kerja, menjaga lingkungan, dan
menghasilkan model pengembangan yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
Kolaborasi
untuk Kedaulatan Pangan dan Energi
Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, Gubernur
Mirza kembali menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Investasi dan
Hilirisasi/BKPM, PT Pertamina New & Renewable Energy, Toyota Group,
Universitas Lampung, serta seluruh mitra yang telah mengambil bagian dalam
pengembangan pusat bioetanol tersebut.
Ia mengajak seluruh pihak menjadikan momentum
launching sebagai awal kolaborasi yang lebih kuat untuk memperkuat sektor
pertanian, mengembangkan energi terbarukan, dan menciptakan manfaat ekonomi
bagi masyarakat.
“Dari tanah Lampung, kita siap memimpin
Indonesia menuju kedaulatan pangan, kemandirian energi, dan kemakmuran rakyat
berkelanjutan,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Investasi dan
Hilirisasi Todotua Pasaribu menjelaskan bahwa pengembangan bioetanol di
Provinsi Lampung ini berpijak pada empat pilar fundamental kebangsaan, yakni
ketahanan energi, hilirisasi, transisi dan bauran energi, serta ketahanan
ekonomi nasional.
Todotua mengungkapkan, apabila pada
segmen diesel pemerintah telah sukses menorehkan kedaulatan energi melalui
program B50 berbasis minyak kelapa sawit mentah (CPO), maka bioetanol hadir
sebagai solusi konkret substitusi bahan bakar bensin (fuel) yang konsumsi
nasionalnya mencapai 36 juta kiloliter per tahun. Hal ini dinilai krusial untuk
menekan beban subsidi energi APBN yang saat ini menembus ratusan triliun rupiah
per tahun akibat fluktuasi minyak mentah dunia.
Dipilihnya Provinsi Lampung sebagai
lokasi pengembangan sentra bioetanol nasional berawal dari penelusuran riset
teknologi biomassa di Fukushima, Jepang. Dari kunjungan tersebut terungkap
fakta membanggakan bahwa riset enzim dan bibit sorgum unggul yang digunakan industri
otomotif Jepang berasal dari tanah Lampung.
"Waktu saya lihat plan di
Jepang kapasitas 60.000, saya ketemu dengan orang-orang risetnya, mereka tahu
Lampung. 'Enzim yang kita pakai di sini, kita risetnya di Lampung. Sorgum yang
kita tanam di sini, bibitnya dari Lampung dan kita riset di Lampung, kita
bawa.' Saya bilang tinggi betul. Di Jepang bisa buat begini, masa negara saya
nggak bisa buat?," ungkap Todotua.
Selain berkaca dari teknologi
Jepang, Todotua juga merujuk pada keberhasilan Brasil yang memproduksi 38 juta
kiloliter bioetanol per tahun dari bahan baku singkong, jagung, dan sorgum
dengan harga jual hampir separuh dari harga bensin. Keberhasilan Brasil
tersebut turut terintegrasi dengan ekosistem peternakan sapi skala raksasa
melalui pemanfaatan ampas distilasi bioetanol menjadi pakan ternak berkualitas
tinggi serta pemanfaatan limbah menjadi gas biometana dan pupuk organik (zero
waste circular economy).
Guna merealisasikan model tersebut
di Lampung, fasilitas Bioethanol Development Center Tegineneng ditargetkan
mulai berproduksi pada Desember 2026 pada skala pilot project 60 kiloliter
dengan lahan demplot budidaya seluas 10 hektare. Fasilitas ini akan menguji dan
memvalidasi keekonomian produksi bioetanol generasi pertama (berbasis singkong
dan sorgum) maupun generasi kedua (berbasis limbah biomassa hortikultura dan
ampas tebu).
"Development Center ini kita
bangun untuk kita mengukur dari sisi komersialisasinya, berapa harga kompetitif
cost-nya yang bisa kita dapat. Karena yang namanya energi transisi, tantangan
paling besarnya itu berbicara mengenai harga, cost. Target tahun depan kita
dorong masuk skala komersial 60.000 kiloliter," tegas Wamen.
Todotua kemudian menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Rahmat
Mirzani Djausal atas kepemimpinan yang responsif dan akseleratif dalam
penyiapan lahan pendukung proyek hilirisasi energi hijau tersebut, dari semula
2 hektare menjadi 10 hektare. Skema ini ke depan akan dikembangkan secara
inklusif dengan melibatkan kelompok tani lokal dan wadah koperasi sebagai
penyedia bahan mentah (feedstock hub).
"Harapannya kita juga bisa
menyerap singkong dari masyarakat. Ada nilai tambah, tidak hanya untuk keripik
atau tepung. Konsep koperasi pun bisa kita jalankan menjadi hub untuk
mengumpulkan material feedstock-nya, pabrik ini offtaker-nya. Jadi ekosistemnya
sangat luar biasa dan sangat nyambung," tutur Todotua.
Dalam kegiatan tersebut, juga dilakukan
penandatanganan kesepakatan kerja sama pengembangan agribisnis ketahanan energi
dan pangan antara PT Pertamina New and Renewable Energy (Pertamina NRE) dengan
Pemerintah Provinsi Lampung. Pada kesempatan yang sama, turut dilaksanakan
penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) terkait pengkajian potensi teknis dan
komersial produksi serta pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia.
Sebagai tonggak dimulainya
konstruksi fasilitas riset dan produksi tersebut, Wamen Todotua Pasaribu
bersama Gubernur Lampung, jajaran Komisaris PT Pertamina (Persero), dan
pimpinan konsorsium otomotif Jepang melaksanakan prosesi simbolis penuangan
semen perdana pembangunan Bioethanol Development Center. Rangkaian acara
kemudian dilanjutkan dengan penanaman perdana bibit sorgum unggul di atas lahan
demplot percontohan seluas 10 hektare. [MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]










3.jpg)