- Pemkab Pringsewu Gelar Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI
- Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 Kemerdekaan RI Berlangsung Khidmat
- Kemenag Kota Bandar Lampung Gelorakan Nasionalisme lewat Upacara HUT ke-81 RI
- HUT RI ke-81, Momentum Refleksi Perjalanan Bangsa dan Solidaritas di Tengah Bencana
- Ketua DWP Kemenag Bandar Lampung Upacara HUT ke-81 RI di Kantor Wali Kota
- Erwinto: Satker Kemenag Bandar Lampung Harus Bergerak Satu Arah dan Taat Regulasi
- Sekdaprov Ikuti Apel Kehormatan dan Renungan Suci Rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI
- Gubernur Mirza Pimpin Upacara HUT ke-81 RI Tingkat Provinsi Lampung
- Pemprov Lampung Ikuti Detik-Detik Proklamasi, Semangat Persatuan jadi Perekat Bangsa
- Bupati Pimpin Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI Lampung Timur
Nonton Wayang Potehi Sanggar Tek Gie Hien: Menyingkap Layar, Menghidupkan Warisan

SEMARANG, MFH,-- Senja itu, di depan
Gedung Marba yang berdiri anggun sebagai saksi zaman, sebuah panggung mungil
dengan tirai merah tua tersingkap perlahan. Dari balik celah, muncullah
tokoh-tokoh berwarna cerah: wajah kayu dengan ukiran halus, pakaian bersulam
emas dan merah, gerak yang hidup di tangan dalang.
Itulah Wayang Potehi, seni boneka tangan
Tionghoa yang telah ratusan tahun menyeberangi waktu dan budaya, kini tampil
kembali dalam Fiesta Folklore Nusantara, Festival Kota Lama ke-14, Jumat
(12/9/2025) lalu.
Penonton, dari anak-anak hingga orang tua,
duduk terpaku. Setiap gerakan boneka seolah memantulkan denyut kehidupan.
Tabuhan musik tradisional Tionghoa berpadu dengan suara dalang yang lihai
memainkan karakter: ada yang jenaka, ada yang gagah, ada pula yang penuh
hikmah. Tawa dan kagum pun bergema, membaur dalam suasana Kota Lama yang seakan
menjadi panggung besar pertemuan budaya.
Baca Lainnya :
- Aspirasi Petani Singkong Lampung Didengar, Presiden Instruksikan Lartas Impor Tapioka0
- Musdes RKPDes Desa Maja Tahun Anggaran 2026 Digelar, BLT DD Tahap III Disalurkan0
- Gubernur Lampung Lantik Dua Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama0
- Desa TAPIS Hadir di Tanggamus0
- Polsek Tulang Bawang Tengah Gelar Gerakan Pangan Murah di Tiyuh Tirta Makmur0
Wayang Potehi di Semarang bukan sekadar
hiburan. Ia adalah jejak sejarah akulturasi, saat budaya Tionghoa menyatu
dengan denyut Jawa dan Nusantara. Sanggar Tek Gie Hien, yang lahir sejak
1960-an, adalah salah satu penjaga tradisi itu. Dari tangan Thio Tiong Gie,
kesenian ini bertahan melewati generasi, hingga kini diteruskan oleh putranya,
Thio Haouw Liep, setelah sang ayah wafat pada 2014.
Pertunjukan mereka tak hanya hadir di
panggung festival. Sehari-hari, Wayang Potehi Tek Gie Hien kerap dipentaskan di
Kelenteng Tay Kak Sie, Pecinan Gang Lombok, terutama pada perayaan hari besar
Tionghoa. Di situlah, layar-layar kecil terbuka, kisah-kisah klasik tentang
kebaikan, kesetiaan, dan perjuangan kembali hidup, menyalakan cahaya nilai yang
abadi.
Kini, dalam upaya merawat warisan ini, Thio Haouw Liep melibatkan generasi muda. Anak-anak dan remaja dilatih untuk menjadi pengiring musik, menjaga agar tabuhan dan melodi tetap berpadu dengan cerita. Di tangan mereka, warisan itu menemukan napas baru: tradisi yang bukan hanya dikenang, tapi terus bergerak.
Wayang Potehi, dengan layar sederhana dan boneka mungilnya, menyampaikan pesan
besar: bahwa seni adalah jembatan. Ia menghubungkan generasi dengan generasi,
etnis dengan etnis, masa lalu dengan masa kini. Dan malam itu, di jantung Kota
Lama Semarang, jembatan itu kembali tegak, menyatukan semua yang hadir dalam
satu kisah bersama. [MFH/Christian Saputro]











3.jpg)