- Menembak Begal, Membiarkan Bandar
- Kakanwil Kemenag Tekankan Penguatan Pelayanan Umat Saat Kunjungan ke KUA Gisting Tanggamus
- Petani Cabai Lamsel Keluhkan Biaya Produksi Melonjak, Harga Jual Justru Anjlok Saat Panen Raya
- PTPN I Polisikan Lansia 72 Tahun Kasus Pencurian Getah Karet
- Rekam Jejak Polwan Pertama jadi Kapolsek di Polres Tanggamus, dari Reskrim Hingga Humas
- SDN 1 Tekad Raih Juara 1 Tari Kreasi dan jadi Juara Umum FLS3N Kecamatan Pulau Panggung
- Kabidkeu dan Kabid Dokkes Polda Lampung Pimpin Apel Pamatwil Polres Tanggamus
- Diduga Lakukan Kekerasan Verbal terhadap Anak, Oknum Collector OTO Finance Resmi Dilaporkan
- Operasi Pasar Minyakita Digelar Serentak pada 15 Kabupaten/Kota di Lampung
- Pesawaran Tampilkan Produk Unggulan UP2K Dalam Kunjungan Kerja TP PKK Pusat di Lampung
Menembak Begal, Membiarkan Bandar

LAMPUNG, MFH,-- Kepolisian dinilai keliru jika
hanya mengandalkan timah panas untuk meredam kejahatan jalanan. Gurita narkoba,
judi online, dan mafia penadah adalah akar yang dibiarkan hidup.
Bunyi letusan senjata api yang melumpuhkan
komplotan begal penembak polisi di Lampung pekan ini mungkin melegakan sebagian
warga. Keberhasilan Kepolisian Daerah Lampung merespons cepat kasus ini memang
patut diapresiasi. Namun, di mata Septa Aditya Aslam, peluru panas bukanlah
"peluru perak" yang bisa menyelesaikan persoalan secara tuntas.
Peneliti Center for Legal Policy and Digital
Dynamics (CLPD) atau Pusat Kajian Kebijakan Hukum dan Dinamika Digital itu
menilai kepolisian keliru jika cepat berpuas diri. Bertindak garang di
lapangan, menurutnya, hanya mengobati gejala tapi membiarkan penyakit aslinya
terus menggerogoti.
Baca Lainnya :
- Pemprov Lampung Perkuat Investasi Energi Hijau dan Rehabilitasi Mangrove0
- Pemprov Lampung Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Percepat Eliminasi TBC0
- Pemprov Lampung Dorong LKKS Jadi Ujung Tombak Pelayanan Sosial di Daerah0
- Pemprov Lampung Intensifkan Pengawasan dan Pengendalian Harga Bahan Pangan0
- Pemprov Lampung Dorong Radio Hadirkan Konten Kreatif dan Edukatif0
"Jangan cuma puas tembak mati pelaku di
lapangan," ujar Septa, yang juga seorang praktisi hukum. Ia mengajak
publik dan aparat membedah profil para pelaku kejahatan jalanan. Bagi dia, para
begal ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan produk dari patologi sosial
yang kronis.
Secara akademik, Septa menengarai fenomena ini
sebagai rentetan persoalan sistemik. "Ini fenomena miris: mereka sudah
terimpit kemiskinan, banyak gaya, putus sekolah, lalu akal sehatnya dirusak
oleh kecanduan narkoba dan jerat judi online," tuturnya dengan nada
kritis.
Alih-alih sekadar menembak kroco di jalanan,
Septa menantang Kapolda Lampung untuk mengarahkan laras penegakan hukum kepada
"ikan besar". Ia mendesak polisi tak pandang bulu dalam memberantas
akar pemicu kejahatan tersebut. "Tangkap bandar-bandar narkobanya. Sikat
bos judi online-nya. Jangan cuma berani menangkap pemakai atau kelas teri, tapi
bandar utamanya dibiarkan bebas merusak nalar masyarakat," katanya
menegaskan.
Gurita kejahatan ini, kata Septa, tidak berdiri
sendiri. Di bagian hilir, nyawa para begal ini bergantung pada keberadaan pasar
gelap: sindikat penadah. Selama kendaraan hasil curian masih menemukan pembeli,
mesin kejahatan begal akan terus berputar.
Untuk memutus rantai ekonomi berdarah ini,
Septa menyodorkan tiga desakan ekstrem kepada kepolisian:
Pertama, menyisir dan melibas sindikat penadah.
Kepolisian dituntut untuk melacak aliran penjualan motor hasil kejahatan dan
memetakan kantong-kantong daerah rawan. Kedua, edukasi publik secara masif.
Masyarakat harus disadarkan bahwa membeli motor bodong berharga miring
sejatinya sama dengan mendanai aksi pembegalan berdarah berikutnya.
Ketiga, dan yang paling menohok, adalah
pembersihan internal aparat. Septa mewanti-wanti keras agar kepolisian menjaga
integritas institusinya. "Jangan sampai oknum polisi sendiri malah
ikut-ikutan memakai kendaraan bodong hasil tadahan. Bersihkan juga dari
dalam," ujarnya memperingatkan.
Bagi Septa, tindakan tegas terukur di jalanan
memang sesekali diperlukan sebagai efek jera kilat. Namun, penyelesaian hakiki
menuntut nyali kepolisian untuk memutus rantai pasok kejahatan itu sendiri.
"Habisi bandar narkoba, sikat judi online, dan hancurkan sindikat
penadahnya. Hanya dengan cara itu, teror begal bisa benar-benar
dihentikan." [MFH/Din/rils]










3.jpg)