- Polsek Pulau Panggung Amankan Pelaku Pencurian Drum Penyaring Sampah di Bendungan Batu Tegi
- Lampung Siaga Hadapi Serangan Siber, BSSN Dorong Pembentukan TTIS di Kabupaten/Kota
- Peringati Harkitnas ke 118, Pemprov Lampung Gaungkan Semangat Kebangkitan Kolektif Bangsa
- Sekda Tanggamus Bacakan Amanat Bupati pada Upacara Harkitnas ke-118
- Terima Aspirasi Buruh, Pemprov Lampung Gelar Dialog
- Pemkab Tanggamus Mulai Tata Pasar Gisting, Pedagang Diminta Masuk Area Dalam Pasar
- Polres Tanggamus Identifikasi Remaja Korban Tenggelam di Pantai Teba
- Pemprov Lampung Dorong GAPEMBI jadi Garda Terdepan Penyediaan Pangan Sehat
- Lampung Perkuat Ketahanan Wilayah Hadapi Ancaman Multidimensi
- Satgas Kodim 0421/Ls Berhasil Pertemukan Wanita Linglung di Pelabuhan Bakauheni dengan Keluarga
Lampung Siaga Hadapi Serangan Siber, BSSN Dorong Pembentukan TTIS di Kabupaten/Kota

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Pemerintah Provinsi
Lampung melalui Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Lampung
menggelar Asistensi Pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) dan Bimbingan
Teknis Penanganan Insiden Siber Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung di Ruang
Sungkai, Balai Keratun Kantor Gubernur Lampung, Rabu (20/05/2026).
Kegiatan dengan tema 'Simulasi Penanganan Web
Defacement Judi Online dan Ransomware' diharapkan dapat menjadi langkah
strategis memperkuat kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi ancaman
siber yang terus berkembang.
Kepala Dinas Kominfotik Provinsi Lampung,
Ganjar Jationo, menyampaikan apresiasinya kepada Badan Siber dan Sandi Negara
(BSSN) yang memilih Lampung sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan penguatan
keamanan siber tersebut.
Baca Lainnya :
- Peringati Harkitnas ke 118, Pemprov Lampung Gaungkan Semangat Kebangkitan Kolektif Bangsa0
- Terima Aspirasi Buruh, Pemprov Lampung Gelar Dialog0
- Pemprov Lampung Dorong GAPEMBI jadi Garda Terdepan Penyediaan Pangan Sehat0
- Lampung Perkuat Ketahanan Wilayah Hadapi Ancaman Multidimensi0
- Pemprov Lampung Dorong Dapur MBG Serap Produk Petani, Peternak, dan UMKM Lokal0
Ganjar menegaskan bahwa keamanan siber akan
menjadi fondasi penting dalam tata kelola pemerintahan digital di masa depan.
Menurutnya, peran para pengelola keamanan siber di pemerintah daerah akan
semakin vital seiring meningkatnya ketergantungan layanan publik terhadap
sistem digital.
“Rasanya masa depan pemerintah daerah di
Indonesia itu ada di tangan Bapak-Ibu sekalian. Ketika seluruh layanan sudah
berbasis digital, maka pengelola keamanan siber inilah yang menjadi penjaga
kedaulatan digital Indonesia,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi
antarinstansi, perguruan tinggi, komunitas keamanan siber hingga kalangan
praktisi teknologi untuk memperkuat pertahanan siber daerah. Menurutnya, pola
berbagi informasi mengenai modus dan ancaman siber harus terus dibangun agar
pemerintah tidak gagap saat menghadapi serangan.
"Kalau ada serangan siber, jangan sampai
kita baru bergerak setelah kejadian. Sistem pengamanan harus dibangun sejak
awal, seperti siskamling di lingkungan masyarakat. Ketika penjagaan kuat, maka
kesempatan pelaku kejahatan akan semakin kecil," ujarnya.
Ganjar juga mengingatkan pentingnya membangun
budaya keamanan digital di lingkungan pemerintahan, mulai dari penggunaan kata
sandi yang kuat hingga peningkatan kesadaran seluruh aparatur terhadap ancaman
phishing, pencurian data, dan ransomware.
Dalam kesempatan tersebut, Ganjar juga
menekankan bahwa ancaman siber saat ini bukan lagi sekadar kemungkinan, tetapi
telah menjadi ancaman nyata yang dapat memengaruhi keamanan sebuah negara.
Ia mencontohkan informasi mengenai operasi
penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro yang disebut dilakukan melalui
serangan terhadap sistem keamanan dan radar negara tersebut dari jarak ribuan
kilometer. Menurut Ganjar, terlepas dari berbagai spekulasi yang berkembang,
peristiwa itu menjadi pelajaran penting mengenai betapa krusialnya keamanan
siber dalam menjaga kedaulatan negara.
"Ancaman yang paling nyata sudah ada,
bukan hayalan lagi. Perkembangan teknologi siber ini eksponensial, sangat cepat
berubah. Yang satu belum selesai dipelajari, sudah muncul ancaman baru,"
katanya.
Ganjar menambahkan, keamanan digital menjadi
pondasi utama bagi pelaksanaan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE)
dan implementasi Satu Data Indonesia yang membutuhkan interoperabilitas serta
pertukaran data antarlembaga.
"Di atas keamanan digital itulah
berlangsung SPBE dan proses Satu Data Indonesia. Apa yang mau dipertukarkan
kalau sistemnya tidak aman? Karena itu keamanan siber menjadi sangat penting,"
tegasnya.
Sementara itu, Direktur Keamanan Siber dan
Sandi Pemerintah Daerah BSSN, Danang Jaya, dalam sambutan yang disampaikan oleh
Sandiman Ahli Madya Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Pemerintah Daerah,
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Pemerintahan dan Pembangunan Manusia
BSSN, Didik Hardiyanto, menegaskan bahwa ancaman siber kini menjadi tantangan
serius bagi pemerintah daerah.
"Setiap inovasi digital yang diluncurkan
pemerintah daerah akan membuka peluang serangan siber dari pihak yang tidak
bertanggung jawab. Serangan ransomware, kebocoran data sensitif dan berbagai
ancaman lainnya terus meningkat secara eksponensial," ujar Didik.
Ia menyampaikan bahwa Presiden Republik
Indonesia Prabowo Subianto telah menginstruksikan seluruh instansi pemerintah,
baik pusat maupun daerah, untuk memiliki Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS)
sebagai bagian dari strategi menjaga keberlangsungan layanan publik.
Menurut Didik, keberadaan TTIS bukan sekadar
memenuhi indikator penilaian indeks keamanan siber, tetapi menjadi kebutuhan
mendasar dalam membangun kemampuan deteksi dini dan respons cepat terhadap
serangan.
"Tim tanggap insiden siber harus benar-benar
diisi sumber daya manusia yang kompeten, responsif dan berintegritas. Serangan
siber tidak mengenal jam kerja maupun hari libur," katanya.
Dalam arahannya, BSSN menekankan enam poin
strategis, yakni penguatan TTIS di seluruh pemerintah daerah, tata kelola
keamanan informasi berbasis manajemen risiko, standarisasi SOP penanganan
insiden, penguatan kolaborasi lintas sektor, peningkatan kompetensi SDM secara
berkelanjutan, serta pembangunan budaya kesadaran keamanan siber.
Didik juga menegaskan pentingnya pelaporan
cepat setiap insiden siber kepada BSSN agar dampak serangan dapat dicegah
meluas ke daerah lain.
"Dalam dunia siber tidak ada satu entitas
yang bisa berdiri sendiri. Serangan di satu daerah bisa menjadi bagian dari
kampanye serangan yang lebih besar hingga level nasional," ujarnya.
BSSN turut mendorong implementasi kolaborasi
Quad Helix dengan melibatkan unsur pemerintah, akademisi, industri dan
komunitas keamanan siber dalam membangun ekosistem keamanan digital yang kuat
di daerah.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi
Lampung berharap penguatan kapasitas keamanan siber daerah dapat berjalan lebih
optimal guna mendukung pelaksanaan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik
(SPBE), interoperabilitas data, serta perlindungan data masyarakat dari
berbagai ancaman digital. [MFH/Dinas Kominfotik Provinsi Lampung]











3.jpg)