- APBD Perubahan Kabupaten Pringsewu 2026 Disahkan
- Gubernur Dorong Unila Jadi Motor Transformasi Ekonomi melalui Hilirisasi
- ITERA dan BPBD Pesawaran Kolaborasi Susun Kajian Risiko Bencana Tahun 2026–2030
- Bupati Serahkan Bantuan Pangan Kepada Warga Fajarmulia Pagelaran Utara
- Pemkab Pringsewu Gelar Upacara Peringatan Hari Perhubungan Nasional 2026
- Plt Bupati Tekankan Disiplin dan Kesiapsiagaan Personel Satpol PP dan Damkar
- Pemkab Lamteng Jalin PKS dengan Kanwil Kementerian Hukum Lampung
- Rapat Paripurna DPRD Pesisir Barat Bahas Raperda Perubahan APBD TA 2026
- Pemkab Pesisir Barat Gelar Simulasi Penanganan Pasien Darurat Lewat Udara
- Sekda Tanggamus Tinjau Tanggul Way Belu, Siapkan Penanganan Darurat
Gubernur Dorong Unila Jadi Motor Transformasi Ekonomi melalui Hilirisasi

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Gubernur Lampung Rahmat
Mirzani Djausal mendorong Universitas Lampung (Unila) menjadi motor
transformasi ekonomi daerah dengan mengembangkan inovasi dan hilirisasi
komoditas unggulan Lampung. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi penting
untuk mengubah kekayaan sumber daya alam daerah menjadi produk bernilai tambah.
"Unila ke depan setelah 61 tahun ini harus
bisa menjadi kampus, menjadi motor transformasi. Bagaimana ekonomi yang diputar
ini, yang diubah ini, motor transformasinya adalah Unila," ucap Gubernur
Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri Rapat Luar Biasa Senat Unila dalam
rangka Dies Natalis ke-61 di Gedung Serba Guna (GSG) Unila, Rabu (23/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Mirza
menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung ingin memperkuat keterhubungan
antara potensi pangan, industri, sumber daya manusia, dan perguruan tinggi. Ia
menilai Unila dapat mengambil peran melalui riset dan inovasi yang disesuaikan
dengan karakteristik daerah.
Baca Lainnya :
- Pemprov Lampung Dorong Pengembangan Potensi Desa Berorientasi Ekspor0
- Purnama Wulan Sari Mirza Satukan Langkah Dekranasda0
- Pemprov Dorong Program Perumahan jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi dan Lapangan Kerja0
- Gubernur Mirza Dorong Transformasi Samsat: Pelayanan Makin Mudah0
- Aktivitas Anak Krakatau Menurun, Status Turun dari Siaga ke Waspada0
Gubernur mengatakan Lampung memiliki kekuatan
utama pada sektor pangan dan pertanian. Provinsi ini memiliki sejumlah
komoditas unggulan seperti padi, jagung, singkong, nanas, pisang, lada, tebu,
kopi, kelapa, kakao, dan kelapa sawit.
Menurut Gubernur Mirza, sekitar 70 persen penduduk
Lampung bekerja pada sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Karena itu,
perubahan harga komoditas secara langsung memengaruhi kondisi ekonomi
masyarakat, termasuk daya beli dan tingkat kesejahteraan petani.
Gubernur menilai peningkatan harga komoditas
telah memberikan dampak terhadap daya beli masyarakat Lampung. Ia menyebut
pembelian sepeda motor secara tahunan meningkat 20 persen, sedangkan pembelian
mobil meningkat 40 persen pada 2026.
Namun, peningkatan harga komoditas dinilai
belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung secara maksimal.
Gubernur menyebut pertumbuhan ekonomi Lampung saat ini berada di angka 5,5
persen, sementara target yang ingin dicapai untuk mendukung Indonesia Emas
adalah pertumbuhan 8 persen.
Salah satu persoalan yang disebutnya masih
dihadapi Lampung adalah rendahnya tingkat hilirisasi. Dari sekitar Rp165
triliun nilai sektor primer, menurut Gubernur, baru sekitar 40 persen yang
telah dihilirisasi, sedangkan sekitar 65 persen lainnya masih dijual dalam bentuk
bahan mentah.
Karena itu, Pemprov Lampung ingin mendorong
hilirisasi dengan pendekatan yang menyesuaikan kebutuhan dan sumber daya
daerah. Gubernur menilai pengembangan industri tidak harus selalu mengandalkan
teknologi dari luar, tetapi dapat dikembangkan bersama sumber daya manusia dan
perguruan tinggi di Lampung.
"Enggak banyak anak Unila yang terlibat
hilirisasi tebu menjadi gula. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat
hilirisasi jagung jadi pakan. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi
dari singkong jadi tapioka, jadi glukosa, jadi sorbitol dan lain-lain,"
ujar Gubernur.
Ia mengatakan hilirisasi diarahkan untuk
memberikan nilai tambah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk
turunan komoditas yang masih diimpor. Gubernur mencontohkan tapioka yang
dikirim ke luar negeri, sementara sejumlah produk turunannya seperti glukosa
masih didatangkan dari luar.
Dalam konteks itu, Gubernur Mirza meminta Unila
memperkuat peran sebagai pusat inovasi dan pengembangan teknologi yang sesuai
dengan karakter Lampung. Pemprov Lampung juga berharap kerja sama dengan Unila
dapat menghasilkan teknologi industri, tenaga kerja, dan model hilirisasi yang
dapat diterapkan pada komoditas daerah.
Salah satu kerja sama yang didorong adalah
pengembangan National Cassava Center. Gubernur menyebut produktivitas sejumlah
komoditas Lampung masih memiliki ruang peningkatan, termasuk padi yang saat ini
sekitar 6 ton per hektare dari potensi 10 ton, jagung sekitar 5 ton dari
potensi 10 ton, dan singkong sekitar 25 ton dari potensi 40 hingga 60 ton.
Khusus singkong, Gubernur mengatakan Lampung
memiliki posisi strategis karena sekitar 70 persen produksi tapioka Indonesia
berasal dari daerah ini. Namun, produktivitas singkong Lampung masih di bawah
25 ton, sedangkan negara lain telah mencapai lebih dari 40 ton.
Pemprov Lampung bersama Unila menargetkan
pengembangan bibit unggul singkong pada tahun depan. Selanjutnya, pada 2027
produktivitas singkong ditargetkan meningkat dua kali lipat, dengan sasaran
produksi tapioka Indonesia dapat menjadi yang terbesar di dunia.
Gubernur mengatakan peningkatan produktivitas
singkong akan berdampak langsung kepada masyarakat karena hampir 500.000
penduduk Lampung menggantungkan aktivitas ekonominya pada komoditas tersebut.
Peningkatan produksi juga diharapkan membuka peluang pengembangan produk
turunan seperti glukosa dan maltosa sekaligus mengurangi impor.
Selain hilirisasi, Gubernur Mirza menekankan
pentingnya penguatan sumber daya manusia. Ia menyebut generasi Z dan post-Gen Z
mencapai 42,77 persen atau hampir 5 juta orang di Lampung, sehingga kelompok
tersebut dinilai menjadi salah satu kekuatan penting dalam pembangunan ekonomi
daerah ke depan.
Karena itu, transformasi ekonomi yang
melibatkan Unila diharapkan tidak berhenti pada pengembangan teknologi dan
produk. Kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi juga diarahkan untuk
meningkatkan kualitas SDM, menciptakan lapangan kerja formal, serta memastikan
potensi pangan Lampung memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi
masyarakat.
Pada Dies Natalis ke-61, Unila sendiri mengusung
semangat "Be Strong" yang diarahkan dari kampus yang kuat menuju
kampus yang berdampak. Rektor Unila Lusmeilia Afriani menyampaikan bahwa ukuran
keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya dilihat dari program dan capaian
kelembagaan, tetapi juga dari manfaat riset, inovasi, kebijakan, dan pengabdian
yang dirasakan masyarakat.
Kolaborasi tersebut
diharapkan memperkuat posisi Unila sebagai penghubung antara pengetahuan,
inovasi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan hilirisasi yang
berbasis komoditas lokal serta peningkatan produktivitas pertanian, kebijakan
tersebut diarahkan untuk menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja,
meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat perekonomian Lampung secara
berkelanjutan. [MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]










